Wanita Pengganti Di Malam Pertama

Wanita Pengganti Di Malam Pertama
Patah Semangat


__ADS_3

Selamat membaca!


Sudah setengah jam lamanya Delano diam tak bicara apa-apa. Dia masih mengabaikanku. Sama sekali tak menjawab permintaan maafku hingga membuat hatiku semakin resah memikirkannya. Sejak tadi aku pun hanya menghabiskan waktuku dengan menatap ke luar jendela, melihat rintik hujan yang sudah sejak beberapa menit lalu turun dengan begitu derasnya di tengah lalu lintas yang memadat. Ya, kepulanganku ke rumah memang bertepatan dengan aktivitas bubaran kantor yang membuat lalu lintas jauh dari kata lancar. Ditambah lagi karena hujan, terowongan yang tadi sempat aku lewati dipenuhi oleh pengendara motor yang sengaja berteduh di sana.


Sampai akhirnya, begitu tiba di rumah, Delano tiba-tiba mengatakan sesuatu yang membuatku jadi berpikir keras.


"Kamu masuk saja duluan! Aku ada urusan dulu di luar." Hanya itu yang Delano katakan. Jujur aku kaget. Pikiranku jadi tidak menentu saat ini. Terlebih karena dia hanya mendiamiku sepanjang perjalanan tadi.


"Kamu mau ke mana?" tanyaku setelah sempat termangu mendengar perkataannya.


"Keluarlah!"


Tanpa ekspresi Delano kembali meminta, dia terus melihat wajahku yang sampai saat ini masih basah karena sepanjang perjalanan, aku terus menangis memikirkan semua yang terjadi sewaktu di rumah Fadhly. Ditambah lagi sikap Delano yang seolah begitu membenciku, semakin membuat air mata sulit untuk aku tahan.

__ADS_1


"Tapi, No ... apa kamu begitu marah sama aku sampai kamu enggak mau maafin aku dan malah ingin pergi lagi, padahal kita baru saja sampai rumah?"


Tiba-tiba Delano tersenyum singkat. Senyuman yang cepat memudar itu kini sudah berganti dengan ekspresi wajahnya yang kembali datar. Membuatku semakin merasa bingung atas apa yang ada dalam pikirannya saat ini.


Pertanyaanku tak dijawab oleh Delano. Dia hanya melepaskan central lock pintu mobil hingga suaranya terdengar begitu jelas di telingaku. Aku pun sejenak melihatnya dengan kedua bola mata yang masih digenangi air mata. "Baiklah, aku akan keluar. Tapi, aku harap kamu masih mau maafin aku. Bukankah kamu sendiri yang bilang dua tahun lalu kalau kamu akan menerima semua kekuranganku?" Aku coba mengingatkannya. Namun, Delano hanya bergeming. Diam tanpa menatapku. Pandangannya sudah menuju ke arah depan seolah tak ingin melihat wajahku.


Tak ingin memperkeruh suasana, aku memilih keluar dari mobil sambil memikirkan arti senyuman yang sempat terlihat dari wajah suamiku.


Di saat aku masih diam di posisiku, tiba-tiba suara riang itu terdengar memanggil. Ya, Keisya tampak berdiri di ambang pintu rumah yang baru saja terbuka. Dia menatapku dengan senyuman sambil melambaikan tangan ke arahku. Hatiku pun sedikit terobati saat melihat wajah menggemaskan dari keponakanku itu. Keponakan yang sudah aku anggap seperti anak sendiri.


"Mah, ayo masuk! Aku sudah menunggu Mama sejak tadi."


Sebelum pergi, aku kembali melihat ke arah mobil suamiku sebelum tak terlihat lagi oleh pandanganku. Lalu, aku mulai melangkah, mendekati Keisya setelah mengusap air mata yang masih tersisa di kedua pipiku. Tentu saja aku tidak ingin jika Keisya sampai tahu kesedihanku. Aku harus menunjukkan wajah bahagia di depannya, walau sebenarnya itu berbeda dari apa yang aku rasakan saat ini.

__ADS_1


"Nenek di mana, Sayang?" ucapku begitu menggenggam tangan Keisya dan menuntunnya masuk ke dalam rumah.


"Nenek ada di dapur lagi buatin aku jus alpukat, Mama mau enggak? Kalau mau biar aku minta nenek buatin Mama juga."


"Enggak usah, Sayang. Mama bisa buat sendiri kalau nanti Mama mau. Sekarang Mama mau ganti pakaian dulu ya di kamar." Setelah melepas genggaman tanganku, Keisya pun melangkah menuju dapur. Sementara aku, mulai menaiki anak tangga dengan langkah yang gontai.


Rasanya langkah ini terasa berat. Entah karena aku kehilangan tenaga atau rasa sakit yang menggores hatiku jadi melemahkanku seperti sekarang ini. Namun, satu hal yang pasti, keterdiaman Delano benar-benar telah merenggut semangatku untuk hidup. Aku seperti raga tanpa jiwa. Walaupun suamiku sempat tersenyum, tetapi itu tidak cukup menenangkan hatiku yang begitu resah karena kejadian memalukan saat di rumah Fadhly. Hal yang tentu saja tak ingin aku alami. Bahkan jika aku bisa mengembalikan waktu, aku lebih memilih untuk memberanikan diri melihat ke ruangan Delano, daripada harus pergi dan akhirnya aku jadi bertemu dengan Fadhly hari ini.


"Apa artinya Mama hidup tanpa papa kamu, De? Kalau dia sudah tidak ingin hidup bersama Mama lagi, tidak ada gunanya Mama hidup." Aku terus menaiki anak tangga. Memaksa langkah kakiku yang terasa berat menuju kamar.


Bersambung ✍️


...Selamat sore, Bestie. Akhirnya sudah sampai di episode akhir menjelang tamat. Bagaimanakah kehidupan Alissa setelah ini? Apakah hidupnya akan bahagia atau malah akan berakhir tragis? Ikuti terus episode selanjutnya ya. Terima kasih. Follow Instagram Author: ekapradita_87...

__ADS_1


__ADS_2