
Selamat membaca!
Di saat aku masih sangat berat menerima apa yang baru saja aku dengar dari Almira, tiba-tiba pintu ruangan kembali terbuka dan Mas Denis bersama ibuku masuk secara bersamaan. Ya, dari raut wajahnya, ibu terlihat sangat mengkhawatirkanku hingga dia langsung memelukku begitu tiba tepat di sampingku.
"Mira, bagaimana keadaan kamu? Apa kamu baik-baik saja?"
__ADS_1
Aku masih belum menjawab. Sejenak melihat tatapan Almira yang berada di samping Mas Denis seakan mengingatkanku untuk tetap menjadi dirinya. "Aku baik-baik saja, Bu. Ibu enggak perlu cemas ya!" Dengan tersenyum, akhirnya aku menjawab pertanyaan ibu tanpa membantah bahwa aku sebenarnya bukanlah Almira.
Tangisan ibu pun perlahan mulai mereda. Sepertinya jawabanku sudah membuat ibu merasa jauh lebih lega dari sebelumnya. "Syukur kalau begitu, Mira. Harusnya kamu lebih hati-hati lain kali saat naik tangga. Enggak perlu berlari sampai membuat kamu jatuh seperti ini. Ibu itu cemas banget melihat keadaan kamu, apalagi sampai ada darah di keningmu."
"Benar kata ibu, Mira. Memangnya kenapa kamu sampai bisa terjatuh?" Mas Denis ikut bertanya. Mungkin dia merasa heran karena terakhir kami bertemu, aku baik-baik saja.
__ADS_1
"Lain kali kamu hati-hati ya, Mira! Jangan sampai membuat ibu jadi mencemaskanmu seperti ini, apalagi tadi ibu sempat pingsan. Sekarang sudah ya, Bu. Ibu enggak usah terlalu mencemaskan Mira! Dia sudah baik-baik saja kok. Lagi pula kan kata dokter dia hanya perlu istirahat sementara waktu. Ya, untungnya tidak ada bagian tubuhmu yang patah, Mira. Paling hanya ada jahitan kecil di keningmu."
"Suara itu, bagaimana bisa? Apa Mira benar-benar sudah mempersiapkan semua ini sampai-sampai bisa menirukan suaraku?" gumamku terdiam dalam ketidakpercayaanku.
Belum juga masalah suara Almira yang bisa begitu miripnya menirukan suaraku, aku kembali dipusingkan dengan luka pada keningku. Aku pun mulai memegangnya. Merasakan sakit sambil menekan sedikit luka itu yang kini sudah dibalut perban putih. "Ini pasti karena benturan keras yang sampai membuatku pingsan." Tiba-tiba aku teringat sesuatu yang membuatku sangat terkejut, bagaimana bisa aku bertukar peran kembali menjadi diriku kalau aku masih memiliki luka pada keningku. Belum lagi bekas luka pada jahitan ini pasti akan memerlukan waktu yang cukup lama untuk bisa hilang. Seketika ragaku semakin melemah. Bahkan aku sampai menangis membayangkan akan terjebak dalam identitas Almira dalam waktu yang lama. Entah apa aku sanggup bertahan melihat Almira menjadi diriku.
__ADS_1
"Bagaimana ini? Apa aku bisa melihat Almira menggantikan posisiku di rumah dalam waktu lama? Belum lagi saat mereka menghabiskan malam bersama? Apa aku bisa bertahan dengan semua itu? Ya Tuhan, kenapa semua jadi seperti ini? Aku seperti berada di antara dua pilihan, di mana kedua-duanya sulit aku jalani. Kalau aku jujur sekarang, itu bisa membuatku kehilangan Mas Denis karena Mira pasti akan membongkar rahasiaku yang sudah membuat janinnya keguguran, tapi kalau aku hanya diam, maka aku harus siap berperan sebagai Mira dalam waktu yang lama." Aku masih terus memikirkan semuanya di dalam hati. Mempertimbangkan langkah apa yang akan aku ambil setelah ini karena aku tidak mau Mas Denis membenciku setelah mengetahui calon anaknya sengaja aku lenyapkan.
Bersambung ✍️