
Selamat membaca!
Dua hari sudah aku berada di rumah. Saat ini, kondisiku sudah semakin membaik, walau tangan kananku masih dibalut perban. Hari ini, seperti yang telah aku rencanakan sebelumnya dengan Delano, kami akan pergi ke rumah Fadhly untuk menemui Meisya. Tentu saja kami telah mendapatkan izin dari Fadhly karena dia mengatakan bahwa istrinya sudah jauh lebih tenang dan aku harap, dia bisa memaafkanku atas kesalahan yang aku lakukan di masa lalu
"Kamu enggak usah takut ya, Sayang. Kita hadapi semuanya sama-sama." Delano menatapku sesaat setelah menempati kursi kemudi.
"Iya, No. Apa pun yang terjadi nanti, aku pasti siap menghadapinya. Lagi pula dulu aku berani melakukan semua itu dan hari ini, aku juga harus berani minta maaf pada Meisya. Aku sangat berharap dia mau memaafkanku agar aku bisa menjalani hidup dengan lebih tenang ke depannya tanpa bayang-bayang kesalahanku di masa lalu."
"Iya, Sayang. Aku yakin dia pasti akan maafin kamu. Pak Fadhly juga sudah sempat bicara sama aku di telepon kalau istrinya menyambut baik maksud kedatangan kita hari ini ke rumahnya. Jadi, aku pikir tidak ada yang perlu kamu cemaskan. Setelah dari sana, bagaimana kalau kita pergi ke mal? Aku mau nyicil untuk beli perlengkapan anak kita."
__ADS_1
Aku sejenak terdiam. Coba mengingat apa yang pernah ibu katakan padaku. "Tapi, No ... bukannya terlalu cepat kalau kita beli sekarang. Aku pernah dengar dari ibu, katanya pamali kalau beli perlengkapan bayi dari sekarang, bagaimana kalau kita belinya nanti saja kalau usia kandunganku sudah 7 bulan?"
Delano sejenak berpikir sambil mulai melajukan mobil keluar dari pelataran rumah. Mungkin dia baru mendengar tentang hal itu dari aku. Sesuatu yang menurut sebagian orang dianggap benar dan banyak juga yang tidak memedulikannya. "Kalau kata ibu seperti itu, ya sudah deh, sebaiknya kita ikuti saja. Aku enggak mau sampai anak kita kenapa-napa."
Kami pun akhirnya sepakat, walau sejujurnya aku juga sudah tidak sabar mempersiapkan segala sesuatunya untuk anak yang ada dalam kandunganku ini. Anak pertama di kehamilanku yang pertama dan benar-benar membuat aku juga Delano merasa sangat bahagia.
***
"Ayo silakan masuk! Kalian duduk dulu ya! Saya panggilkan istri saya di kamar," ucap Fadhly dengan begitu ramah.
__ADS_1
Setelah melihat kami duduk di salah satu sofa panjang yang ada di ruang tamu, Fadhly pun melangkah menuju anak tangga yang ada ujung ruangan. Namun, tiba-tiba suara Meisya terdengar dari depan pintu. Ya, ternyata dia tidak berada di kamarnya.
"Kalau niat kamu ke sini untuk minta maaf, aku baru bisa maafin kamu asalkan kamu mau melakukan satu hal untukku."
Seketika aku terkesiap. Bola mataku terus menatap Meisya hingga dia duduk tepat di seberangku. Sementara Fadhly, aku lihat dia kembali ke ruang tamu dan mengurungkan niatnya untuk pergi ke kamarnya yang berada di lantai 2.
"Melakukan apa?" Spontan aku bertanya. Menatap Meisya penuh tanda tanya. Entah kenapa dari saat dia mengatakan itu, perasaanku mulai berubah jadi tidak tenang. Aku pikir, pasti akan ada sesuatu yang dia minta dan entah apa itu, sulit rasanya membaca pikirannya saat ini.
Bersambung ✍️
__ADS_1
...Halo, Bestie. Jadi, di usia kandungan berapa kalian sudah mempersiapkan kebutuhan untuk calon buah hati kalian. Yuk, silakan share pengalaman kalian juga ya. Terima kasih....