
Selamat membaca!
Selama dua jam aku terus mengalami sakit yang begitu menyakitkan pada bagian perutku, kini setelah meminum obat yang dibelikan oleh Inah di apotek, aku sudah mulai merasa jauh lebih baik dari sebelumnya. Sejak tadi ibu terus menemaniku di kamar. Mengusap bagian belakang perutku saat aku merintih kesakitan dan perhatiannya benar-benar terasa nyata untukku. Padahal aku sempat mengira jika ibu pilih kasih dan lebih sayang pada Almira, tetapi ternyata anggapanku itu salah. Ibu adalah ibu. Seorang ibu pasti selalu akan menyayangi putrinya tanpa pernah membeda-bedakan. Mungkin selama ini karena terlalu sering menghabiskan waktu di luar rumah untuk bekerja, aku jadi kehilangan banyak waktu yang berharga dengan ibu dan momen tadi seolah menyadarkan aku bahwa ternyata ibu begitu menyayangiku. Dia juga lagi-lagi berkata bahwa dia bangga memiliki putri seperti aku. Putri yang selama ini sudah bekerja keras demi keluarganya. Tentu saja ibu tidak tahu jika pekerjaan yang aku lakukan lebih dari hanya seorang SPG rokok. Ya, menjadi simpanan lelaki hidung belang adalah duka mendalam dari kumpulan masa laluku yang kelam. Sebuah jalan yang sebenarnya tidak ingin aku pilih, tetapi saat itu aku benar-benar tidak punya pilihan lain.
Kini tepat pukul 11 siang, aku sudah selesai dengan aktivitas mandiku. Merias diri secukupnya karena memang aku tidak memiliki kesibukan di luar rumah hari ini. Aku hanya ingin pergi ke apotek untuk membeli obat tidur yang nantinya akan aku berikan pada Almira. Rencana yang harus aku jalani untuk membuktikan kecurigaanku.
"Semoga rencana ini berhasil, tapi bagaimana jika ternyata Mas Denis dan Mira memang punya hubungan di belakangku? Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus berpisah dengan Mas Denis?" Keraguan itu sejak tadi selalu mengusikku. Bahkan beberapa kali aku sampai menangis saat pikiran itu kembali muncul dalam memenuhi isi kepalaku. Sesuatu yang begitu menyakitkan dan aku merasa hal itu tidaklah sebanding dengan apa yang sudah aku lakukan pada Almira. Aku merasa ada hukuman lain yang lebih pantas aku terima dari pengkhianatan itu.
"Tidak, aku tidak akan mengalah dari Mira. Kalau dia memang terbukti menggoda suamiku dan bermaksud merebut posisiku, maka aku akan mengusirnya dari rumah ini." Sorot mataku berubah tajam. Menatap pantulan diriku yang masih mematutkan diri di depan cermin rias.
Setelah merasa penampilanku sudah cukup baik, aku pun mulai melangkah sambil memasukkan ponsel dan juga dompetku ke dalam tas kecil yang akan aku bawa ke apotek. Namun, di saat bersamaan ibuku datang. Melihatku dengan cemas dan penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Lissa, kamu mau ke mana? Ini Ibu baru mau ngajak kamu makan siang, tapi kok kamu malah pergi. Memangnya sakit perut kamu sudah sembuh?"
"Sudah, Bu, ini sudah baikan. Kebetulan aku ada janji sama teman di luar. Sebentar doang kok, Bu. Aku juga enggak lama-lama perginya. Ya, paling satu sampai dua jam saja," jawabku dengan santai, walau sebenarnya tengah berbohong. Lagi pula tidak mungkin jika aku mengatakan hal yang sejujurnya kalau aku akan pergi ke apotek, pasti ibu akan merasa curiga karena tadi pagi aku sempat meminta Inah pergi ke apotek membeli obat untukku.
"Apa kamu sudah izin suami kamu, Lissa?"
Pertanyaan itu seketika membuatku terhenyak. Tentu saja aku tidak mengatakan pada Mas Denis tentang rencanaku hari ini. "Kalau itu aku memang belum izin, Bu. Tapi, nanti aku akan telepon Mas Denis kok, Bu. Jadi, Ibu tenang saja ya!" Sambil mengusap lengan ibu, aku mengajaknya keluar dari kamar yang baru dia masuki. Kami pun mulai melangkah bersamaan menuju anak tangga.
"Aduh, bagaimana ini? Enggak mungkin juga aku izin sama Mas Denis mau pergi ke apotek. Nanti dia pasti akan bertanya-tanya dan aku bingung harus mencari alasan apa," gumamku merasa cemas karena bingung saat ibu memintaku untuk izin pada Mas Denis.
Akhirnya, aku pun pura-pura menghubungi Mas Denis di depan ibu dan seolah-olah berbicara padanya hingga membuat ibu pun rela melepas kepergianku.
__ADS_1
Sayangnya, apotek yang berada di dekat perumahanku baru saja tutup beberapa menit lalu dan tentu saja aku harus pergi ke apotek lain yang jaraknya lebih jauh dari rumahku. Setibanya di sana, seperti biasa aku meminta pengemudi taksi untuk menunggu agar aku tidak perlu repot mencari taksi saat aku pulang nanti. Namun, di saat aku hendak masuk ke dalam apotek, tiba-tiba seorang pria keluar secara bersamaan hingga membuat kami saling bertabrakan.
"Maaf, maaf." Aku pun seketika berlutut, memunguti plastik berisikan obat yang jatuh di lantai.
"Iya enggak apa-apa." Pria itu menjawab. Suaranya terdengar begitu familiar di telingaku hingga membuatku bisa dengan mudah mengenalinya.
"Fadhly."
"Lissa."
Kami sama-sama saling memanggil dengan wajah yang tampak sekali menampilkan keterkejutan. Tentu saja pertemuan ini tidak terlintas dipikiranku sebelumnya. Pertemuan yang seketika mengingatkanku saat melihatnya berada di cafe sore itu. Apa ini adalah kesempatan untukku bertanya, apa tujuannya bertemu dengan asisten Mas Denis saat itu?
__ADS_1
Bersambung ✍️