
Selamat membaca!
Aku menghabiskan malam ini dengan menemani Mas Denis saat menerima jamuan makan malam dari rekan bisnis yang mengajaknya bekerja sama. Dalam perbincangan seusai makan malam, Mas Denis tak malu dan segan bersikap intim padaku di depan rekannya itu. Dia bahkan berani memeluk bahuku, membelai rambut, dan mengecup pipiku dengan mesra. Dia betul-betul menunjukan rasa cintanya padaku dengan bangga.
Menjelang pukul sebelas malam kami kembali ke rumah. Aku membersihkan riasan di wajah dan berganti pakaian. Aku mengenakan lingerie warna maroon yang merupakan favorit suamiku saat Mas Denis sedang di kamar mandi.
Begitu keluar, Mas Denis pun tersenyum saat melihat aku berbaring di ranjang dengan pose menantang. Tanpa banyak kata dia menghampiriku. Mencium bibirku dan kami mulai memadu kasih dengan penuh gairah.
__ADS_1
***
Hari demi hari pun berlalu dengan begitu cepat. Nyaris setiap hari sejak Almira mengancamku, dia selalu menanyakan apakah aku sudah memberi tahu Mas Denis atau belum. Dia terus mengingatkan tenggat waktu yang terus berjalan. Sungguh, aku merasa seperti diteror oleh kembaranku sendiri.
Tanpa terasa waktu yang diberikan oleh Almira tersisa satu hari lagi. Kepalaku kembali berdenyut dengan rasa sakit yang luar biasa. Aku tak mau kehilangan Mas Denis dan seluruh cinta serta kenyaman yang diberikannya.
"Mira, aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan kebahagiaanku! Tidak akan pernah!" teriakku dengan keras.
__ADS_1
Dengan menahan rasa sakit aku mengeluarkan sepeda motor dari garasi dan mengendarainya perlahan menuju apotek. Setibanya di sana, aku pun langsung membeli beberapa strip merek obat pereda nyeri yang biasa aku minum. Namun, ketika aku hendak pulang, tiba-tiba saja terlintas di pikiranku sebuah rencana yang akan aku jadikan jalan keluar dari ancaman Almira yang kian hari semakin meresahkan.
"Dengan obat penggugur kandungan, masalahku pasti akan selesai," batinku penuh rencana.
Setelah sempat tidak diperbolehkan untuk membeli obat yang aku inginkan tanpa resep dokter, akhirnya aku pun berhasil membuat penjaga itu mau memberikan obat tersebut. Ya, walau aku harus mengeluarkan sejumlah uang untuk mendapatkannya. Saat ini, aku tak sebodoh yang Almira pikirkan. Mungkin dia berpikir jika aku bersedia menukar kebahagiaanku dengan calon anak Mas Denis yang ada di dalam kandungannya. "Aku tidak akan kalah, walau kamu terus mengancamku," batinku merasa yakin jika rencana ini pasti akan berhasil.
Begitu penjaga memberikan obat yang aku inginkan, aku bergegas keluar dari apotek dan melajukan sepeda motorku untuk kembali ke rumah setelah menaikinya. Saat ini, aku sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya. Aku merasa sangat yakin untuk menolak permintaan Almira daripada harus mengorbankan kebahagiaan dan pernikahanku. Sekarang, aku hanya tinggal memikirkan bagaimana caranya melakukan rencana yang perlahan-lahan mulai tersusun rapi dalam benakku. Selama ini, aku selalu dipuja seperti dewi yang mampu membiayai segala kebutuhan ibu juga kuliah Almira dan sekarang untuk sementara waktu, aku akan menukar peranku menjadi malaikat pencabut nyawa.
__ADS_1
"Sebenarnya aku tidak ingin menjalankan rencana kejam ini. Hanya saja aku tidak punya pilihan lain demi bisa menyelamatkan masa depan dan pernikahanku," batinku yang benar-benar kesal sampai harus memilih jalan seperti ini sebagai penyelesaiannya.
Bersambung ✍️