
Selamat membaca!
Pikiranku tiba-tiba jadi tak karuan. Penasaran tentang apa yang membuatnya jadi terdiam. Tak ingin menerka-nerka, aku pun memilih bertanya pada Delano, "Sebelum apa? Kenapa kamu malah berhenti bicara?" Aku terus menatap kedua matanya hingga dapat melihat keraguan yang terpancar jelas dari kedua manik matanya saat ini. Mungkin itu yang membuat Delano berat untuk mengatakannya.
"Aku ...."
"Kenapa kamu sepertinya tidak ingin mengatakannya? Ada apa? Apa ini tentang Mira? Atau tentang siapa?"
Aku melihat Delano sejenak menghela napas. Seperti ada sebuah beban yang saat ini membuatnya sulit berkata-kata. Entah apa itu, tetapi aku mulai merasa cemas memikirkannya.
"Bukan tentang siapa-siapa, tapi ini tentang aku." Delano masih tak menjelaskan hingga membuat nafsu makanku jadi hilang seketika. Aku pun meletakkan kembali sepotong pizza yang baru aku makan beberapa gigitan pada tempatnya semula, kemudian menatap Delano dengan lebih tajam. Berharap agar dia mau bicara padaku dan tidak terus-menerus diam sampai membuat otakku jadi berpikir tak karuan.
"Tadinya aku tidak ingin mengatakan ini, tapi aku rasa, aku harus tetap memberi tahumu."
Aku masih menanti jawabannya, walau jantungku sudah berdetak tak karuan mendengar ucapan Delano. "Katakanlah! Menurutku itu lebih baik daripada menyembunyikan sesuatu yang malah memberatkanmu."
__ADS_1
Aku coba menguatkan hati. Mendengar apa yang akan disampaikan oleh Delano yang benar-benar membuat debaran jantungku jadi berdetak tak karuan.
"Mungkin ini hari terakhir aku datang mengunjungimu."
"Kenapa? Sebenarnya apa yang terjadi?" Aku langsung bertanya karena merasa begitu terkejut atas apa yang baru saja aku dengar. Bagaimana tidak, di saat hatiku mulai merasa nyaman dengan kehadirannya, dia malah mengatakan tidak akan lagi menemuiku dan itu benar-benar membuatku terluka.
"Aku mendapatkan tawaran beasiswa untuk melanjutkan pendidikan S2 ke London."
Setelah mendengar perkataan Delano, kini aku mulai mengerti bahwa semua itu jauh lebih penting daripada hanya menemaniku hingga aku bebas nanti. Bagaimana pun Delano berhak mengejar impiannya, apalagi dia sampai mendapatkan beasiswa yang tidak boleh ditolaknya karena itu merupakan kesempatan yang istimewa menurutku. Terlebih Oxford University adalah salah satu tempat kuliah terbaik di Inggris, bahkan saat ini Oxford berada di urutan pertama selama 7 tahun berturut-turut sebagai tempat kuliah terbaik di dunia.
"Pergilah, Delano! Bagaimanapun tawaran itu tidak mungkin kamu tolak, kan? Jadi, kamu harus tetap pergi dan kejar mimpimu di sana! Kamu harus bisa sukses dan membuat Mira menyesali keputusannya karena telah mengabaikanmu dan lebih memilih Mas Denis."
Aku coba mengulas senyuman. Bersikap biasa seolah tak terjadi apa-apa sambil menahan air mata yang sulit aku ajak kerja sama karena telah berhasil membuat kedua manik mataku terasa berkabut.
"Jangan menangis, Lissa! Aku hanya pergi untuk sementara. Aku janji! Selama di sana aku akan sering mengirim surat padamu. Nanti saat aku kembali, aku pasti akan menemuimu dan sampai saat itu tiba, berjanjilah kamu akan tetap baik-baik saja!" Delano menyodorkan tangannya, mengusap air mata di kedua pipiku dengan perlahan.
__ADS_1
"Aku enggak nangis kok." Aku mengalihkan pandanganku setelah menjauhkan tangan Delano yang baru saja mengusap air mataku. Coba memaksakan diri untuk tersenyum dan bersikap kuat di depannya, walau saat ini aku merasa rapuh karena entah kenapa kabar yang diberikan oleh Delano sungguh membuatku sedikit terpukul. Tetapi aku sadar, aku harus ikhlas melepaskannya.
"Lebih baik kamu enggak perlu janji apa-apa sama aku daripada nantinya kamu malah akan mengingkarinya. Sekarang yang paling penting adalah kamu harus semangat untuk mengejar impian kamu. Aku masih ingat kok dulu kamu pernah bilang sama aku kalau kamu itu ingin sekali kuliah di sana dan sekarang impian itu sudah ada di depan mata. Jadi, jangan sampai kamu sia-siakan ya!"
Di saat aku baru selesai mengatakannya, Bu Retno datang menghampiriku. Dia memberi tahu padaku bahwa waktu kunjungan sudah berakhir dan tibalah saatnya bagiku untuk kembali ke sel tahanan.
"Ya sudah kamu jaga kesehatan ya selama di sana! Oh ya, ini terima kasih lho pizza-nya. Aku boleh bagi-bagi teman-teman lain di dalam, kan?"
Delano hanya mengangguk. Dia sejak tadi masih diam tak bicara sepatah kata pun, hanya menatapku dengan kedua mata yang sudah tampak memerah. Sepertinya dia juga sama seperti aku, sedang menahan air mata yang sudah hampir menetes dengan sekuat tenaga.
"Lissa, aku pasti akan menepati janjiku!" Akhirnya dia bicara setelah langkahku hampir menjauh darinya. Aku pun seketika menoleh. Melihat ke belakang, di mana dia sedang tersenyum sambil menatapku penuh keyakinan.
"Aku pegang janji kamu." Aku hanya menjawab dalam hati. Menampilkan seulas senyuman agar Delano tahu bahwa aku sudah mendengar apa dikatakannya.
Bersambung ✍️
__ADS_1
...Terima kasih ya karena sudah selalu sabar menunggu kelanjutannya. ☺️☺️...