
Selamat membaca!
Saat melihat Delano malah berhenti melangkah dan berbalik untuk menanggapi semua perkataan Meisya, tiba-tiba Fadhly datang dan langsung mendorong tubuh kami berdua hingga keluar dari rumahnya.
"Kalian pulang saja! Jangan pedulikan apa yang istri saya bicarakan."
Apa yang dilakukan Fadhly sungguh membuat aku terkejut. Aku tidak menyangka dia melindungiku dari kemarahan istrinya yang terus merutukiku dengan kata-kata kejamnya. Perkataan yang membuat Delano seperti sedang menahan amarah dalam dirinya. "No, sudah ayo pulang saja! Aku enggak mau buat keributan di sini!"
Sebelum pintu ditutup oleh Fadhly, tangan Meisya berhasil merangsek keluar hingga dapat meraih rambut panjangku. Bukan hanya mencengkram dengan keras, dia juga sampai menariknya hingga aku mengaduh kesakitan.
"Dasar wanita murahan!" Meisya terus menarik rambutku dengan kasar. Namun, itu tidak berlangsung lama karena Fadhly dapat menahan tangannya, lalu menutup pintu rumah setelah berhasil melepaskan cengkraman tangan Meisya dari rambutku.
__ADS_1
"Ternyata kamu, wanita yang sudah menghancurkan keluargaku. Apa kamu tidak tahu? Karena kamu, aku sampai kehilangan anak kedua yang sedang aku kandung! Kamu kejam, Lissa! Kamu enggak punya perasaan! Harusnya sebagai seorang wanita kamu setidaknya tahu bagaimana rasa sakitnya dikhianati." Meisya berteriak dengan sangat keras dan itu benar-benar terdengar jelas di telingaku. Bukan hanya aku, Delano pun tampak mengerutkan keningnya.
"Semua kebahagiaan yang kamu rasakan dua tahun ini akan berakhir, Lissa. Delano sekarang sudah tahu semua aib masa lalu kamu dan pasti sebentar lagi dia akan membencimu," batinku bicara dengan diriku sendiri setelah melihat raut wajah Delano seperti tengah mencerna perkataan yang didengarnya dari mulut Meisya.
"Ayo kita pulang!" Hanya itu yang Delano ucapan padaku di tengah suara perdebatan yang terjadi di dalam rumah antara Fadhly dan Meisya. Apa yang terjadi saat ini benar-benar tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Aku berharap ini hanyalah sebuah mimpi. Mimpi yang akan berakhir setelah aku terbangun dan semua ini tidak pernah terjadi dalam hidupku. Jujur saja, aku tidak ingin kehilangan Delano. Tidak ingin rumah tangga yang aku jalani kedua kalinya hancur karena masa lalu yang seharusnya aku ceritakan pada Delano. Bodohnya aku, lagi-lagi aku melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Kalau dulu aku takut menceritakan ketidakperawanku pada Mas Denis, sekarang saat bersama Delano, aku juga tidak punya keberanian untuk menceritakan bahwa aku pernah menjadi seorang wanita simpanan.
"No, maafkan aku ya. Maaf karena sudah membuatmu malu."
"Dia pasti sudah membenciku saat ini," batinku begitu sedih hingga membuat kedua mataku mulai berkabut. Tentu saja ini sangat menyakitkan untukku. Di tengah kebahagiaan yang tadinya ingin aku bagi dengan Delano, tetapi malah rasa sakit ini yang aku dapatkan. Dipermalukan, dihina, dan sekarang aku harus siap dengan kenyataan pahit bahwa Delano mungkin saja sudah membenciku.
"No, maafkan aku ya." Aku kembali mengatakan itu. Mengulangi permintaan maafku dan berharap Delano mau menjawabnya. Saat ini, aku merasa tidak ada yang harus aku jelaskan karena apa yang Meisya katakan semuanya benar. Aku memang kejam, aku benar-benar murahan. Apa yang aku lakukan terhadap Meisya memang tidak sepantasnya, apalagi aku baru tahu bahwa rasa sakit yang aku berikan sampai membuat Meisya kehilangan anak dalam kandungannya.
__ADS_1
Harapanku pupus saat Delano kembali mengabaikan ucapanku, dia hanya melajukan mobilnya. Meninggalkan pelataran rumah Fadhly tanpa sekalipun melihatku.
"Ternyata dia memang benar-benar marah sampai tidak mau mengatakan apa-apa." Aku pun mengambil kotak kado dari dalam tas kecil yang aku bawa. Kado yang memang tidak aku masukkan ke dalam paper bag yang berisikan makan siang yang aku titipkan pada resepsionis. Seharusnya saat ini, aku lah yang sedang marah karena suara tangisan wanita di dalam ruangannya, tetapi semua berbalik, sekarang aku harus siap menerima kuensekuensi dari kesalahan masa laluku. Kesalahan yang mungkin bisa saja membuat Delano menceraikan aku nantinya.
"Maafkan Mama ya, Dek. Mama mengacaukan rencana kita hari ini. Mama seharusnya tidak pergi dan tetap menemui papa kamu tadi sewaktu di kantornya. Mama memang bodoh." Aku mengatakan itu di dalam hati sambil mengusap bagian perutku dengan sebelah tangan, lalu sebelah tangan lagi masih menggenggam kotak kado dengan erat. Rasanya begitu menyakitkan hingga tanpa sadar, air mataku pun lolos begitu saja membasahi kedua pipiku.
Bersambung ✍️
...Halo, Bestie. Mampir yuk ke novel Author yang lainnya. Temanya tentang cinta beda usia antara Darren dan Dyra....
...Bagaimana rasanya bila di hari pernikahanmu, laki-laki yang kamu cintai pergi begitu saja dan posisinya harus digantikan oleh calon mertuamu? Sebuah kenyataan pahit harus dialami oleh Dyra Anastasya seorang dosen cantik yang harus menikah dengan calon mertuanya. Ikuti ceritanya hanya di novel, Suamiku Calon Mertuaku. (Sudah Tamat)...
__ADS_1