
Selamat membaca!
Aku semakin merasa cemas karena Mas Denis masih belum menjawab pertanyaanku. Bahkan selepas panggilan itu terputus dia hanya bicara pada ibuku.
"Bu, aku minta tolong titip Keisha ya!" Kalimat pertama itulah yang diucapkan Mas Denis pada ibuku. Dia pasti paham bahwa tidak mungkin membawa anak balita yang baru berusia 2 tahun ke rumah sakit.
"Memangnya Mira kenapa Denis?" tanya ibuku dengan raut wajah yang terlihat begitu cemas. Aku dapat mengerti apa yang ibu rasakan. Dia pasti tidak tenang karena mendengar perkataan Mas Denis tadi saat bicara dengan seseorang di sambungan telepon mengenai Almira yang sedang berada di rumah sakit.
Melihat kondisi ibu, aku coba menguatkannya sambil menahan tubuhnya yang mulai limbung.
"Bu, sabar ya." Hanya itu yang bisa aku katakan pada ibuku sambil menunggu jawaban dari Mas Denis.
__ADS_1
"Aku sendiri enggak tahu Mira kenapa, Bu. Tapi dari informasi yang aku dapat, selama ini ternyata Mira menyembunyikan penyakitnya dari kita."
"Maksudnya, Mas?" tanyaku menyambar perkataan Mas Denis yang baru saja selesai. Tak hanya aku yang terkejut, baik ibu dan Delano juga menampilkan raut wajah yang sama. Tentu saja kami semua tidak pernah menyangka bahwa Almira selama ini menyembunyikan penyakit yang dideritanya.
"Apa ini alasan Mira pergi? Dia tahu umurnya tidak akan lama lagi, makanya dia sengaja menulis surat untuk aku, ibu, dan juga Mas Denis. Bahkan dia meminta aku menggantikan posisinya untuk menjaga Keisha." Aku hanya bisa menerka-nerka dalam hati, merasakan kedua mataku yang mulai basah oleh bulir bening.
"Lissa dan Ibu sabar dulu ya. Kita tidak boleh berpikir yang tidak-tidak sampai mendengar hal yang pasti dari dokter di sana. Jadi, sebaiknya kita berdoa saja untuk Mira dan segera ke rumah sakit." Delano benar-benar bijaksana. Tutur katanya seketika mendoktrin pikiranku untuk tetap berpikir positif, bahkan rasa takut yang sempat hadir dalam diriku berubah jadi sebuah harapan untuk Almira agar kondisinya baik-baik saja saat ini. Namun, Mas Denis malah pergi begitu saja. Dia seakan-akan tidak suka mendengar perkataan Delano. Entahlah, apa itu hanya perasaanku saja atau nyatanya dia memang masih kesal karena kedatangan Delano ke rumah ini.
"Bu, aku pergi dulu ya. Sekarang ini, Ibu berdoa saja dan jangan sampai berpikir yang macam-macam! Lagi pula benar kata Delano, selama kita belum mendengar langsung dari dokter yang menangani Mira di sana, semua kabar itu masih simpang siur."
Tanpa menunggu lama, aku pun langsung keluar rumah diikuti oleh Delano yang juga sempat membantuku untuk menenangkan ibu. Melihat ibu seperti tadi, bukan hanya merasa sakit, tetapi aku benar-benar ingin menangis.
__ADS_1
"Mas, tunggu! Aku dan Delano ikut ya ke sana." Walau harus setengah berlari, aku pun dapat menyusul Mas Denis yang baru akan masuk ke dalam mobilnya.
"Ya sudah, ayo masuk!" Mas Denis akhirnya masuk ke dalam mobil. Sementara aku dan Delano menyusulnya dengan menempati kursi di belakang kemudi.
Selama di perjalanan aku terus memikirkan keadaan Almira. Entah apa yang terjadi dengannya, tetapi yang jelas aku benar-benar mencemaskan kondisinya saat ini.
"Kamu yang sabar ya. Sekarang kita harus terus berdoa agar Mira baik-baik saja." Delano coba menenangkanku. Dia melingkarkan tangannya untuk menjadi sandaran bagi tubuhku yang sudah terasa begitu lemah. Beberapa saat aku menangis tersedu dalam dekapannya. Mengingat semua kenangan bersama Almira dan tentu saja tidak semua kenangan berjalan buruk seperti belakangan ini. Sebelumnya jika diingat-ingat, kami sering melewati banyak hal yang seru hingga membuat kami berdua menjadi sangat dekat.
"Mira, pokoknya kamu harus kuat ya! Kakak sebentar lagi datang dan kita akan kembali bertemu. Lagi kenapa juga kamu harus merahasiakan semua ini dari ibu dan Mas Denis? Kenapa, Mira?" Di dalam hati, aku sedikit kesal dengan keputusan Almira karena menyembunyikan rahasia besar yang seharusnya dia ceritakan pada suami dan juga ibuku. Tetapi, aku yakin jika dia pasti punya alasan kuat kenapa sampai nekat memilih jalan yang jika aku pikir, pasti sangat berat untuk dijalaninya. Bagaimanapun, berpisah dengan Keisha adalah hal yang menurutku sangat menyakitkan untuknya. Karena di dunia ini, tidak ada satu wanita itu pun yang ingin meninggalkan anak kandungnya.
Bersambung ✍️
__ADS_1
...Selamat malam, Bestie. Jangan lupa berikan gift untuk novel ini ya agar Author lebih semangat update. Terima kasih banyak....
...Follow Instagram Author: ekapradita_87...