Wanita Pengganti Di Malam Pertama

Wanita Pengganti Di Malam Pertama
Pikiran Rumit


__ADS_3

Selamat membaca!


Melihat kondisi Almira, akhirnya aku dan Mas Denis memutuskan untuk membawanya ke kamar yang sudah dirapikan oleh Inah. Di depan Mas Denis aku benar-benar menunjukkan perhatian sebagai seorang kakak pada Almira yang terus menatapku dingin karena dia pasti sudah tahu kalau aku hanya sedang bersandiwara.


"Kenapa kamu sampai berubah jadi seberani ini, Mira? Kenapa?" batinku menyesali sikap Almira yang begitu berbeda dari sebelumnya. Entah apa alasannya, tetapi sejauh apa yang aku dengar dari perkataannya, semua itu karena perbuatanku yang sudah membuatnya sampai kehilangan janin dalam kandungannya.


Setibanya di kamar, ternyata ibuku juga menyusul kami dan raut wajahnya tampak begitu cemas saat mengetahui kondisi Almira yang baru saja kurebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Mira, kamu kenapa?" Ibuku langsung duduk di tepi ranjang tepat di sebelah Almira. Mengusap pucuk kepalanya dengan lembut dan itu benar-benar membuatku cemburu. Perhatian itu sangat jarang aku dapat dari ibuku, apa mungkin karena aku pernah tinggal terpisah bersama ayah sebelum kembali pada ibu hingga kasih sayang ibuku lebih tercurahkan sepenuhnya pada Almira.

__ADS_1


"Aku enggak apa-apa, Bu. Mungkin aku hanya kecapekan saja."


"Ya sudah Mira kamu istirahat saja ya! Saya tinggal dulu ya, Bu." Mas Denis pun tersenyum sambil mengajakku pergi dari kamar adikku. Meninggalkan ibu dan juga Almira yang tak henti-hentinya menatapku dengan tajam tanpa sepengetahuan siapa pun.


"Kalau malam ini Ibu mau tidur di sini, tidur di sini saja ya! Lagi pula tempat tidur itu cukup besar dan bisa ditempati berdua. Anggap seperti di rumah sendiri ya, Bu!"


"Iya, Lissa. Makasih ya."


"Sayang, tunggu aku dong!" pintaku merengek manja saat hampir berhasil menyamakan langkah kakiku dengan Mas Denis. Aku pun berusaha mengambil hati suamiku agar dia tidak lagi marah.

__ADS_1


"Kamu bisa jalan sendiri, kan? Jadi, aku enggak perlu menunggu kamu."


Jawaban itu lagi dan lagi terdengar dingin di telingaku. Membuatku heran sebenarnya apa yang telah terjadi hingga Mas Denis sikapnya bisa berubah sedemikian rupa terhadapku. Bukan hanya membuatku heran, aku juga dipenuhi tanda tanya. Namun, semakin aku berpikir, aku malah semakin bingung. Otakku seolah menemukan jalan buntu karena sulit membaca apa yang sebenarnya dipikirkan Mas Denis.


"Mas, kamu kenapa sih jutek banget sama aku? Oke aku ngaku salah karena tadi saat kita akan bercinta aku sempat melarang kamu melakukan apa yang kamu mau. Bagaimana kalau kita lakukan lagi seperti di malam pertama itu, aku akan menuruti semua yang kamu mau, Mas." Akhirnya hanya perkataan itu yang terpikirkan olehku. Aku berharap setelah ini Mas Denis tak lagi acuh padaku dan kembali bersikap baik seperti biasanya.


"Aku tidak bisa, soalnya aku ada kerjaan dan harus menyelesaikannya malam ini juga. Jadi, sebaiknya kamu tidur saja dan tidak perlu menungguku." Mas Denis melangkah begitu saja meninggalkanku yang masih terkejut mendengar jawabannya. Seketika hatiku merasa sakit. Pikiranku benar-benar kacau dengan segala hal yang terjadi. Belum selesai masalah Almira yang berubah jadi menantangku, kini Mas Denis juga menambah beban pikiranku hingga membuat kepalaku mulai berdenyut karena begitu pusing memikirkan semuanya.


"Ya Tuhan, kenapa jadi seperti ini? Apa Mas Denis bisa berubah karena dia sudah mengetahui semuanya? Apa jangan-jangan Mira sudah mengatakan pada Mas Denis tentang malam pertama itu, makanya Mas Denis meminta aku jujur saat di mobil tadi?" batinku teringat dengan perkataannya saat dalam perjalanan menjemput ibu dan Almira. Saat itu, Mas Denis memintaku untuk jujur dan seolah-olah dia memang sudah mengetahui segala hal yang aku sembunyikan.

__ADS_1


Bersambung ✍️


__ADS_2