
Selamat membaca!
Ada rasanya tidak ikhlas di hatiku jika mengingat semua itu, tetapi aku sadar jika semua ini adalah kesalahanku. Seandainya aku tidak berkorban demi keluargaku dan menjaga keperawananku sampai bertemu Mas Denis, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi.
Mendengar pertanyaanku yang begitu menohok, Almira tampak tercekat hingga raut wajahnya berubah kesal. Dia berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu mengabaikan pertanyaanku.
"Jawab, Mira! Bagaimana caramu mendesah dan berteriak keenakan, bahkan sampai meminta lebih saat Mas Denis melakukan permainan di bagian sensitifmu?" Aku mencecar Almira dengan pertanyaan seputar malam pertama itu setelah mendapati adik kembarku hanya diam tanpa mengatakan apa-apa.
Almira seketika membalikkan tubuhnya setelah sebelumnya membelakangiku. Lalu, kedua matanya yang mirip denganku itu mulai menatap tajam dengan membulat sempurna. "Tidak penting untuk aku menjawab pertanyaanmu itu, Kak!"
Rahang wajahnya mengeras, dia mengatakan itu dengan penuh penekanan dan itu berhasil membuat emosiku naik karena merasa diabaikan. Aku pun melangkah, mendekatinya, lalu menjepit dagunya dengan jemariku. "Gaya apa saja yang Mas Denis lakukan saat malam pertama itu? Bagaimana ******* dan teriakan kamu saat itu? Jawab aku, Mira! Jawab!"
Aku menatap tajam manik matanya, rahangku mengeras karena jujur saat ini amarah sudah benar-benar menguasai diriku. Namun bukan menjawab apa yang aku tanyakan, Almira malah menarik dan melepaskan tanganku dari dagunya dan tiba-tiba dia mendorongku hingga membuatku mundur beberapa langkah ke belakang.
"Jangan keterlaluan, Kak! Aku sudah menuruti semua keinginanmu dan sekarang, tolong jangan paksa aku untuk menceritakan hal paling menjijikan dalam hidupku." Almira mengacungkan telunjuk tepat di depan wajahku sambil melotot dan menekan setiap kalimat yang diucapkannya.
Seketika bulu-bulu halus pada tubuhku meremang saat melihat ekspresi wajah Almira yang tampak bengis. Namun, jangan panggil namaku Alissa jika aku sampai kalah dari wanita yang hidup dan kuliahnya telah aku biayai, bahkan perawatan wajahnya juga aku yang menanggungnya.
__ADS_1
"Menjijikan? Apa aku enggak salah dengar! Bukankah kamu sangat menikmatinya? Mas Denis mengatakan bahwa saat itu aku menikmati permainannya, itu artinya kamulah orang yang menikmatinya dan sampai meminta Mas Denis melakukan berulang kali! Jangan munafik kamu, Mira!" Aku menyerang Almira dengan beragam pertanyaan seputar kejadian yang mungkin membuatnya senang bisa menggantikanku, bahkan perkataan Mas Denis semalam masih terngiang-ngiang jelas di telingaku hingga detik ini.
"Ingat, Mira! Kamu tidak memberikan keperawananmu pada Mas Denis dengan gratis karena seluruh biaya hidupmu sampai hari ini seluruhnya dari aku. Jadi, tolong jangan berani kurang ajar padaku!" Aku berdiri angkuh tak jauh dari posisi Almira berdiri merapikan barang bawaannya.
Alih-alih merespon ucapanku, Almira malah berjalan ke arah pintu, dia seperti hendak keluar dari ruang rawatnya seorang diri dan tak menggubris semua amarahku.
"Hai, mau ke mana kamu?" Aku berteriak saat Almira hampir menyentuh handle pintu.
"Aku mau pulang! Bisa gila aku lama-lama mendengar semua perkataan Kakak yang memuakkan itu!" Almira kemudian melangkah keluar tanpa menoleh lagi ke belakang setelah pintu terbuka.
Aku pun menatapnya kesal saat melihatnya berani meninggalkanku yang masih bicara padanya.
Dengan berdecih kesal, aku pun langsung mengejar Almira yang keluar lebih dulu. Enak saja dia pergi begitu saja dan mengabaikan semua pertanyaanku. Almira benar-benar gesit, walau masih sakit, tetapi nyatanya dia sudah lebih dulu masuk ke dalam lift tanpa menungguku. Bahkan aku baru berhasil menyusulnya saat sudah berada di luar rumah sakit. Ya, aku melihat Almira kini sudah berada di seberang jalan dan baru saja memberhentikan taksi.
"Mira! Tunggu!" Aku berusaha mengejarnya sambil berteriak keras. Berharap dia mendengarku di tengah kebisingan jalan raya yang penuh sesak kendaraan. Namun, aku terlambat karena taksi yang dinaiki malah pergi tanpa menungguku.
"Sial, bahkan sekarang dia berani meninggalkanku yang sudah capek-capek datang ke rumah sakit untuk menjemputnya. Awas saja kamu, Mira!"
__ADS_1
Aku mengembuskan napas dengan kasar dengan amarah yang sudah memenuhi isi kepalaku. Panas mentari yang terik membuat emosiku kian memuncak. Aku pun segera menghampiri taksi online yang tadi aku minta untuk menunggu di parkiran samping lobi rumah sakit. Lalu aku langsung menyuruhnya untuk melajukan kendaraannya menuju rumah ibuku.
Sepanjang jalan aku hanya bisa menggerutu kesal dan memaki Almira di dalam hati, "Bisa-bisanya dia mengabaikan semua pertanyaanku, bahkan dia juga meninggalkanku pulang dengan taksi lain!"
Aku mengabaikan sopir yang aku lihat sesekali memperhatikanku dari kaca spion tengah dengan wajah bingung.
"Pak, lebih cepat lagi jalannya!" titahku tanpa memedulikan dia setuju atau tidak.
Mendengar nada suaraku yang ketus, sopir itu pun menganggukkan kepala dan menginjak pedal mobilnya dalam-dalam.
Setelah beberapa menit kemudian, taksi biru yang ditumpangi Almira baru saja berhenti di pinggir jalan di depan rumah ibuku. Sementara taksi online yang aku tumpangi berhenti tepat di belakangnya dan itu hanya selisih beberapa detik pun. Merasa masih sempat bicara dengan Almira sebelum dia masuk ke dalam rumah, aku segera turun setelah membayar taksi yang aku naiki tanpa meminta kembalian.
"Mira tunggu!" Setelah tiba satu langkah di belakangnya, aku langsung menggenggam pergelangan tangannya dan memaksa dia untuk jalan bersama ketika masuk ke rumah ibu.
"Jangan sekali-kali lagi kamu berani mengabaikanku Mira atau kamu akan tahu sendiri akibatnya!" Aku berbisik di samping telinganya dan menatapnya dengan begitu tajam. Jujur aku sengaja melakukan ini agar dia tahu, siapa yang berkuasa di keluarga kami dan harus dipatuhi perintahnya.
Almira pun menatapku dengan raut wajahnya yang kesal. Mungkin dia marah karena tidak bisa melawanku, apalagi setiap aku mengancam dia selalu tidak berkutik hingga tidak bisa melakukan apa-apa.
__ADS_1
"Terserah kamu saja, Kak. Orang yang berduit memang selalu bertindak semaunya tanpa memikirkan perasaan orang lain!" Dia menarik tangannya dengan kasar sampai terlepas dari genggamanku dan bersamaan dengan itu pintu rumahku terbuka dari dalam.
Bersambung ✍️