
Selamat membaca!
Setelah mendapati aku hanya diam, Mas Denis kembali bertanya padaku. Kali ini suaranya terdengar lebih menuntut hingga seketika menyadarkanku dari lamunan.
"Sayang, kenapa diam?"
"Iya, Mas. Ma-af ya, aku tuh cemas memikirkan Mira. Ini penyakit GERD-nya kambuh. Mungkin dia stres karena mau ujian kenaikan tingkat di kampusnya. Kata dokter stres dan kelelahan memicu penyakitnya itu kambuh." Aku mengarang alasan agar Mas Denis tidak curiga dan lebih tepatnya agar dia tidak tahu bahwa Almira baru saja keguguran anaknya.
"Berarti Mira belum mendapatkan orang untuk membantunya merawat ibu di rumah? Kasihan dia kecapekan sampai sakit seperti sekarang." Lagi-lagi Mas Denis mengkhawatirkan keadaan Almira. Itu benar-benar membuat hatiku semakin panas.
"Masih belum ada yang cocok katanya. Sudah dulu ya, Mas. Ini perawat memintaku untuk menebus obat Mira." Aku memutuskan untuk segera mengakhiri panggilan telepon agar Mas Denis tidak bertanya lebih banyak lagi. Lagi pula aku juga mulai merasa kesal saat mendengar suamiku ternyata begitu mengkhawatirkan Almira.
__ADS_1
Aku sejenak mengembuskan napas panjang setelah mengakhiri telepon dari Mas Denis dan tak lama kemudian, perawat yang tadi mendorong brankar Almira ke ruang tindakan, mengatakan bahwa proses kuretase telah selesai. Almira pun langsung ditempatkan di kelas VIP yang berada di lantai 3 gedung ini. Aku memang memilihkan kamar VIP agar Almira merasa leluasa dan tidak terganggu dengan pasien lainnya.
Saat aku masuk ke ruang rawat Almira, aku melihat dia belum sadar dan masih terpejam. Mungkin efek dari obat biusnya saat dikuret tadi, membutuhkan waktu untuk membuatnya kembali sadar. Sambil menunggunya bangun, aku memilih untuk duduk di sofa yang berada di seberang tempat tidurnya. Ternyata mengurus orang sakit itu sungguh sangat melelahkan dan mungkin itu yang dirasakan oleh Almira saat merawat ibu di rumah sendirian.
Baru saja aku hendak beristirahat sejenak sampai Almira siuman, Mas Denis mengirimkan pesan padaku dan sebagian isinya muncul di layar notifikasi saat aku baru mengeluarkan ponselku dari dalam tas. Isinya masih senada dengan percakapan di telepon tadi, Mas Denis benar-benar begitu mengkhawatirkan kondisi Almira dan aku pun memilih mengabaikan pesannya.
Tak lama kemudian Mas Denis menghubungiku, mungkin dia kesal karena pesannya tidak aku balas. Terpaksa aku menjawab panggilan darinya, berharap untuk kali ini saja Mas Denis berhenti mengkhawatirkan Almira dan cukup mencemaskanku seorang.
"Halo, Mas. Maaf aku baru selesai mengurus pemindahan Almira ke ruang perawatan. Ada apa?" Aku langsung bertanya setelah menjelaskan alasanku kenapa belum membalas pesan darinya.
"Bagaimana ini? Mas Denis datang. Bagaimana nanti jika dia tahu dari Almira?" batinku merasa lelah dengan semua ini.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, aku dapat melihat jika Almira mulai membuka matanya. Aku pun langsung mendekati tempat tidurnya dan berdiri tepat di sampingnya.
"Mira, kamu sudah bangun? Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa yang saat ini kamu rasakan? Perutmu sudah tidak sakit lagi, kan?" Aku menggenggam tangan Almira saat bertanya padanya. Namun, di luar dugaanku ternyata dia malah menghempaskan tanganku agar tidak menyentuhnya.
Almira mulai menatapku dengan sangat tajam meskipun tubuhnya masih terlihat lemah tak bertenaga.
"Enggak usah sok baik kamu, Kak. Aku tahu kamu kan yang menyebabkan janinku keguguran!" Almira mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajahku.
Aku berusaha tenang dengan mengulas senyuman tipis di kedua sudut bibirku. Ternyata adikku sangat pintar dalam membaca situasi.
"Mira, kamu jangan marah-marah seperti ini dong. Kamu baru saja siuman, lebih baik sekarang kamu istirahat dan fokus untuk kesembuhanmu! Jangan pikirkan masalah lain! Lagi pula aku rasa ini adalah yang terbaik untukmu. Dengan begitu kamu tidak akan dihujat oleh orang-orang karena hamil di luar nikah. Kuliahmu juga tidak akan putus di tengah jalan. Ibu juga tidak akan tahu soal kehamilanmu yang akan berdampak buruk untuk kesehatannya. Rumah tanggaku juga selamat. Ini win-win solution yang terbaik dari masalah kehamilanmu ini." Aku menyilangkan kedua tangan di depan dada dan menjawab dengan santai semua tuduhan Almira.
__ADS_1
"Dasar pembunuh! Teganya kamu membunuh janinku yang tidak bersalah. Bahkan kamu bisa dengan mudah mengatakan semua itu tanpa sedikit pun merasa bersalah. Di mana hati nuranimu, Kak? Kenapa kamu tega melakukan semua ini padaku?" tanyanya dengan kedua tangan yang sudah mengepal erat. Raut wajahnya penuh amarah dan terlihat murka menatapku.
Bersambung ✍️