Wanita Pengganti Di Malam Pertama

Wanita Pengganti Di Malam Pertama
Rasa Gugup


__ADS_3

Selamat membaca!


Keesokan harinya, aku terbangun dengan suasana hati yang begitu bahagia. Bagaimana tidak, semalam Delano terus menggenggam tanganku dengan erat. Dia sama sekali tak melepaskannya, bahkan sampai aku tertidur lebih dulu darinya.


"Selamat pagi, No." Aku mengatakan itu saat kedua mataku mendapati Delano yang ternyata sudah terjaga lebih dulu dan kini tengah menatapku dari tempatnya duduk di sebuah sofa yang ada di ujung sana.


"Pagi juga, Sayang. Bagaimana keadaan kamu pagi ini?" Delano langsung beranjak dari posisi duduknya, lalu mendekatiku dan duduk di kursi tepat di sebelahku.


"Aku sudah jauh lebih baik, No."


"Syukurlah kalau begitu. Oh ya, ngomong-ngomong, nanti akan ada beberapa orang yang datang jenguk kamu. Kamu enggak apa-apa, kan?"


Raut wajahku seketika menegang. Aku benar-benar merasa tidak ingin dijenguk oleh siapa pun, apalagi hal yang menimpaku saat ini adalah sesuatu yang bisa jadi bahan olokan orang lain. Masuk rumah sakit karena tindakan bodoh dan mencoba mengakhiri hidup dengan pisau lipat kecil yang terdapat pada sebuah gunting kuku, itu bisa jadi bahan pergunjingan dan aku tentu tidak ingin jika Delano jadi merasa malu nantinya.


"No, aku enggak mau dijenguk siapa-siapa," jawabku yang sempat terdiam beberapa saat.

__ADS_1


"Kenapa, Sayang?" Delano bertanya dengan kedua alisnya yang saling bertaut. Dia pasti penasaran tentang alasanku saat ini.


"Itu karena ... aku malu, No." Sejujurnya aku tidak ingin menjawab pertanyaan Delano. Berharap tanpa aku mengatakannya, dia bisa mengerti apa yang aku pikirkan.


"Kalau kamu malu tentang hal itu, kamu enggak perlu memikirkannya karena aku sudah memberi tahu bahwa kamu bisa masuk rumah sakit bukan karena ingin bunuh diri, tetapi kamu jatuh sampai membuat tangan kamu terkilir."


"Serius, No, kamu sudah mengatakan itu ke mereka yang mau datang menjenguk aku?" Aku benar-benar kaget karena Delano sampai berbohong untuk menjaga nama baikku. Dia menyimpan rapat-rapat aib yang aku lakukan kemarin hingga membuatku merasa jauh lebih tenang saat ini.


"Iya, Sayang. Aku juga mengatakan bahwa kamu bisa jatuh karena saat ini kamu lagi hamil. Jadi, kamu enggak usah takut ya! Lagi pula enggak mungkin juga kalau aku sampai mengatakan pada mereka karena mau bagaimanapun, masalah rumah tangga kita tidak boleh sampai diketahui orang lain. Biar mereka hanya tahu kebahagiaan kita saja dan mereka tidak perlu tahu perjalanan kita menuju kebahagiaan itu sekalipun banyak masalah yang sempat kita hadapi."


Perkataan Delano bagaikan embun pagi yang menyejukkan hatiku. Rasa tenang itu seketika menciptakan seulas senyuman dari kedua sudut bibirku. Tak ada lagi resah yang sempat datang mengusikku.


***


Tiga jam berlalu dengan begitu cepat. Tepat pukul 10 pagi, aku mulai kedatangan beberapa teman-teman Delano yang silih berganti datang menjengukku. Mereka tak hanya datang membawa bingkisan buah, tetapi juga sebuah kado sebagai ucapan selamat atas kehamilan anak pertamaku. Aku benar-benar tidak menyangka jika mereka yang datang bisa begitu ramah padaku. Namun, saat Delano memberi tahu bahwa pemilik perusahaan akan datang beberapa saat lagi, rasa gugup tiba-tiba menyergapku. Membuat aku merasa tidak tenang karena harus berhadapan dengan pimpinan tempat di mana suamiku bekerja.

__ADS_1


"No, apa Pak Chandra itu orangnya baik?" Selepas kepergian beberapa karyawan dari ruanganku, aku pun langsung melontarkan pertanyaan itu.


"Kenapa, Sayang? Kamu enggak usah gugup begitu, Pak Chandra itu orangnya baik kok."


"Aku sudah coba biasa saja, tapi tetap saja enggak bisa. Aku cuma takut karena dia adalah pimpinan kamu. Bagaimana kalau dia tahu kalau aku adalah mantan narapidana?" Tiba-tiba pertanyaan bodoh itu terlontar dari mulutku. Membuat Delano seketika langsung menjawab dengan tegas bahwa kemungkinan itu tidak akan terjadi.


"Kamu tenang saja. Aku tidak pernah sekalipun membahas tentang kamu di kantor, apalagi masa lalu kamu. Jadi, aku pikir, tidak akan ada yang tahu tentang semua itu. Lagi pula kasus yang menimpa kamu saat di persidangan tidak ada satu media pun yang meliputnya. Sekarang kamu enggak usah mikir yang macam-macam lagi ya!"


Di saat Delano masih coba menenangkanku, tiba-tiba suara ketukan pintu berbunyi. "Nah, itu Pak Chandra sudah datang. Sebentar ya, Sayang, aku temuin dia dulu."


"Iya, No," jawabku, lalu tersenyum pada Delano yang kemudian mulai melangkah menuju pintu ruangan. Namun, di saat Delano membukakan pintu, suara yang terdengar dari depan pintu seketika membuat aku tercekat kaget. Ya, suara dari pria yang kemarin baru saja menolongku.


"Kenapa yang datang malah Fadhly?" tanyaku penasaran. Jujur saja, sebenarnya aku tidak ingin lagi bertemu dengannya, terlebih setelah apa yang menimpaku kemarin.


Bersambung ✍️

__ADS_1


...Baca juga sebuah novel yang menceritakan perjuangan seorang wanita dengan kehamilannya akibat hubungan satu malam yang sebenarnya tidak ingin dilaluinya. Judulnya, One Night Destiny....



__ADS_2