
Selamat membaca!
Sepanjang perjalanan tidak ada satu pun di antara kami yang memulai pembicaraan. Suasana jadi begitu hening di dalam mobil hanya terdengar suara halus hembusan udara dari air conditioner.
Mas Denis hanya menatap lurus ke depan, sementara aku memandang jauh keluar jendela. Walaupun masih memikirkan apa yang akan disampaikannya, tetapi aku mulai menikmati pemandangan yang selama ini tidak bisa aku lihat selama berada dalam penjara. "Tuhan, betapa indahnya kebebasan. Betapa segarnya udara yang tadi aku hirup di luar penjara. Terima kasih telah memberikan aku kesempatan untuk bisa memperbaiki hidupku." Aku terus mengucap syukur dalam hati. Sejenak menepikan segala rasa penasaran tentang apa yang sebenarnya ingin Mas Denis bicarakan.
Setelah sejak tadi terus bertanya-tanya dalam hati ke mana Mas Denis akan membawaku, akhirnya dia menghentikan mobil yang dikendarainya. Aku pun mulai melihat sebuah cafe minimalis yang letaknya tidak terlalu jauh dari lapas tempatku di penjara. "Apa maksudnya dia membawaku ke sini? Ya Tuhan, aku benar-benar tidak ingin membuat Mira sampai cemburu seandainya dia tahu Mas Denis membawaku ke cafe ini atau mungkinkah Mira sudah menungguku di dalam?" batinku semakin penasaran dengan berjuta tanda tanya yang sudah memenuhi pikiranku. Namun, aku masih menahan diri untuk bertanya dan mulai mengikuti langkah Mas Denis setelah keluar dari mobil.
Setibanya di dalam cafe, ternyata aku tidak menemukan Almira di sana. Saat ini, Mas Denis memilih tempat duduk yang agak lebih ke dalam.
Setelah aku memilih tempat duduk tepat di seberangnya, dengan tidak sabar aku pun mulai bertanya, "Mas, apa maksudmu membawaku ke cafe ini? Kalau memang ada yang mau disampaikan, sebaiknya cepat katakan saja! Aku tidak ingin berada di sini lama-lama denganmu." Aku mengatakan itu sambil mendekap kedua tangan di depan dada dan bicara begitu tegas padanya.
__ADS_1
"Tenanglah dulu, Lissa! Aku akan sampaikan semua setelah memesan minuman dulu untuk kita. Lagi pula tidak mungkin aku membicarakan ini di jalanan seperti tadi."
Aku lihat Mas Denis mengembuskan napas dengan kasar. Aku merasa sepertinya dia juga merasa tidak nyaman dengan pertemuan ini sama seperti aku. Lebih tepatnya, antara aku dan Mas Denis benar-benar merasa canggung sampai dia tidak berani menatap wajahku seperti ragu untuk mengatakan apa yang ingin disampaikannya.
"Aneh, sebenarnya apa yang mau dibicarakan Mas Denis? Kenapa dia terlihat sangat ragu seperti ini?" gumamku masih menatap Mas Denis penuh selidik.
Tanpa bisa melakukan apa-apa, akhirnya aku hanya pasrah dan menunggu. Aku pun duduk dengan gelisah saat Mas Denis memanggil seorang pelayan untuk mencatat pesanan kami. Jujur saja, saat ini aku merasa bersalah karena hanya berdua dengan seorang pria yang sudah menjadi suami dari adik kembarku sendiri. Mungkin awal-awal menjalani hukuman penjara, aku masih memikirkan bagaimana caranya agar bisa kembali merebut Mas Denis dari Almira. Merebut apa yang seharusnya jadi milikku. Namun, kali ini berbeda. Tidak sedikit pun terbesit dalam pikiranku untuk kembali merebut Mas Denis dari Almira. Ya, 4 tahun di dalam penjara membuat pikiranku jadi terbuka. Aku benar-benar berubah dan merasa sudah sangat ikhlas melepas Mas Denis untuk Almira. Bahkan seperti yang pernah aku katakan sebelumnya bahwa aku juga sering mendoakan kebahagiaan adik kembarku bersama Mas Denis.
"Sepertinya kamu sudah enggak sabaran ya. Kenapa kamu jadi kelihatannya gelisah sekali?" Mas Denis mulai menatapku dan dari sorot matanya, entah kenapa aku seperti melihat ada kesedihan yang begitu mendalam. Namun, sulit rasanya menebak kesedihan apa yang dialaminya.
"Kenapa aku seperti merasa jika Mas Denis sedang ...." Terbesit sejenak dugaan itu. Namun, dengan cepat aku meralatnya. "Tidak mungkin. Kenapa dia harus merasa sedih? Harusnya dia itu bahagia karena akhirnya bisa menjadi seorang ayah. Bukankah dari dulu, itu adalah impiannya. Bahkan dia sangat marah saat mengetahui bahwa aku yang menyebabkan Mira keguguran. Ya, walau sebenarnya itu bukanlah anaknya," sambungku berucap di dalam hati.
__ADS_1
"Kenapa kamu malah diam?" Mas Denis memanggilku di saat aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri.
"Enggak apa-apa, Mas. Cepat katakan saja apa yang mau kamu bicarakan! Soalnya aku merasa duduk di sini berdua sama kamu adalah suatu kesalahan. Kamu jangan lupa status kita sekarang sudah berbeda. Aku ini adalah kakak iparmu. Jadi, menurutku tidak sepantasnya kita berdua seperti ini. Bagaimana jika sampai ada teman Mira yang melihatnya? Atau rekan kerja kamu?" Tanpa menahan diri lagi, aku mengungkapkan apa yang sejak tadi begitu mengganggu dalam pikiranku. Berharap Mas Denis bisa mengerti dan segera mengatakan apa yang ingin disampaikannya. Aku tidak ingin dia menunda lagi dan itu malah akan membuatku jadi semakin lama pergi dari hadapannya.
Berkali-kali kulihat Mas Denis menarik dan mengembuskan nafas panjang seolah ingin melepaskan beban dalam dirinya. Membuatku benar-benar bingung dengan keterdiamannya.
"Sebenarnya ada apa denganmu, Mas? Sejak tadi aku melihat kamu begitu gelisah. Apa ada masalah dengan rumah tanggamu? Kamu dan Mira sedang bertengkar ya?" Aku pun memberondongnya dengan beberapa pertanyaan.
Sampai akhirnya, sambil menatapku dia pun mulai membuka mulutnya dan mulai bicara. "Mira meninggalkan aku, Lissa."
Aku terperanjat begitu kaget mendengar ucapannya. Bagaimana mungkin Almira meninggalkan Mas Denis? Apalagi selama ini, Almira begitu berjuang untuk merebut Mas Denis dari aku. Jadi, aku pikir sangat tidak mungkin jika dia melepas Mas Denis begitu saja. Terlebih aku tahu bahwa adik kembarku itu adalah wanita yang baik dan tidak mungkin sampai mengkhianati suaminya.
__ADS_1
Bersambung ✍️