Wanita Pengganti Di Malam Pertama

Wanita Pengganti Di Malam Pertama
Saling Mengungkit


__ADS_3

Selamat membaca!


Dia masih menatapku penuh amarah. Namun, itu tidak membuatku takut atau merasa bersalah atas apa yang telah kuperbuat. Aku justru malah merasa semua yang aku lakukan adalah hal yang benar.


"Bukankah seharusnya kamu berterima kasih karena aku telah menyelamatkan masa depanmu? Dasar adik tidak tahu diri!" Sengaja aku tinggikan suaraku agar dia juga tahu bahwa aku tidak takut padanya.

__ADS_1


"Aku pasti akan mengatakan semua ini pada Mas Denis! Lihat saja kamu, Kak! Aku tidak akan membiarkan kamu menang atas kejahatan yang sudah kamu lakukan padaku!" ancam Almira sambil berusaha meraih botol obat di atas nakas. Setelah berhasil menggenggamnya, dia langsung melemparnya ke arahku. Beruntung aku masih sempat menghindar sebelum botol itu mengenai kepalaku.


Lagi-lagi aku tertawa. Lalu, mencengkeram dagu Almira dengan jemariku. Kutatap tajam matanya yang mulai berembun. "Silahkan kalau itu kemauanmu, tapi aku tidak akan sudi membiaya pengobatan ibu lagi. Tidak hanya itu, biaya kuliahmu juga akan kuputus, termasuk biaya perawatanmu di rumah sakit ini yang tidak akan aku bayar jika kamu berani macam-macam padaku!" 


Setelah puas menggertaknya, aku segera melepaskan cengkeramanku dari dagu Almira dengan kasar. Sementara itu, dia mulai menatapku dengan nanar, seakan tidak percaya dengan apa yang kukatakan. 

__ADS_1


Aku pun kembali menatap wajah Almira dengan sorot mata yang lebih tajam. Bahkan lebih tajam dua kali lipat dari sorot matanya saat ini. Hatiku juga benar-benar sakit mendengar semua perkataannya. Terlebih saat aku mengingat semua pengorbanan yang telah aku lakukan untuknya.


 "Jaga mulutmu, Mira! Kamu tidak pantas menghinaku seperti itu setelah apa yang aku lakukan untukmu! Selama ini aku sudah mengorbankan masa remajaku dengan bekerja menjadi pemandu lagu di sebuah karaoke begitu lulus dari SMA, kamu pikir aku melakukannya untuk siapa? Itu demi ibu dan kamu agar bisa kuliah. Aku bahkan merelakan tubuhku dinikmatin para lelaki yang menjadikanku simpanannya hanya supaya bisa membiayai hidupmu dan juga ibu, apalagi biaya kuliahmu itu tidaklah sedikit. Apa kamu pikir aku akan rela melepas kebahagiaan yang diberikan oleh pria yang begitu mencintaiku? Apa kamu pikir aku akan memberikan Mas Denis demi janinmu? Dan, apa kamu masih tega mengadukanku pada Mas Denis setelah begitu banyak pengorbanan yang aku lakukan untukmu?" Suara itu terdengar lirih. Aku mengatakannya sambil menatap Almira dengan lekat hingga tanpa terasa air mata sudah menetes membasahi kedua pipiku. Rasanya begitu sakit saat mendengar hinaan dari adikku. Terlebih ketika mengingat semua pengorbanan yang telah aku lakukan untuknya. Bahkan aku sampai mengalah tidak melanjutkan pendidikanku, hanya demi agar Almira bisa melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang S2.


Aku terus mengungkit semua kebaikan yang telah kulakukan pada Almira. Wajahku mengeras karena amarah yang membuncah. Berani-beraninya Almira ingin mengadukanku pada Mas Denis, bahkan dia sangat lancang ketika menghinaku tadi. Namun, perkataanku seolah tak digubrisnya sama sekali. Dia tetap menampilkan raut wajahnya yang terlihat begitu murka hingga aku dapat melihat jika saat ini Almira benar-benar menaruh dendam padaku atas apa yang aku lakukan hari ini.

__ADS_1


"Terbuat dari apa sebenarnya hatimu, Kak? Kenapa kamu tidak menunjukkan sedikit pun rasa iba padaku yang harus menanggung akibat dari hubungan bebas yang kamu lakukan di masa lalu? Kamu juga tidak merasa berdosa telah melenyapkan janin yang tidak bersalah itu, padahal aku sampai bisa hamil juga karena kita bertukar peran di malam pertamamu, Kak!" Almira menangis hingga terdengar begitu terisak. Sama halnya denganku, dia juga membahas pengorbanannya karena telah menyelamatkan pernikahanku dengan Mas Denis. 


Bersambung ✍️


__ADS_2