Wanita Pengganti Di Malam Pertama

Wanita Pengganti Di Malam Pertama
Menanti Kedatangannya


__ADS_3

Selamat membaca!


Sesaat aku masih termangu diam, menatap pesan Delano sambil terus memikirkan segala kemungkinan yang mulai berputar-putar di kepalaku. Bagiku ini seperti sebuah harapan. Siapa tahu jika memang anak itu bukanlah anak Mas Denis, aku tidak perlu mengikuti permainan dari Almira saat ini? Tapi setelah aku berpikir dengan begitu keras, menurutku ini sangatlah janggal. Bagaimana bisa semua itu terjadi? Apa Delano dan Almira berhubungan setelah malam pertama itu? Kalau apa yang aku pikirkan benar, itu artinya, tidak ada satu orang pun yang bisa memastikan bahwa anak yang dikandung oleh Almira adalah anak dari Mas Denis atau Delano, kecuali dengan melakukan tes DNA. Namun, hal itu sangat mudah jika memang anak yang dikandung oleh Almira masih hidup, tetapi saat ini, situasinya seakan tidak memihakku karena aku sudah membuat Almira sampai keguguran.


Merasa buntu dengan pikiranku yang tak kunjung menemukan titik terang, akhirnya aku pun memutuskan untuk membalas pesan Delano, walau sebenarnya aku masih merasa ragu dan bingung harus membalasnya apa. Tentu saja aku tidak bisa sembarangan karena nantinya pasti Delano bisa curiga jika aku bukanlah Almira.


"Kira-kira aku harus membalas apa ya agar Delano mau menjelaskan tentang tanggung jawab yang dia maksud?" batinku masih sulit memilih kalimat yang tepat.


Setelah coba mengetik berapa kata pada ponsel Almira, aku kembali menghapusnya dan itu terjadi berulang kali hingga tak lama kemudian Delano menghubungiku.

__ADS_1


"Sekarang bagaimana ini? Dia malah telepon lagi." Aku yang bingung masih terus menimang-nimang apa aku harus menjawab panggilan telepon itu atau mengabaikannya. Namun, di saat aku baru saja menjawab, tiba-tiba langkah ibuku terdengar semakin dekat.


"Ya Tuhan, bagaimana aku bisa menanyakan maksud pesannya tadi kalau ada ibu? Pokoknya mau bagaimanapun, ibu enggak boleh tahu tentang semua ini. Aku tidak ingin jika ibuku sampai jatuh sakit lagi karena memikirkan permasalahanku dengan Amira." Aku hanya bisa berkata dalam hati dengan raut wajah yang begitu serius memikirkan semua hal yang menimpaku saat ini.


"Aku sudah sampai di rumah sakit tempat kamu dirawat, kamu dirawat ruangan mana, Mira?" Pertanyaan itu terdengar dari seberang sana setelah aku hanya bisa mengatakan halo tanpa melanjutkan perkataanku lagi.


"Jadi, dia benar-benar ingin menemuiku?" gumamku sambil melihat ibu yang sudah duduk di tempatnya semula tepat di sampingku.


"Ini lantai 4, kamar teratai nomor 18. Teman kamu sudah datang ya, Mir?"

__ADS_1


"Iya, Bu. Sebentar ya aku mau ngasih tahu dulu di mana ruang rawat aku." Setelah izin untuk kembali bicara dengan Delano, aku mulai menyampaikan apa yang telah dikatakan oleh ibuku.


"Kamu mau aku bawakan apa? Nanti aku akan belikan." Delano terdengar begitu perhatian. Membuatku bingung kenapa Almira bisa mengabaikannya dan lebih memilih untuk merencanakan balas dendamnya kepadaku dengan merebut suamiku.


"Tidak usah, Delano. Kamu ke sini saja ya!"


"Ya sudah aku ke sana ya. Aku sudah bawain buah kesukaan kamu kok. Aku tutup ya teleponnya."


Aku langsung mengiyakan perkataan Delano. Menurutku, kedekatan mereka bukan sebatas teman biasa. Ya, aku semakin yakin jika Delano memang ada hubungan istimewa dengan adik kembarku. Namun, sekali lagi itu hanya tebakanku. Setidaknya sampai aku mendengar langsung dari Delano nantinya. Sekarang yang harus aku pikirkan adalah bagaimana caranya aku bisa memerankan diriku sebagai Almira di depan Delano agar dia tidak curiga padaku. Itu satu-satunya cara demi bisa menguak maksud pria itu ingin bertanggung jawab pada adikku.

__ADS_1


"Kalau dugaanku terbukti benar, maka sebentar lagi, aku akan tahu rahasia yang selama ini kamu sembunyikan dariku, Mira." Aku mulai menatap pintu ruangan. Menanti kedatangan Delano dengan tidak sabar.


Bersambung ✍️


__ADS_2