Wanita Pengganti Di Malam Pertama

Wanita Pengganti Di Malam Pertama
Rencana Kejutan


__ADS_3

Selamat membaca!


Keesokan paginya, tepat pukul 11 siang, aku berencana mengajak Keisha datang untuk membawakan makan siang ke perusahaan tempat di mana Delano bekerja. Aku memang sudah menyiapkannya setelah berkutat di dapur selama satu setengah jam. Selain itu, aku juga membawa sebuah kado kecil yang menurutku pasti akan membuat suamiku bahagia saat melihatnya.


"Semoga kejutan ini bisa membuatnya bahagia. Akhirnya apa yang kami nantikan selama ini bisa terwujud di tahun kedua pernikahan kami." Selesai memasukkan tempat makan yang sudah aku susun rapi ke dalam sebuah paper bag, aku pun langsung bergegas menuju kamar untuk mengganti pakaian. Namun, di saat aku baru saja akan menaiki anak tangga, suara panggilan dari ibuku terdengar mengejutkan.


"Ibu ... kok datang enggak ngabarin dulu," ucapku saat melihat ibu datang ke rumahku. Ya, begitulah ibu, dia memang tidak pernah mengetuk pintu dan langsung masuk saja karena tahu kebiasaanku yang tidak pernah mengunci pintu rumah di pagi sampai sore hari.


"Habis Ibu kangen sama cucu Ibu. Keisha mana?" tanya ibu saat sudah tiba di hadapanku yang seketika menghentikan langkah kakiku tepat di depan anak tangga.

__ADS_1


"Keisha ada di kamarnya, tadinya aku mau ngajak dia ke kantor Delano."


"Yah, maaf ya Ibu jadi ganggu kamu dong." Raut wajah ibu yang sudah kelihatan keriput itu tampak sendu, mungkin ibu merasa bersalah karena telah menggagalkan rencanaku untuk mengajak Keisha pergi. Lagi pula tidak mungkin jika aku tetap mengajaknya, sementara ada ibu di rumah ingin bertemu dengan Keisha.


"Enggak apa-apa, Bu. Aku kan bisa ngajak Keisya lain kali. Ya sudah, Ibu ke atas aja. Biasanya jam segini dia lagi mewarnai gambar di kamarnya."


"Makasih ya, Lissa." Ibu pun tersenyum sambil mengusap lenganku sebelum melewatiku untuk menaiki anak tangga.


"Iya enggak usah khawatir, ada Ibu yang akan jaga Keisya selama kamu pergi. Oh ya, tapi kamu hati-hati ya!"

__ADS_1


"Iya, Bu. Ibu tenang saja. Aku siap-siap dulu ya, Bu." Setibanya di lantai dua rumahku, ibu pun melangkah ke sisi kiriku sementara aku menuju kamarku yang berada di sebelah kanan.


Setelah masuk ke dalam kamar, tiba-tiba aku teringat sesuatu yang ternyata aku lupakan. Ya, aku lupa memberi tahu ibu tentang hal yang menurutku pasti akan membuatnya bahagia sama seperti yang aku pikirkan saat Delano mengetahuinya nanti.


"Harusnya aku memberi tahu ibu dulu tentang hal ini, tapi nanti aja deh setelah aku ganti pakaian."


Tak butuh waktu lama, aku pun sudah terlihat cantik dengan rok plisket di bawah lutut yang aku padupadankan dengan kemeja lengan panjang berwarna putih. Aku pikir apa yang aku kenakan saat ini sudah cukup pantas untuk aku datang ke kantor di mana suamiku menjabat sebagai seorang CEO di perusahaan tersebut.


"De, kita ketemu Papa dulu yuk! Maaf ya, tadi pagi Mama enggak sempat ngasih tahu Papa. Jadi, daripada kita menunggunya pulang sampai sore, lebih baik kita saja yang datang ke kantornya ya, De. Kamu pasti sudah enggak sabar kan mau diusap-usap sama Papa?" Aku coba berinteraksi pada sesuatu yang baru aku ketahui pagi ini hidup di dalam perutku. Sesuatu yang memang selalu aku impikan bersama Delano. Namun, selama dua tahun ini, kami tetap sabar menunggu hingga akhirnya penantian panjang itu berbuah manis. "Terima kasih, Tuhan. Semoga kehamilanku ini akan semakin menyempurnakan kebahagiaan keluarga kecilku," ucapku dengan senyum merekah yang begitu memperlihatkan betapa bahagianya aku saat ini.

__ADS_1


Bersambung ✍️


...Selamat sore, Bestie. Jangan lupa berikan gift kalian untuk novel ini ya. Terima kasih karena sudah mengikuti sampai sejauh ini....


__ADS_2