
Selamat membaca!
2 bulan sudah aku menjalani hukuman sejak putusan aku terima dari pengadilan. Itu artinya, aku masih harus menjalani hukuman selama 4 tahun setengah lagi sebelum bisa dibebaskan. Waktu yang tentu saja sangat panjang bagiku. Aku benar-benar merasa bosan dan jenuh. 1 hari seperti satu bulan untukku. Bahkan entah kenapa waktu di dalam penjara terasa berlalu dengan begitu lambat. Terkadang aku sampai menghabiskan waktu hanya dengan tidur dan tidur saja, tetapi semakin aku pikir lagi, itu tidak mungkin aku lakukan sampai aku bebas nanti.
Aku tidak boleh terus menerus terpuruk dalam kesedihan yang hanya membuatku menangis dan menangis. Ya, akhirnya aku pun memutuskan untuk berbaur dengan para tahanan lainnya. Di lapar tempat di mana aku ditahan saat ini, aku mendapatkan teman baru. Namanya Reni dan Hana, mereka sangat baik dan memperlakukan aku layaknya seorang teman. Mereka jugalah yang membuatku sadar bahwa setiap narapidana tidak semuanya sama seperti Adel dan teman-temannya.
"Lissa, ada yang mengunjungimu." Seorang petugas lapas bernama Retno datang memanggilku.
"Siapa, Bu?" tanyaku pada Bu Retno setelah menyudahi percakapan yang baru aku mulai dengan Hana.
"Seorang pria, tapi dia tidak menyebutkan namanya. Sebaiknya kamu keluar dan temui saja dulu!"
Tanpa bertanya apa-apa lagi aku pun keluar setelah Bu Retno membukakan sel tahanan. Tadinya aku sempat berpikir jika itu adalah Fadhly, tetapi ternyata aku salah. Ya, setelah aku tiba di ruang kunjungan, kedua mataku sudah langsung melihat sosok Delano tampak menungguku di kursi tunggu.
__ADS_1
"Ada apa dia ke sini ya?" tanyaku dalam hati, masih merasa bingung akan maksud kedatangannya. Padahal jauh di dalam hati, aku sangat berharap setidaknya Mas Denis mau datang mengunjungiku. Namun, nyatanya semua itu tidak pernah terjadi hingga detik ini.
"Lissa, kamu apa kabar? Bagaimana keadaan kamu di sini?" Dia bertanya padaku sesaat setelah aku menempati kursi yang ada tepat di seberangnya. Sementara Bu Retno sudah kembali ke tempatnya semula meninggalkanku hanya berdua dengan Delano.
"Di bilang baik tidak juga," jawabku dengan wajah yang sendu. Aku sebenarnya tidak ingin jika Delano sampai mengasihaniku, tetapi beginilah keadaanku. Aku hanya coba jujur dengan kondisiku saat ini.
Mendengar jawabanku, Delano yang sejak tadi melihatku dengan penuh simpati tiba-tiba menggenggam tanganku yang bertumpu di atas meja. Jujur saja aku sangat kaget karena dia sampai melakukan itu hingga aku seketika menarik tanganku yang sudah digenggamannya.
"Maksudnya apa ini? Ingat! Aku ini bukan Mira." Nada suaraku sengaja aku ketuskan karena aku memang tidak suka Delano tiba-tiba menggenggam tanganku, apalagi ini baru pertemuan kedua kami.
Aku coba mengingat wajah Delano. Memutar kembali ingatanku jauh ke belakang dan ternyata apa yang dikatakannya benar. Ya, Delano adalah pria yang selalu jadi penolongku saat aku masih duduk di bangku SMP dulu. Bukan hanya sering mengerjakan PR-ku, tetapi dia juga selalu membantu mengerjakan soal-soal ulangan yang tidak aku mengerti.
"Pantas saja aku tidak bisa mengenalimu. Ke mana kacamata kamu? Terus, kenapa rambut kamu tidak lagi kribo seperti dulu?" tanyaku merasa heran karena bisa-bisanya pada pertemuan pertama waktu di rumah sakit aku tidak mengenali Delano sebagai teman masa kecilku
__ADS_1
Delano mulai tersenyum. Mungkin dia merasa lega karena aku bisa mengenalinya setelah dengan susah payah mengingat. "Aku merasa dulu penampilanku terlalu culun kalau mengenakan kacamata tebal itu. Jadi, sejak lulus SMA aku lebih memilih memakai softlens. Dan soal rambut, aku memang sempat mencukur habis dan setelah tumbuh lagi entah kenapa rambutku tidak lagi sekeribo dulu."
"Terus kenapa kamu datang ke sini?"
Delano sejenak terdiam. Dia seperti terlihat ragu antara mau bicara atau tidak. Sampai akhirnya, dia mulai melihatku setelah sempat tertunduk. Pandangannya kini tak teralihkan, dia begitu lekat menatap wajahku. "Aku sempat mendengar cerita dari Mira tentang bagaimana kamu memperlakukannya sampai berani menipu suamimu sendiri di malam pertama kalian. Bahkan kamu juga mengancam Mira agar mau menuruti semua keinginanmu. Awalnya aku enggak percaya semua itu. Aku sempat marah dan bilang pada adikmu kalau dia sedang berbohong!"
"Kenapa kamu enggak percaya, padahal semua yang dikatakan Mira itu semua benar."
Delano tampak menarik napas panjang, lalu mengembuskan dengan perlahan. Wajahnya kini semakin sendu dan kembali menatapku yang sedang menunggu jawabannya. "Karena Alissa yang aku kenal dulu adalah Alissa yang manis dan baik hati. Alissa yang peduli terhadap siapa pun dan tidak akan mungkin sampai menyakiti orang lain. Tapi, kenapa kamu berubah? Kenapa kamu bisa jadi seperti ini, Lissa?"
Aku hanya bisa diam. Jujur aku sendiri tidak mengerti kenapa aku bisa berubah dan sampai hati melakukan semua itu.
Bersambung ✍️
__ADS_1
...Mampir, Bestie ke novel Author yang lain. Tentang kisah perjuangan Zoya dalam menghadapi paksaan dari Lucas yang hanya menginginkan tubuhnya dan juga anak dalam kandungannya saja. Yuk, Bestie! Dukung dan kasih semangat untuk Zoya dalam novel, One Night Destiny. Ditunggu komentar kalian ya. Terima kasih....