
Selamat membaca!
Setibanya aku di rumah, Inah langsung meyambutku di depan pintu saat aku pulang. "Bu, tadi bapak telepon dan nanyain Ibu." Lapornya padaku di saat aku baru tiba di rumah.
Aku menatap wanita paruh baya itu dengan tajam. "Lalu Mbak bilang apa?" tanyaku menelisik kejujuran di matanya.
"Seperti pesan Ibu tadi pagi, saya bilang Ibu sedang tidur di kamar." Inah kemudian tersenyum ramah karena mungkin dia merasa takut melihat sorot mataku yang dingin.
"Bagus. Terima kasih ya, Mbak!" Aku harus menghargai kepatuhannya atas segala perintahku. Kini setelah menepuk bahunya, aku pun kembali melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhenti menuju kamarku. Namun, baru saja kurebahkan tubuhku di atas ranjang, terdengar suara dering ponsel dari dalam tasku. Aku langsung mengambi benda pipih itu dengan cepat. Ternyata yang menghubungiku adalah Mas denis. Aku segera mengubah suaraku seperti orang baru bangun tidur.
"Halo, Mas. Hoam." Aku pura-pura menguap dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
"Kamu baru bangun ya, Sayang? Hari ini kamu tidak jadi jenguk Mira?" tanyanya dengan suara yang terdengar lembut.
__ADS_1
Aku memanyunkan bibir saat mendengar pertanyaan suamiku. Bisa-bisanya Mas Denis menghubungiku hanya untuk menanyakan Almira.
"Enggak, Mas. Aku masih capek hari ini gara-gara seharian kemarin ngurusin Mira. Lagian tadi Mira telepon katanya besok sudah boleh pulang. Biar besok aku yang jemput dia dan mengantarnya ke rumah." Aku mencebik kesal dengan raut wajah yang nyaris tanpa senyuman. Sungguh menyebalkan saat mendengar suamiku masih menaruh perhatian pada adik kembarku.
"Syukurlah kalau begitu. Oh ya, hari ini mungkin aku pulang agak telat, kemungkin aku sampai rumah malam. Soalnya ini masih ada beberapa proposal pengajuan kerja sama yang harus aku pelajari. Jadi, kamu tidak perlu menunggu aku pulang ya, Sayang!"
"Iya, Mas. Kamu jangan lupa makan ya! Jangan terlalu memaksakan diri untuk bekerja kalau kamu sudah lelah dan kalau urusanmu di kantor sudah selesai, cepat pulang ya!" Tidak lupa aku menyampaikan rasa perhatian dan cintaku pada Mas Denis karena walau terkadang aku merasa sebal setiap kali dia memberi perhatian pada Almira, tetap saja aku begitu mencintainya.
"Iya, Sayang. Kamu juga ya, jangan lupa makan dan minum susu! Kalau begitu aku lanjut kerja lagi ya, Sayang. Baik-baik di rumah, bye!" Mas Denis pun langsung mengakhiri panggilannya.
***
Dering alarm membangunkanku tepat pukul 6 sore. Setelah duduk sejenak di tepi ranjang menunggu kesadaranku pulih seutuhnya, aku melangkahkan kaki ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Butuh waktu yang cukup lama bagiku berada di dalam karena aku berendam di bathtub yang sudah aku ditetesi aroma terapi.
__ADS_1
Rasa nyaman dari air hangat dan harumnya aroma terapi yang menenangkan pikiranku, nyaris membuatku tertidur. Aku pun segera keluar dari bathtub, membilas tubuhku di bawah pancuran air shower yang kini tepat berada di atas kepalaku.
Selesai dengan semua aktivitasku di dalam kamar mandi, aku langsung membalut tubuhku dengan handuk hingga menutupi dadaku. Namun, tiba-tiba keadaan sekitarku berubah menjadi gelap gulita dan itu benar-benar membuatku terkejut setengah mati. Aku memang takut dengan kegelapan, terlebih di saat aku sendirian.
"Kok mati lampu? Apa jangan-jangan lampunya putus ya?" ucapku yang sedikit merasa takut karena aku tidak suka berada di tengah-tengah kegelapan.
Aku coba tetap memberanikan diri, meraba-raba setiap sisi dinding untuk mencari saklar lampu. Aku ingin memeriksa apakah listrik padam atahu lampu kamarku yang memang benar-benar putus. Namun, saat aku belum berhasil menemukannya tiba-tiba sepasang tangan kekar mendekap tubuhku dari belakang.
"Aaaaaaa!" Aku terkejut hingga membuatku sampai berteriak dengan begitu histeris. Namun, seketika rasa takutku sirna saat aku mencium aroma parfum dari pria yang mendekapku terhirup oleh indera penciumanku. Tentu saja aku hafal dengan wangi tubuhnya.
"Mas Denis? Ih, kamu ngagetin aku tahu enggak! Kalau aku mati karena jantungan gara-gara kamu kagetin kayak tadi bagaimana coba?" tanyaku dengan kesal sambil meninju lengan kekarnya.
Mas Denis pun tak menggubris protes yang aku lancarkan. Ia hanya berbisik sangat dekat di telingaku, sesuatu yang membuatku begitu tercengang hingga rasa gugup seketika menyergapku tiba-tiba.
__ADS_1
"Sekarang ayo kita ulang malam pertama kita, Sayang!" bisiknya hingga membuat bulu kudukku jadi meremang.
Bersambung ✍️