Wanita Pengganti Di Malam Pertama

Wanita Pengganti Di Malam Pertama
Bonus Chapter 2 : Janji Selamanya


__ADS_3

Selamat membaca!


Setelah melewati proses persalinan yang cukup berat dan sangat menguras tenaga, kini aku sudah dipindahkan ke ruang rawat yang berada di lantai 5. Kamar Alamanda menjadi tempat nyaman aku terbaring bersama anak yang baru saja aku lahirkan. Tentu saja aku sangat bahagia. Melihat wajah mungil anakku yang sedang tertidur dengan kedua mata yang sangat mirip denganku.


"Sayang, kamu kok bobo terus sih." Aku coba menggoda dengan memainkan jari telunjuk pada dagu mungilnya.


Bersamaan dengan itu, aku melihat Delano kembali masuk ke dalam ruangan setelah sempat pergi meninggalkanku untuk mengurus beberapa administrasi yang tadi belum diselesaikannya.


"No, anak kita lucu banget. Dia mirip sama aku ya?" Aku bertanya pada Delano sesaat setelah dia tiba tepat di sebelahku.


"Iya, Sayang. Dia memang mirip sekali sama kamu. Matanya, alisnya, dagunya, semuanya mirip sama kamu."


"Iya, ya, No. Tapi, hidungnya mirip sama kamu, No."


"Iya, Sayang. Namanya juga anak laki-laki. Biasanya anak laki-laki itu memang mirip sama ibunya."


Aku pun tersenyum mendengar perkataan Delano. Hingga akhir, aku teringat sesuatu yang belum sempat aku tanyakan pada suamiku. "Oh ya, apa kamu sudah putuskan nama untuk anak kita?" tanyaku teringat dua pilihan nama yang sempat Delano katakan sebelum hari persalinanku saat kami masih berada di rumah.


"Aku masih bingung, tapi menurut kamu yang mana yang bagus?"


"Kalau menurut aku sih, dua-duanya bagus. Sudah, No, kamu pilih saja yang menurut kamu bagus. Pokoknya apa pun pilihan kamu, aku pasti setuju."


Sesaat Delano terdiam sambil mulai duduk di kursi yang memang tepat berada di sebelah ranjang tidurku. "Baiklah aku sudah putuskan. Bagaimana kalau namanya, Wira Aditama Prakarsa?"


"Tentu saja bagus."


Kami berdua pun sepakat. Merasa sangat bahagia sambil melihat Wira yang mulai terbangun dengan celoteh lucunya.

__ADS_1


"Wira bangun, No."


"Oh ya, tadi kata suster, kalau dia bangun, kamu bisa coba kasih ASI."


"Tapi, ini pertama kali untukku, No." Melihat keraguan di wajahku, Delano coba meyakinkanku.


"Kamu enggak perlu takut. Ayo coba saja!"


Akhirnya aku coba melakukannya. Menempatkan wajah anakku dengan dibantu oleh Delano yang sedikit mengangkat tubuh mungil Wira agar lebih memudahkanku dalam menyusuinya. Namun, baru beberapa menit, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan.


"Sepertinya ada yang datang, Sayang."


Dengan perlahan, aku menyudahi aktivitasku yang baru saja mulai menyusui anakku. Aku dapat melihat sepertinya Wira masih belum terbiasa dan tampak masih menerka-nerka apa yang tadi sempat dihisapnya.


"Siapa yang datang ya, No?"


"Meisya, Fadhly ...."


"Selamat ya, Lissa. Selamat atas kelahiran anak pertamamu." Kata-kata itu terucap sesaat setelah Meisya menghentikan langkah kakinya tepat di sebelah Wira. Raut wajahnya kelihatan begitu ramah saat menyapaku.


"Terima kasih ya, Meisya. Tapi, bagaimana kalian bisa datang ke sini? Apa Delano sudah memberi tahu kalian?" tanyaku merasa heran karena ini baru beberapa jam setelah persalinanku. Jadi, bagaimana mungkin sudah ada yang datang mengunjungiku, terlebih orang itu adalah Fadhly dan Meisya.


"Kebetulan tadi kami sempat bertemu dengan Delano di bawah. Maaf ya kami jadi belum sempat beli apa-apa untuk hadiah anak kamu."


