
Selamat membaca!
Setelah menghabiskan waktu hingga sore hari, akhirnya kini aku sudah berada di rumah untuk bersiap karena sebentar lagi Delano akan datang menjemputku. Sejak tadi, aku masih termenung di depan sebuah cermin, menatap diriku dengan keraguan.
"Apa aku pantas mendampingi Delano? Saat ini, dia adalah seorang CEO muda, sementara aku ...." Entah kenapa sulit rasanya membuang keraguan itu, walau Delano pernah mengatakan padaku bahwa itu bukan masalah untuknya.
Di tengah keraguan yang tak kunjung hilang dari pikiranku, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar bersamaan dengan suara ibu yang memanggilku.
"Pasti Delano sudah datang." Aku pun beranjak dari posisi dudukku. Melangkah menuju pintu kamar untuk menemui ibuku.
"Iya, Bu. Aku sudah siap ini.".
"Kamu mau pergi sama Denis ya, Lissa?" Pertanyaan itu seketika membuat langkahku terhenti. Aku sangat terkejut saat mendengar perkataan ibu.
"Bukan Mas Denis, Bu. Lagi juga aku sudah lama sekali tidak bertemu dengannya. Terakhir kali saat di pemakaman Mira, 11 bulan lalu."
"Tapi, di bawah ada Denis. Dia datang bersama Keisha."
__ADS_1
Jujur aku terkejut akan kedatangannya. Sesuatu yang tidak pernah aku sangka padahal sejak kematian Mira dia seperti menghindar dari ibu dan juga aku. Walaupun dia tidak pernah membatasi kami bertemu dengan Keisha di rumahnya saat dia sedang bekerja.
"Mau apa ya dia datang sambil membawa Keisha? Apa dia mau menitip Keisha sama Ibu, tapi bukannya selama ini Mas Denis sudah mempekerjakan dua orang baby sitter untuk merawat putrinya."
"Entahlah, tapi menurut Ibu ada baiknya kamu temui dia dulu ya sebelum Delano datang!"
Aku pun sejenak berpikir. Sebenarnya aku merasa canggung jika harus kembali bertemu dengan Mas Denis. Terlebih kenangan saat di rumah sakit waktu itu semakin membuatku menjaga jarak darinya.
"Betul juga kata Ibu. Walaupun sebenarnya aku malas, tapi sepertinya aku harus tahu apa alasannya datang menemuiku," batinku yang akhirnya memutuskan, walau menurutku itu adalah keputusan berat untuk aku pilih.
"Bagaimana, Lissa? Kamu mau kan temui dia?" Ibu kembali bertanya saat melihatku hanya termenung tanpa menjawab apa yang ditanyakan.
"Tidak, aku tidak mau menemuinya, Bu."
"Kenapa, Lissa?" tanya ibuku masih menatapku yang tampak terdiam sebelum menuruni anak tangga.
"Aku takut kalau Mas Denis masih memaksaku untuk kembali padanya. Jadi, lebih baik Ibu aja yang nemuin dia."
__ADS_1
"Tapi dia mau bertemu sama kamu, Lissa. Tadi Ibu sudah sempat tanya ada urusan apa dia ke sini, tapi dia malah enggak jawab dan cuma bilang mau ketemu kamu."
Apa yang ibu katakan semakin menambah rasa penasaranku, hanya saja aku merasa enggan bertemu dengannya. Aku takut dia akan kembali melakukan hal nekat sekalipun ada ibuku.
"Bagaimana ya, Bu? Aku masih trauma kejadian waktu di rumah sakit. Lagi pula aku kan pernah cerita sama Ibu." Aku terus meyakinkan ibuku agar mau mengerti bahwa aku memang tidak ingin bertemu dengan Mas Denis saat ini.
"Kamu enggak boleh begitu, Lissa. Ibu pikir dengan kehilangan Mira, Denis pasti sudah banyak berubah. Buktinya aja waktu Ibu ke rumahnya, Inah sering cerita sama Ibu kalau Denis jarang keluar kamar saat libur bekerja. Denis juga kelihatan sangat sedih dan seperti kehilangan nafsu makannya. Ya, Ibu sih enggak tahu apa yang dia pikirkan, tapi Ibu rasa, Denis menyesal karena telah menyia-nyiakan Mira semasa hidupnya. Sebenarnya Ibu juga sempat marah dan merasa kecewa setelah tahu bagaimana rumah tangga mereka dari kamu, apalagi kamu juga tahu, kan? Hampir satu bulan Ibu enggak datang untuk jenguk Keisha karena Ibu malas bertemu dengan Denis. Hanya saja, Ibu ingat dengan pesan terakhir Mira yang disampaikan sama kamu. Jadi, ibu pikir kita tidak bisa memutuskan hubungan silaturahmi dengan Denis begitu saja selama masih ada Keisha."
Aku yang tak tadinya tetap bersikeras menolak untuk menemui Mas Denis, akhirnya mulai goyah. Ya, semakin aku memikirkan semua yang ibu katakan, aku jadi semakin mengerti bahwa semua itu memang benar. Saat ini, aku masih punya kewajiban untuk memenuhi permintaan terakhir dari Mira, walau aku memang tidak bisa kembali bersama Mas Denis, tetapi aku masih bisa menjaga Keisha sebagai keponakanku. Itu artinya, aku harus tetap menjaga hubungan baik dengan Mas Denis.
"Ya, Ibu benar ... sepertinya aku tidak ada pilihan lain. Ini bukan hanya demi Keisha, tapi juga demi janjiku pada Mira."
Jawabku seketika menimbulkan seulas senyuman dari kedua sudut bibir ibuku yang sejak tadi terus menunggu jawabanku dengan cemas.
"Syukurlah, Lissa. Semoga saja apa yang Ibu pikirkan tadi benar ya. Semoga Denis sudah berubah dan tidak lagi seperti dulu."
Setelah mengatakan itu, ibu langsung menuntun langkahku menuruni anak tangga. Semoga saja apa yang aku pilih tidaklah salah. Semoga aku benar kali ini.
__ADS_1
Bersambung ✍️