
Selamat membaca!
Setibanya di kamar Keisha, aku lihat Mas Denis sudah berusaha menenangkan putrinya agar tak lagi menangis. Namun, sepertinya dia begitu kesulitan karena Keisha tetap menangis dan malah semakin terisak.
"Mas, sini biar aku saja yang gendong." Di saat aku baru mengatakan itu, Keisha langsung menoleh. Dia melihatku dengan suara tangisan yang mulai mereda. Mungkinkah dia menganggap aku adalah ibunya karena memang wajahku dengan Almira sangatlah mirip.
"Sayang, jangan nangis ya!" Aku mulai menggendongnya. Menimang-nimang dengan perlahan dan coba menenangkan Keisha dalam pelukanku.
Dalam sekejap suara tangisan Keisha mereda. Dia bahkan mulai tersenyum dan berceloteh sambil menyentuh wajahku. Hal itu seketika membuat hatiku tersentuh. "Beginikah rasanya menjadi seorang ibu?" batinku seperti merasa ada getaran yang sulit aku pahami. Mungkinkah ada ikatan batin antara aku dan Keisha? Apalagi dia adalah keponakanku, anak dari Almira.
"Terima kasih ya, Lissa." Mas Denis mengatakan itu. Raut wajahnya mulai terlihat tenang karena aku mampu menangani Keisha dengan baik.
"Tidak perlu terima kasih, Mas. Lagi pula dia juga keponakanku," ucapku masih terus menimang-nimang Keisha yang mulai memejamkan matanya.
Sampai akhirnya, aku teringat akan seseorang yang selama di penjara begitu aku rindukan. Namun, sejak tadi aku tidak melihatnya ada di rumah ini.
"Mas, ngomong-ngomong ibuku ke mana ya? Dia masih tinggal di sini, kan?" tanyaku karena memang ingin bersimpuh di hadapannya. Aku ingin meminta maaf atas semua kesalahanku pada ibu karena sudah mengecewakannya.
"Ibu sudah kembali ke rumahnya, Lissa. Aku sudah membangun kembali rumah yang dulu terbakar."
__ADS_1
Aku tidak terlalu terkejut dengan semua perkataan Mas Denis karena aku sudah punya firasat jika memang ibu tidak ada di rumah ini. Kalaupun ada pastinya sejak tadi aku sudah melihatnya.
"Apa kamu mau mengantar aku ke rumah ibu, Mas?"
"Tapi, bagaimana dengan Keisha? Kalau dia tiba-tiba terbangun lagi dan menangis seperti tadi pasti Inah tidak akan bisa menenangkannya."
"Kalau begitu kita ajak saja Keisha." Aku pun memberikan usulan pada Mas Denis yang langsung disepakatinya.
"Baiklah."
Tanpa menunggu lama, Mas Denis pun langsung menyiapkan segala perlengkapan Keisha ke dalam sebuah tas bayi. Sementara aku masih terus menimang-nimang Keisha yang sudah terlelap dalam dekapanku.
Sepanjang perjalanan, Keisha masih terlelap. Bahkan di saat kami tiba di rumah ibu. Sepertinya anak ini benar-benar menganggap aku sebagai ibunya hingga dia bisa merasa begitu nyaman dalam dekapanku.
Entah kenapa saat keluar dari mobil, jantungnya berdetak tak karuan. Jujur aku takut jika ibu tidak mau menerima permintaan maafku atau bahkan dia akan langsung mengusirku begitu melihatku.
"Lissa, kamu kenapa? Ayo!" Mas Denis memanggilku saat melihatku hanya terdiam di samping mobilnya tanpa beranjak sedikit pun.
Jujur saja, selain tiba-tiba merasa takut bertemu ibu, aku juga dibuat terkesan karena rumah yang sedang aku lihat ini sangat jauh berbeda dari yang sebelumnya. Mas Denis benar-benar menyulap rumah ibu menjadi rumah minimalis yang mewah.
__ADS_1
"Mas, terima kasih ya karena kamu sudah membangun rumah ibuku." Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Aku sangat bersyukur, setidaknya rumah peninggalan ayahku bisa kembali dibangun dan ibu bisa menempatinya lagi.
"Kamu tidak perlu terima kasih karena itu sudah tugas aku. Ibumu juga ibuku. Jadi, sudah sepantasnya aku membuatnya bahagia."
Aku tidak terkejut mendengar perkataan Mas Denis, begitulah dia. Dia memang pria yang sangat menyayangi keluargaku. Bahkan bisa aku katakan jika dia adalah menantu idaman setiap ibu-ibu yang memiliki anak perawan untuk dinikahkan.
Di saat aku masih termenung tanpa beranjak dari tempatku, pintu rumah ini terbuka dan sosok wanita paruh baya yang sudah sejak 4 tahun selalu aku rindukan tampak melihatku dengan kedua matanya yang sendu. Aku juga dapat melihat jika di tangannya sedang menggenggam selembar surat yang mungkin baru saja selesai dibacanya. Apa mungkin Almira baru pergi dari rumah ibu?
"Lissa ...."
Aku pun mulai melangkah perlahan demi perlahan setelah Mas Denis mengambil alih Keisha dari dekapanku. "Ibu, Lissa minta maaf ya." Tanpa menunda lagi, aku langsung bersimpuh tepat di kedua kaki ibuku. Mendekapnya dengan begitu erat dan ibu langsung mengangkat tubuhku agar aku kembali berdiri.
"Ibu sudah memaafkan kamu, Lissa." Ibu mendekap tubuhku dengan erat. Aku pun menangis dengan begitu terisak. Melepas kerinduan yang sudah lama terpendam dalam diriku.
"Lissa, tetap harus minta maaf, Bu. Maaf karena sudah mengecewakan, Ibu."
"Ibu juga minta maaf ya, Lissa. Maaf karena Ibu baru tahu dari Mira tentang semuanya. Maafkan Ibu juga karena tidak pernah sekalipun mengunjungi kamu di penjara."
Walaupun aku merasa kecewa, tetapi aku tetap mengerti bahwa hal itu memang wajar. Aku sadar bahwa aku sudah benar-benar mengecewakannya. Mulai dari menyembunyikan pekerjaanku dulu sebagai wanita simpanan pria hidung belang hingga saat aku memaksa Almira menggantikanku di malam pertama dan sampai menggugurkan kandungannya. Menurutku orang tua mana pun pasti akan sangat marah jika putrinya sampai melakukan itu dan aku sama sekali tidak menyalahkan ibu jika dia memang membenciku hingga sama sekali tak mengunjungiku di penjara.
__ADS_1
Bersambung ✍️