Wanita Pengganti Di Malam Pertama

Wanita Pengganti Di Malam Pertama
Memikirkan Rencana


__ADS_3

Selamat membaca!


Setelah terdiam beberapa saat, Mas Denis kembali mengatakan sesuatu yang sungguh membuatku terkejut.


"Oh ya, Sayang, tadi aku sudah transfer uang 30 juta ke rekening kamu dan itu untuk keperluan ibu bulan ini, tetapi aku terlambat kasih tahu kamunya ya, ternyata kamu malah sudah pulang dari rumah ibu."


"Ya ampun, Mas. Kenapa banyak banget sih transfernya? Padahal kamu tidak perlu repot-repot, karena aku tiap bulan selalu kasih ibu kok."


"Ya sudah anggap saja itu untuk menggantikan uang kamu yang terpakai setelah bertemu dengan ibu tadi. Sayang, setelah aku pikir-pikir, ada baiknya kamu tetap mempekerjakan orang untuk membantu Mira merawat ibu, itu akan membuatnya jadi punya banyak waktu untuk fokus pada kuliahnya. Ya, setidaknya sampai dia lulus, apalagi dia itu masih muda, kasihan kalau enggak punya waktu senggang untuk bergaul sama teman-teman seusianya. Kamu bilang sama Mira ya, aku akan membayar gaji orang yang nanti akan menjaga ibu setiap bulannya. Kalau perlu aku transfer uangnya sekarang juga ke rekeningnya."

__ADS_1


Entah kenapa aku merasa cemburu mendengar suamiku begitu perhatian pada Almira. Bahkan Mas Denis sampai mengkhawatirkan adikku tidak punya waktu untuk bergaul dengan teman-temannya. Seketika aku merasa takut jika suatu hari nanti Mas Denis mengetahui semua kebohonganku. Aku tidak siap untuk kehilangannya, aku juga tidak ingin dibenci olehnya dan yang lebih membuatku takut adalah jika Mas Denis akhirnya akan menikahi Almira begitu tahu tentang kehamilan adik kembarku. 


"Kamu tidak perlu khawatir, Mas. Jangan terlalu berlebihan memikirkan tentang Mira! Aku akan membicarakan soal ini padanya setelah sampai di rumah ya. Nanti aku akan menyampaikan semua yang kamu bilang tadi. Lebih baik sekarang kamu selesaikan dulu pekerjaan kamu supaya bisa cepat pulang ke rumah. Aku kangen kamu, Mas!" ucapku dengan nada merengek. Aku ingin bersikap manja agar fokus Mas Denis hanya tertuju padaku dan tidak lagi memikirkan Almira.


"Ya sudah kalau begitu, aku akan segera menyelesaikan pekerjaanku di kantor supaya bisa bertemu kamu di rumah. Aku juga kangen sama kamu. Pokoknya tunggu aku pulang ya, Sayang." Mas Denis menjawabnya dengan lembut, membuat hatiku lebih tenang dari sebelumnya.


"Kalau begitu aku tutup dulu ya teleponnya, biar kamu bisa fokus kerjanya." Pamitku yang tidak ingin mengganggu suamiku selama dia bekerja. 


Setelah panggilan video itu terputus, aku dengan cepat membuka aplikasi m-banking dan benar saja, ada uang masuk sebesar tiga puluh juta rupiah dari rekening Mas Denis. Kebahagiaanku rasanya sempurna karena menjadi istri Mas Denis. Dia tidak hanya memberikanku cinta dan kasih sayang, tetapi juga menghujaniku dengan materi yang berlimpah. Mas Denis sangat memanjakanku secara lahir dan batin. 

__ADS_1


"Aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun merusak kebahagiaanku, termasuk Mira! Dia pikir dia bisa dengan mudah merebut Mas Denis dari hidupku dan menghancurkan kebahagiaanku hanya karena dia hamil? Jangan mimpi kamu, Mira!" batinku sambil menyimpan ponselku dalam tas saat taksi yang aku tumpangi berhenti tepat di pelataran rumahku.


Tanpa membuang waktu, aku pun segera keluar dari taksi setelah membayar ongkos perjalananku. Setidaknya kiriman uang dari Mas Denis mampu mengembalikan mood-ku yang hancur setelah bertemu dengan Almira. 


Beberapa saat kemudian aku tiba di dalam kamar. Setelah meletakkan tas dan melepaskan sepatu, aku buru-buru merebahkan tubuhku yang lelah di atas ranjang. Ketika aku menatap langit-langit kamar, tiba-tiba saja aku kembali teringat dengan ancaman Almira yang mengatakan jika dia hanya memberiku waktu satu Minggu untuk memberi tahu Mas Denis tentang kehamilannya. Ingatan itu membuatku merasa gelisah dan tidak tenang. 


"Mira, kamu benar-benar membuatku pusing! Kenapa kamu harus menolak tawaranku? Kamu tidak akan bisa menukar janinmu dengan kebahagiaanku! Susah payah aku berjuang untuk sampai di titik ini. Titik di mana apa yang aku mau bisa aku dapatkan dengan mudah setelah menjadi istri Mas Denis!" ucapku mulai memutar otakku dengan keras. Memikirkan sebuah rencana agar ancaman Almira tidak terjadi dan menghancurkan pernikahanku.


Lelah raga dan pikiran membuat kepalaku berdenyut hingga terasa pening. Aku pun mengambil sebutir obat pereda nyeri kepala. Meminumnya, lalu kembali merebahkan tubuhku di permukaan ranjang tanpa mengganti pakaian. Dalam sekejap aku pun terlelap dalam tidurku.

__ADS_1


Bersambung ✍️


__ADS_2