
Selamat membaca!
Setelah pertemuan dengan Fadhly aku jadi semakin berpikir bahwa semua sikap baik Mas Denis tadi pagi itu hanya sebuah kepalsuan. Aku rasa dia tidak benar-benar memaafkanku dan senyum kecut yang aku lihat tanpa sengaja dari cermin yang ada di kamarku pasti menyimpan maksud lain.
Setibanya di rumah, aku langsung menuju kamar. Mengabaikan Inah yang sempat menawarkan makan siang untukku. Selama di perjalanan tadi, aku menahan diri agar tidak menangis. Menahan rasa sakit akibat kenyataan yang aku dengar dari Fadhly. Aku merasa sia-sia selama ini sudah menutupi aib masa laluku dari Mas Denis. Sekarang dia sudah tahu semua dan bukan tidak mungkin, aku pasti akan terbuang dan diceraikan olehnya.
"Sekarang bagaimana ini? Apa sebentar lagi Mas Denis akan menceraikanku?" Setelah masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu, aku langsung melempar tubuhku ke atas ranjang. Menangis begitu terisak, meluapkan segala luka di hati. Air mataku terus menetes tanpa henti hingga melemahkanku. Tak ada yang bisa aku lakukan selain menangis saat ini. Aku merasa semua kebahagiaan singkat yang sempat aku rasakan bersama Mas Denis sebentar lagi akan sirna, berubah menjadi penyesalan yang mungkin tidak akan bisa aku ubah. "Tapi, apa harus dengan cara ini kamu membalas kesalahanku? Menjalin hubungan dengan Mira, adikku sendiri. Ya Tuhan, aku benar-benar tidak rela jika Mas Denis sampai menjadi milik adikku. Kenapa bisa jadi seperti ini? Kenapa wanita itu harus Mira? Tidakkah kamu berpikir Mas kalau aku akan sangat terluka jika mengetahui semua kebenaran itu." Merasa tidak ada gunanya menangis, aku kembali duduk di tepi ranjang sambil mengusap air mata di kedua pipiku. Aku harus bersiap, menjalankan rencana yang sebenarnya tidak ingin aku jalani. Namun, semakin aku berpikir, cara ini adalah jalan satu-satunya yang bisa aku lakukan untuk membongkar pengkhianatan suami dan adik kembarku.
"Tapi, aku harus berpikir bagaimana caranya agar Mira mau meminum obat tidur ini? Kalau aku memberikan minuman padanya pasti dia tidak akan mau meminumnya?" Aku terus berpikir. Mencari cara yang tidak mudah dicurigai oleh adik kembarku. Sampai akhirnya, sebuah ide mulai terbesit dalam pikiranku. "Ya, mungkin cara itu akan berhasil. Aku akan minta tolong Inah untuk memberikan jus alpukat pada Mira, dia pasti tidak akan mengira itu atas perintahku selama Inah tidak memberi tahunya."
Sejenak aku melihat waktu pada jam dinding. Aku lihat masih ada beberapa jam lagi sebelum Mira kembali ke rumahku. "Lebih baik aku tidur siang dulu. Siapa tahu setelah bangun, pikiranku bisa jauh lebih tenang dari sebelumnya?" Aku pun kembali merebahkan tubuhku yang terasa begitu lelah di atas ranjang. Meraih sebuah guling yang memang biasa aku peluk saat tidur, lalu coba memejamkan kedua mataku.
***
Tepat pukul 2 siang, aku sudah terbangun dari tidurku. Walaupun hanya tertidur selama dua jam lamanya, saat ini tubuhku sudah jauh lebih rileks dari sebelumnya. Setidaknya tidak ada lagi rasa penat yang sempat membuat tubuhku terasa begitu ringkih. Tak ingin berlama-lama, aku pun segera keluar dari kamar. Mempersiapkan semuanya sambil melihat apa Almira sudah pulang dari kampusnya atau belum. Tidak lupa aku juga membawa obat tidur yang akan aku larutkan pada minuman adik kembarku.
__ADS_1
Setibanya di lantai bawah, aku melihat ibuku sedang berada di ruang keluarga. Dia tampak begitu asyik menonton televisi yang menampilkan acara siraman pernikahan putra dari orang nomor satu di negera ini. Namun, aku tidak memanggilnya. Aku hanya melihatnya sejenak dan kebetulan ibu juga tidak melihatku.
Selama beberapa menit, aku menyiapkan jus alpukat yang sudah aku campur dengan obat tidur yang sebelumnya sudah aku larutkan lebih dulu dalam air putih. Kini setelah selesai, aku langsung memanggil Inah.
"Inah, nanti kalau Mira pulang tolong kamu berikan jus alpukat ini ya!" titahku sesaat setelah asisten rumah tanggaku itu tiba tepat di hadapanku.
"Tapi, Bu, kenapa enggak Ibu sendiri yang memberikan ini sama Mbak Mira? Bukannya lebih bagus Ibu sendiri yang memberikannya agar Mbak Mira tahu kalau Ibu itu baik sama dia."
"Sudah kamu jangan banyak tanya! Pokoknya Mira enggak boleh tahu kalau ini saya yang sudah membuatkannya. Oke!"
"Tapi apalagi, Inah?"
"Kalau Mbak Mira tanya bagaimana?"
"Sudah bilang saja tadi kamu buatin Ibu saya jus alpukat, tapi ternyata Ibu enggak mau. Jadi, kata Ibu sebaiknya jus alpukat itu diberikan ke Mira saja. Sudah begitu ya, kamu paham, kan?"
__ADS_1
"Baik, Bu. Kalau begitu saya simpan dulu di kulkas ya sampai Mbak Mira pulang." Inah melihatku dengan raut wajah yang masih menyimpan tanda tanya. Mungkin dia bingung untuk apa aku sampai meminta melakukan hal itu. Namun, dia tidak berani membantah, apalagi sampai menolak perintahku.
Baru saja Inah menyimpan jus alpukat itu ke dalam lemari pendingin, suara Almira sudah terdengar dari depan rumahku. Ya, adikku mengucapkan salam sebelum masuk dan langsung disambut oleh ibuku yang seketika keluar dari ruang keluarga untuk menyambut kepulangannya.
"Nah, itu dia sudah pulang. Pokoknya kalau Mira sudah minum jus alpukat itu, suruh dia langsung ke kamar saya ya, Inah! Bilang saja kalau saya sudah dari tadi siang menunggunya pulang karena ada hal penting yang ingin saya bicarakan sama dia, oke!"
"Baik, Bu."
Setelah mendengar tanggapan Inah yang sudah mengerti segala perintahku, aku pun melangkah cepat sebelum Almira melihat keberadaanku di dapur. "Malam ini semua akan terbongkar dan aku akan membuat ibu jadi membenci Mira sampai ibu tidak akan melarangku untuk mengusirnya dari rumah ini." Aku pun tersenyum singkat. Merasa yakin atas semua rencana yang baru saja aku jelaskan pada Inah.
Bersambung ✍️
Penasaran dengan lanjutan ceritanya, apakah rencana Lissa akan berakhir?
...Jangan lupa berikan gift untuk novel ini ya, biar lebih semangat update! Karena Author laki-laki jadi Author lebih suka kopi, tapi kalau mau gift bunga juga boleh sih 🤭...
__ADS_1