
Selamat membaca!
Setelah mengerahkan seluruh tenaga untuk mendorongnya, aku pun berhasil menghempaskan kedua tangan Mas Denis. Lalu, mendaratkan sebuah tamparan keras pada sebelah pipinya.
"Kamu harus ingat kalau aku adalah kakak iparmu!" Baru selesai aku mengatakan itu, tiba-tiba Delano datang. Dia melihatku sambil terus mendekat. Mungkinkah dia melihat semua kejadian tadi? Dan, sejak kapan dia berdiri di sana?
"Delano ...."
"Kamu enggak apa-apa, Lissa?" tanya Delano begitu menghampiriku. Sementara Mas Denis langsung melihatnya dengan sorot mata yang menajam.
"Aku enggak apa-apa, No." Setelah menangkup kedua lenganku sambil tersenyum lega, Delano pun melepasnya. Dia lalu melangkah mendekati Mas Denis yang sudah menjaga jaraknya saat ini.
"Aku tidak akan membiarkan kamu memaksa Lissa untuk menuruti keinginanmu! Sudah cukup dia menderita selama ini karena keegoisanmu."
__ADS_1
Aku melihat Mas Denis bukannya menyadari kesalahannya, tetapi dia malah mencengkram kerah kemeja Delano dengan keras. "Kamu enggak perlu ikut campur! Memangnya kamu siapanya, Lissa?"
Delano tak tinggal diam, dia menghempaskan tangan Mas Denis dengan keras. Sorot matanya tak kalah tajam, menatap Mas Denis penuh amarah. "Saat ini, aku memang bukan siapa-siapanya, tapi aku adalah satu-satunya orang yang selalu mendukungnya selama 4 tahun di penjara. Aku tidak pernah meninggalkannya, tidak seperti kamu yang seolah-olah melupakannya."
Entah kenapa aku melihat Mas Denis malah terkekeh mendengar perkataan Delano. Membuatku jadi penasaran tentang apa yang dipikirkannya. Mungkin dia tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Delano.
"Jangan bilang kamu tidak pernah meninggalkannya! Bukannya saat dia bebas, kamu tidak datang menjemputnya!"
Delano pun terdiam sejenak. Kulihat tangannya mengepal dengan erat. "Aku punya alasan sendiri untuk itu. Dan, orang kaya sepertimu tidak akan pernah mengerti apa itu sebuah perjuangan. Orang-orang seperti kamu yang sejak lahir sudah kaya raya, apa pernah merasakan penghinaan? Apa pernah kamu merasa dibuang karena kemiskinanmu? Sudah pasti tidak!"
Aku masih tak menyangka jika pembicaraan antara kedua pria yang ada di depanku, ternyata berakhir dengan keributan. Hal yang sebenarnya tidak pantas mereka lakukan di rumah sakit, di mana banyak pasien yang butuh ketenangan dan mungkin saja kondisinya buruk untuk mendengar mereka berdebat dan saling baku hantam. Benar saja, di ujung koridor sana, aku dapat melihat seorang paramedis dan dua orang suster tampak melangkah dengan setengah berlari ke arah kami.
"Mas Denis, Delano, sudah cukup! Jangan seperti ini!" Aku coba melerai keduanya lebih dulu. Bahkan sampai merelakan tubuhku jadi sasaran pukulan Mas Denis yang hampir saja mengenai Delano.
__ADS_1
Aku pun mengaduh saat pukulan itu ternyata terasa begitu menyakitkan di lenganku. "Kamu enggak apa-apa, Lissa?" tanya Delano dengan raut wajahnya yang cemas. Sementara Mas Denis hanya diam menatapku tanpa bicara apa-apa. Mungkin dia merasa bersalah karena tanpa sengaja telah memukulku karena tidak tahu aku tiba-tiba datang di depan Delano.
Dengan wajah yang penuh amarah, Mas Denis pergi begitu saja sambil berdecih kesal. Dia berlalu pergi tanpa sekalipun menoleh ke arahku. Melewati suster dan paramedis yang terus mendekati kami.
"Aku enggak apa-apa, No. Kamu sendiri bagaimana? Maaf ya karena aku, kamu jadi ribut sama Mas Denis."
"Enggak usah dipikirin. Sekarang yang terpenting kamu baik-baik saja."
Setelah suster dan paramedis datang ke hadapan kami, Delano pun langsung meminta maaf karena telah membuat keributan dan menjelaskan semua permasalahan yang terjadi. Sementara aku, masih tak habis pikir sambil terus mencerna setiap perkataan yang tadi Mas Denis katakan padaku. Dia benar-benar memaksaku. Menyudutkanku untuk kembali padanya. Apa benar dia mencintaiku? Atau itu hanya obsesinya semata untuk kembali memilikiku? Namun, aku tak peduli dengan semua itu. Bagiku yang terpenting saat ini adalah bagaimana aku bisa menyemangati adikku yang sedang terbaring lemah di dalam ruang rawat.
"Ya sudah, sekarang kita masuk yuk ke dalam!" Delano tiba-tiba saja menggenggam tanganku. Menuntunku untuk melangkah saat aku masih termenung memikirkan semuanya.
"Selain Mira, karena dialah alasanku tidak bisa kembali sama kamu, Mas. Aku telah mencintainya. Cinta yang mampu menggantikan rasa cintaku untuk kamu dulu," batinku sambil terus menatap Delano.
__ADS_1
Bersambung ✍️
...Halo apa kabar, Bestie? Selamat tahun baru ya. Semoga di tahun 2023 hidup kita semua jauh lebih baik. Tetap sehat dan bahagia selalu. Terima kasih semua....