
Selamat membaca!
Setibanya di rumah, aku langsung membersihkan diri, lalu mengenakan piyama tidur pendek sebatas lutut tanpa lengan dan kemudian berbaring di atas ranjang.
Mas Denis menghampiriku setelah keluar dari kamar mandi, dia terlihat mengenakan pakaian tidur dengan celana pendek dan kaos polos berwarna putih yang membentuk di tubuh kekarnya. Kini Mas Denis sudah merebahkan tubuhnya di sampingku dan langsung menarikku ke dalam pelukannya.
"Lelah banget ya seharian tadi? Pak Gavin cerita sama aku di kantor, dia bilang kamu kelihatan panik dan cemas sepanjang jalan saat menuju rumah sakit sampai kamu memintanya menerobos lampu merah."
Benar dugaanku bahwa Mas Denis menyuruh sopir kantor mengantarku agar bisa memata-mataiku. Untung saja kejadian Almira kesakitan tadi malah menambah citra baikku di mata Mas Denis. Aku tertawa puas penuh kemenangan di dalam hati.
__ADS_1
"Iya, Mas kamu kan tahu kalau aku sayang banget sama Mira. Walaupun aku dan dia sering berselisih paham, kadang-kadang berantem, tetap saja aku menyayanginya karena dia adalah adikku satu-satunya. Saat melihat dia kesakitan, aku jadi teringat bagaimana ayahku kesakitan sebelum pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya." Aku mulai terisak, tiap kali berbicara tentang ayah hatiku selalu melunak.
Mendengar aku mulai menangis, Mas Denis semakin erat memelukku. "Ssstth ... sudah ya. Maaf kalau aku jadi mengingatkanmu pada almarhum ayah. Maafin aku ya, Sayang."
Mas Denis tampak merasa bersalah karena telah membuatku menangis, lalu dia mulai mencium puncak kepalaku dengan lembut. Aku menyembunyikan senyum di dadanya.
"Mira salah besar karena menyebutku penyihir yang jahat. Aku ini bukan hanya sekadar licik dan jahat, tetapi aku seperti ratu drama yang jago berakting!" Lagi dan lagi aku tertawa di dalam hati, merayakan kemenangan besar hari ini. Kemenangan yang membuatku lolos dari belenggu ancaman Almira yang selama beberapa hari ini sempat membayangiku.
***
__ADS_1
Pagi harinya, aku melakukan aktivitas rutin menemani Mas Denis sarapan dan mengantarkannya ke mobil, lalu melepas kepergiannya ke kantor. Entah kenapa aku merasa lega tiap kali Mas Denis sudah berangkat kerja.
Jauh di lubuk hati yang terdalam, sebenarnya aku merasa cemas. Bagaimana kalau suatu hari dengan cara yang tak terduga, Mas Denis mengetahui semua kebohonganku? Apalagi aku terus menerus menciptakan kebohongan demi menutupi kebohongan yang lain. Ah, biar saja dulu seperti ini. Aku hanya ingin menikmati kebahagiaan yang kuraih dengan susah payah.
Sebaiknya aku mengunjungi ibu dan menyampaikan kabar tentang sakitnya Almira. Aku pun langsung berbalik dan kembali ke kamar untuk berganti pakaian, lalu memesan taksi online. Kali ini aku tidak mengatakan pada Mas Denis kalau akan pergi keluar rumah. Aku merasa malas kalau Mas Denis malah akan mengirimkan sopir untuk mengantar dan memata-mataiku seperti kemarin.
Jarak ke rumah ibu aku tempuh dalam waktu tiga puluh menit. Rumah itu terlihat lengang. Pintunya tertutup rapat.
"Apa ibu sedang pergi ya?" ucapku sembari melangkahkan kaki menuju pintu, lalu mengetuknya sembari mengucapkan salam. Namun, tak ada tanda-tanda bahwa ibu ada di dalam. Aku masih coba menggenggam kenop pintu dan berusaha untuk membukanya, tapi ternyata pintu memang terkunci dari dalam hingga tak bisa aku buka. "Ya Tuhan, ke mana ya ibu pergi? Bagaimana jika ada sesuatu buruk terjadi pada ibu, apalagi kondisinya sedang sakit?" Aku merasa begitu cemas dan bingung karena beberapa kali aku memanggil ibu, tetap saja tak ada sahutan dari dalam rumah.
__ADS_1
Bersambung ✍️