Wanita Pengganti Di Malam Pertama

Wanita Pengganti Di Malam Pertama
Bingkisan Cantik


__ADS_3

Selamat membaca!


Waktu demi waktu terus aku lewati di sel tahanan. Semakin lama aku semakin terbiasa menjalani kehidupan di sini. Terlebih kesibukan di LFC membuat aku jadi benar-benar memiliki motivasi untuk maju. Bahkan aku sampai lupa bagaimana caranya menangis karena keberadaan Reni dan teman-teman lain sesama narapidana benar-benar membuatku merasa seperti punya keluarga sendiri. Belum lagi keberadaan Bu Widya yang sangat baik, dia seakan menjadi ibu pengganti untukku. Bukan hanya sekadar percaya karena menyerahkan LFC padaku, tetapi dia juga banyak membimbingku untuk jadi manusia yang lebih baik setelah bebas nanti. Ya, malam ini adalah malam terakhirku menjalani masa hukuman. Lebih cepat 1 tahun karena aku mendapatkan remisi sebanyak 4 kali di setiap hari kemerdekaan selama aku di sini. Namun, entah kenapa ada perasaan sedih yang aku rasakan menjelang hari kebebasanku. Sedih karena aku harus berpisah dengan Reni yang masih harus menjalani hukuman satu tahun lagi. Dia adalah satu-satunya sahabat yang paling dekat denganku semenjak Hana lebih dulu keluar dari penjara. Kebetulan usia kami memang tidak berbeda jauh. Itulah kenapa aku benar-benar nyaman jika menceritakan semua masalahku padanya.


"Kamu kenapa belum tidur? Ini sudah jam 11 lho?" Di tengah pikiranku yang masih memikirkan hari esok, Reni yang tadinya aku pikir sudah lebih dulu tidur terdengar memanggilku.


"Eh, kamu belum tidur?"


"Sebenarnya sih sudah, tapi aku kebangun." Reni mulai memiringkan posisi tubuhnya untuk menghadapku. "Kamu lagi mikir apa sih? Bukannya tidur lebih cepat biar cepat pagi."


"Enggak tahu kenapa aku tuh merasa sedih."


"Lho sedih kenapa? Harusnya kan kamu bahagia dong karena besok akan keluar dari penjara. Jangan malah sedih."


"Aku sedih karena harus berpisah dari kamu dan teman-teman di sini yang sudah baik sama aku. Kalian yang menguatkan aku selama berada dalam fase terpuruk dalam hidupku." Entah kenapa saat mengatakan itu, kedua mataku mulai berkabut. Rasanya begitu sedih hingga menggetarkan hati.

__ADS_1


"Bukankah kita itu sahabat. Jadi, sudah sepantasnya kita saling mendukung satu sama lain. Lagi pula bukan hanya dukungan dari kami saja sampai kamu bisa kuat menjalani hukuman selama ini, tetapi juga berkat Delano, kan?" Tiba-tiba Reni memukul keningnya. Dia seperti teringat sesuatu yang mungkin sempat dilupakannya. Bahkan setelah mengatakan itu dia langsung beranjak dari posisi tidurnya, lalu mengambil sebuah bingkisan yang diletakkannya di sudut ruangan.


"Itu apa, Ren?" tanyaku masih bingung saat melihatnya meletakkan bingkisan itu tepat di sampingku yang sudah duduk sambil terus melihatnya.


"Ini dari Delano. Maaf ya aku sampai lupa memberikan ini sama kamu."


"Aku pikir dia lupa jika besok hari kebebasanku. Ternyata dia enggak lupa, bahkan sampai mengirimkan bingkisan ini juga untukku."


"Ya sudah cepat buka, aku penasaran lho." Reni yang begitu penasaran mendesakku agar segera membuka bingkisan itu. Sebuah bingkisan cantik berukuran kotak yang dibungkus kertas kado berwarna merah dengan pita di atasnya.


"Kira-kira Delano memberikan aku apa ya?" Aku terus membukanya dengan rasa penasaran yang sudah menguasai pikiranku.


"Wah, dia perhatian banget ya sama kamu. Oh ya, apa isi suratnya? Ayo baca aku penasaran!"


"Iya sabar, Ren. Aku yang dapat surat kok jadi kamu yang antusias sih."

__ADS_1


Mendengar protesku, Reni pun sempat tertawa beberapa saat sebelum dia kembali mendesakku untuk segera membaca surat itu.


"Dear, Alissa. Kamu apa kabar di sana? Pasti hari ini kamu lagi bahagia ya karena besok adalah hari kebebasanmu. Aku juga ikut bahagia karena akhirnya kamu bisa kembali melihat dunia luar lagi. Tapi maaf, aku belum bisa menjemput kamu. Kuliah S2-ku memang sudah selesai karena di sini aku bisa menyelesaikannya hanya dalam waktu satu tahun, tapi aku kembali mendapatkan beasiswa untuk lanjut S3 dan itu memerlukan waktu 3 tahun di sini. Jadi, aku baru bisa pulang ke Indonesia sekitar dua tahun lagi. Aku harap kamu mau mengerti dengan keadaanku ini. Bersama surat ini, aku juga memberikan satu stel pakaian untuk kamu dan juga sepatu, aku harap kamu menyukainya. Oh ya, aku mau sedikit cerita sama kamu. Di sini selain kuliah, aku juga sudah mulai bekerja di sebuah perusahaan besar dan mereka menungguku lulus S3 untuk menempati posisi CEO di perusahaannya. Aku sangat beruntung karena bisa mempunyai kesempatan itu. Mungkin kabar ini membuat kamu sedih, tapi aku benar-benar enggak ada maksud untuk merusak kebahagiaan kamu. Aku merasa harus berjuang agar bisa sukses demi membahagiakan kamu. Makanya, aku harap kamu tidak sampai berpikir bahwa aku sudah melupakan kamu ya! Ini aku tulis juga nomor ponselku, aku harap kamu mau menghubungiku. Jaga diri kamu di sana, Lissa!"


Setelah membaca surat itu, entah kenapa air mataku tak henti-hentinya menangis. Bukan hanya aku, bahkan Reni juga ikut terharu saat mendengarnya.


"Delano itu pria yang sangat romantis ya. Aku jadi iri deh sama kamu."


"Tapi ...."


"Jangan bilang kamu masih mikirin hal itu. Seperti yang aku katakan, cinta tidak memedulikan perbedaan pendidikan, Lissa. Kalau Delano tidak mempermasalahkannya, kenapa kamu harus mempermasalahkannya? Lagi pula kamu juga masih bisa kok kuliah kalau kamu mau? Umur kamu juga kan masih 26 tahun. Jadi, aku pikir kamu masih mungkin untuk kuliah. Kamu punya banyak waktu dan enggak perlu minder karena hal itu."


Seketika aku langsung mendekap Reni. Meluapkan segala kesedihan yang sudah menyesakkan dada. "Terima kasih ya, Ren. Terima kasih karena kamu sudah selalu baik padaku."


"Kita itu sahabat. Jadi, sudah tugas aku untuk selalu menguatkan kamu di saat kamu lemah seperti ini."

__ADS_1


Kami pun masih saling berpelukan. Pelukan erat itu seakan berhasil menguatkanku. Di dalam hati, aku sangat bersyukur karena dipertemukan dengan Reni. Dia adalah orang yang sangat berjasa dalam mengembalikan semangat hidupku, selain Delano dan juga Hana.


Bersambung ✍️


__ADS_2