Wanita Pengganti Di Malam Pertama

Wanita Pengganti Di Malam Pertama
Pemikiran Salah


__ADS_3

Selamat membaca!


Setiba di rumah ibu, aku singgah sejenak menemaninya makan dan minum obat. Kemudian aku memutuskan pamit karena aku harus ke rumah sakit menjenguk Almira, aku juga mengatakan agar ibu tidak perlu mengkhawatirkan anak bungsunya lagi karena aku akan mengurusnya sampai dia sembuh. Mendengar perkataanku, raut wajah ibuku tampak begitu tenang hingga ia pun langsung memelukku.


"Terima kasih ya, Lissa. Kamu itu Kakak yang sangat bertanggung jawab. Ibu bangga sama kamu." Ungkapan itu seketika membuat senyuman terulas dari kedua sudut bibirku.


"Itu memang sudah tugas aku, Bu. Sekarang yang penting Ibu sehat-sehat ya!" Baru selesai mengatakan itu, suara dari seorang pria terdengar memanggil dari depan gerbang rumah.


"Siapa yang datang, Bu?" Aku bertanya sambil mengurai pelukan ibuku yang kini mulai memastikan siapa gerangan tamu yang datang sebelum menjawab pertanyaanku.

__ADS_1


Dari tempatku berdiri di teras rumah, aku dapat melihat seorang pria tampak ingin berkunjung.


"Itu sepertinya Delano." Setelah ibuku melihatnya dengan seksama, akhirnya dia pun menjawab pertanyaanku.


"Apa dia kekasih Mira?" tanyaku dalam hati yang sangat penasaran akan sosok pria yang jika dilihat-lihat memiliki wajah yang tak kalah tampan dari Mas Denis.


"Bu, tapi aku buru-buru, enggak apa-apa ya aku pergi duluan soalnya aku takut kalau kesorean nanti Mas Denis keburu pulang kerja." Setelah ibuku mengizinkan, aku pun masuk ke dalam taksi yang memang sejak tadi sudah aku minta untuk menungguku. Saat ini, aku sangat tidak sabar melihat reaksi Almira yang pasti akan merasa bersalah saat mengetahui tentang ibuku yang pergi ke apotek seorang diri.


Setibanya di ruang rawat Almira, dia tampak merasa bersalah setelah aku mengatakan kondisi ibu padanya.

__ADS_1


"Apa sih kerjaan kamu di rumah sampai enggak tahu kalau obat ibu habis? Bagaimana kalau sampai ibu kenapa-kenapa di jalan? Mau kamu membiayai pengobatannya? Kalau tidak ada aku entah bagaimana nasib ibu di tangan anak tidak berguna sepertimu! Pokoknya kalau sampai terjadi sesuatu pada ibu gara-gara kamu, aku tidak akan mau membiayai pengobatannya lagi dan kamu harus tanggung sendiri" Aku menunjukkan wajah kesal di hadapannya.


Almira pun menunduk dan mulai menangis. Rasa sesal dan bersalah tergambar jelas di wajahnya. "Kak, tolong jangan seperti ini! Aku janji akan lebih memperhatikan ibu. Pokoknya hal ini tidak akan lagi terulang dan aku juga janji akan menjaga rahasiamu dari Mas Denis." Almira terdengar sungguh-sungguh saat mengatakannya sambil menatapku dengan sorot mata memohon. Dia benar-benar ketakutan kalau aku sampai lepas tangan soal pengobatan ibu. Rasa takut yang membuatku tersenyum puas karena itu artinya, aku telah berhasil menaklukkan pemikiran Almira yang keras kepala sejak kemarin.


"Bagus, Mira. Akhirnya kamu mengambil keputusan yang tepat. Soalnya tidak mungkin juga kamu sampai mengorbankan kuliahmu yang hampir selesai." Aku menepuk lengan Almira yang bertumpu di atas pahanya. 


Sementara itu, dia hanya menanggapi perkataanku dengan senyum singkatnya yang terlihat samar oleh pandanganku.


"Oh ya, kata dokter besok kamu sudah boleh pulang. Jadi semua biaya pengobatanmu sudah aku lunasi. Besok aku akan jemput kamu dan mengantarmu pulang ke rumah!" Setelah mengatakannya, aku pun meletakkan sekotak kue kesukaan Almira di atas nakas. 

__ADS_1


"Terima kasih ya, Kak. Kakak masih ingat kue kesukaanku," ucap adik kembarku itu dengan senyuman. Entah aku yang salah lihat atau mungkin penglihatanku memang benar, tetapi aku sempat melihat senyuman tipis penuh kebencian terulas dari kedua sudut bibirnya yang cepat berganti dengan senyum manisnya. Tadinya aku berpikir jika dia sedang berpura-pura mengalah demi aku karena merencankan sesuatu di belakangku, tetapi semakin aku berpikir, aku sangat meragukan hal itu terjadi karena aku percaya jika Almira tidak akan lagi berani macam-macam denganku.


Bersambung ✍️


__ADS_2