"Iya, nanti kami akan kirimkan saja hadiahnya langsung ke rumahmu ya, Lissa." Fadhly ikut menimpali perkataan Meisya. Keduanya tampak sangat bahagia dan itu terlihat jelas dari senyuman di wajah keduanya. Sepertinya kebahagiaan yang aku rasakan ikut mereka rasakan juga atau sebenarnya ada sesuatu yang membuat mereka tampak bahagia seperti ini. Entahlah, walau aku penasaran, tetapi aku tetap menunggu mereka bicara dan hanya menyimpannya jauh di dalam hatiku.


"Lissa, kamu juga harus memberikan selamat kepada Ibu Meisya atas kehamilan anak keduanya."

__ADS_1


Seketika perkataan Delano membuat rasa penasaranku langsung terjawab. Pantas saja dari awal kedatangan mereka, raut wajah keduanya kelihatan benar-benar bahagia.


"Selamat ya, Meisya. Akhirnya, Tuhan menggantikan apa yang pernah hilang dari hidupmu. Aku ikut bahagia atas kehamilanmu saat ini."


"Semua ini berkat kamu, Lissa." Sambil tersenyum Meisya mengatakannya. Membuat aku bingung karena jujur saja aku sama sekali tidak merasa melakukan apa-apa hingga Meisya bisa hamil kembali.


"Memangnya apa yang aku lakukan?" Dengan raut wajahku yang polos aku bertanya. Meisya pun tersenyum sebelum mulai menjawab apa yang aku tanyakan.


"Apa kamu tidak merasa bahwa ketulusan hati kamu saat datang ke rumahku untuk minta maaf benar-benar membuatku jadi luluh memaafkanmu. Dan, karena keikhlasan hatiku untuk melepas kebencian dan dendam itulah, akhirnya Tuhan mempermudah jalanku hingga aku bisa hamil kembali. Padahal sebelumnya, sudah beberapa kali aku kecewa karena hasil pemeriksaan kandunganku selalu saja negatif. Mungkin dulu, hatiku masih diselimuti dendam dan kebencian. Makanya, Tuhan belum memberikan izin padaku untuk memiliki anak lagi."


Mendengar penuturan dari Meisya, tentu saja aku tidak membenarkannya. Terlebih apa yang aku lakukan dengan minta maaf pada Meisya adalah sebuah keharusan demi membuat kehidupanku yang baru tak lagi dibayangi-bayangi kesalahan masa laluku.


"Sekarang yang terpenting semuanya sudah berlalu. Jadi, sebaiknya kita tidak perlu lagi membahas apa yang pernah terjadi di masa lalu."


"Iya kamu betul, Lissa. Sekarang aku janji sama kamu, kalau kita akan jadi seperti keluarga dan kalau perlu saat anak aku lahir nanti, aku akan menjodohkannya dengan anak kamu. Bagaimana apa kamu setuju?"


"Boleh saja asalkan anak kamu nanti perempuan."


"Ya, pasti dong, masa laki-laki dijodohin sama laki-laki."


Candaan itu terdengar lucu hingga membuat kami saling berbagi tawa. Kami pun saling bercengkrama satu sama lain. Dan, entah kenapa setelah beberapa menit, aku merasa begitu dekat dengan Meisya. Mengingatkanku dengan sosok adik kembarku yang telah tiada.


"Mira, seandainya kamu masih ada. Aku yakin, kamu juga pasti akan bahagia melihat kebahagiaanku. Maafkan Kakak ya. Maaf karena pernah bersikap jahat sama kamu. Tapi ... sebagai gantinya, aku janji akan selalu menyayangi Keisya sepanjang hidupku dan tidak akan membeda-bedakan kasih sayangku dengan apa yang aku berikan pada Wira. Aku akan menyayanginya sepenuh hatiku," batinku yang tiba-tiba saja seperti melihat sosok Almira berdiri di belakang Delano sambil tersenyum ke arahku.


Tamat


...Terima kasih atas kesetiaannya dalam mengikuti cerita ini hingga akhir cerita. Setelah ini, ikuti cerita Author yang lain, One Night Destiny....

__ADS_1



__ADS_2