Wanita Pengganti Di Malam Pertama

Wanita Pengganti Di Malam Pertama
Lembaran Baru


__ADS_3

Selamat membaca!


Waktu berlalu dengan begitu cepat. Meninggalkan banyak hal yang dalam sekejap berubah jadi kenangan. Datang dan pergi adalah rahasia dari Tuhan yang tak bisa kita ketahui. Semua berjalan begitu saja dan tak dapat dihindari.


Semilir angin bertiup perlahan, menyapu poni rambutku yang sengaja kubiarkan. Aku di sini masih duduk tanpa melakukan apa-apa sambil memainkan ingatan akan masa laluku dalam pikiran. Namun, tiba-tiba sebuah panggilan mengejutkanku. Membuat aku seketika langsung menoleh, menatap dengan sedikit melotot seseorang yang mulai duduk tepat di sebelahku.


"Kamu ngagetin aja ih," protesku sambil memukul lengan Hana dengan sedikit tenaga sambil memasang wajah cemberut.


"Maaf, maaf ... habisnya dari tadi gue lihat lo ngelamun aja sih. Memang lo lagi mikirin apa?"


Aku pun menggelengkan kepala. Menjawab pertanyaan Hana yang sudah aku tunggu kedatangannya sejak 10 menit lamanya. Hari ini kami memang sengaja bertemu untuk merayakan kebebasan Reni yang kemarin baru saja keluar dari penjara. Ya, dalam setahun ini, aku memang rutin mengunjungi Reni di penjara seperti janji yang pernah aku katakan saat aku bebas. Terkadang aku juga sering datang bersama Hana yang saat ini sudah menjadi partner dalam usaha Al Craft Production yang aku rintis sejak 11 bulan yang lalu. Dari usaha itu, aku dapat membeli sebuah ruko untuk aku jadikan tempat usaha sekaligus kantor. Walaupun tidak terlalu besar ukurannya, tetapi aku rasa itu sudah cukup untuk menunjang kelancaran usahaku. Selain membeli ruko, aku juga menggunakan uang itu untuk memberangkatkan ibuku haji. Tentu saja dia sangat bahagia saat itu. Aku masih ingat betul, berulang kali ibu mengatakan padaku bahwa dia sangat menyesal karena sempat membenciku tanpa mencari tahu kebenarannya. Namun, bagiku itu semua sudah berlalu. Tak ada yang perlu disesali karena waktu tidak akan pernah membalikkan semua yang telah terjadi.


"Enggak apa-apa. Aku hanya lagi mikirin masa-masa yang dulu aja. Semua yang pernah aku jalani hingga saat ini. Bagiku, seperti mimpi ya aku bisa berada di titik sekarang." Akhirnya aku pun menjawab apa yang Hana tanyakan. Dia langsung menggenggam tanganku dengan erat saat melihat ada kesedihan dari sorot mataku. Sebagai seorang sahabat, Hana memang sangat mendukungku dalam segala hal. Tak hanya saat di dalam penjara. Hubungan persahabatan kami berlanjut dua bulan setelah aku bebas. Saat itu, aku mulai menghubunginya. Di saat aku sudah bisa kembali tegar setelah melewati masa berkabung atas kehilanganku.


"Ya, inilah hidup, Lissa. Terkadang Tuhan menguji kita dengan berbagai ujian dan masalah. Saat itu Tuhan sedang melihat kita, apa kita kuat atau tidak dalam menjalani semuanya. Dan, saat lo lulus karena tidak mengeluh, maka Tuhan akan memberikan kebahagiaan yang tidak pernah kita sangka-sangka."


Mendengar jawaban Hana aku tersenyum. Membenarkan perkataannya yang menurutku sangatlah tepat karena aku sendiri mengalami semua itu. Jatuh dan terpuruk ke tempat yang paling dasar, lalu jatuh lagi karena merasa begitu kehilangan. Dan pada akhirnya, aku bisa bangkit setelah ikhlas melepas kesedihanku.


"Terima kasih ya, Na. Selama ini kamu sudah selalu menemaniku. Kalau enggak ada kamu, enggak tahu deh bagaimana aku bisa berada di titik saat ini."

__ADS_1


"Kenapa lo harus terima kasih sama gue? Harusnya gue yang terima kasih karena lo udah mau ngajak gue dalam usaha lo. Mungkin kalau enggak, gue pasti masih jadi pengangguran dan enggak bisa bikin Nyak-Babe gue bahagia seperti sekarang. Lagi pula harusnya ucapan terima kasih itu untuk Delano bukan untuk gue. Lo ingat enggak? Dari awal kita merintis ACP, Delano yang selalu membantu. Mulai dari masalah perizinan, mencari konsumen, sewa ruko juga awalnya kan dia yang bayarin," ucap Hana dengan logat betawi yang sejak dulu memang sama sekali tidak pernah berubah.


"Tentu saja aku enggak akan melupakan apa yang Delano lakukan untuk aku, tapi kamu juga sangat berjasa dalam hidupku. Bukan hanya di dalam penjara, kamu juga selalu memberikan aku motivasi sampai usaha kita bisa berada di titik sekarang ini." Selesai mengatakan itu, Hana memelukku. Aku dapat melihat sekilas kedua matanya yang sudah dipenuhi air mata.


"Pokoknya kita akan selalu bersahabat selamanya."


Di saat kami masih saling mendekap, tiba-tiba sebuah pelukan datang dari belakang tubuhku.


"Aku juga dong diajak." Aku melihat Reni ikut memeluk. Kini kami pun saling berpelukan selama beberapa detik sebelum akhirnya Reni duduk tepat di seberangku.


"Ih, kalian kok malah berlinangan air mata sih? Sudah ah, jangan sedih-sedih! Lagi pula kita kan ketemu untuk senang-senang. Jadi, aku enggak mau seperti ini ya!" Reni mengatakan itu saat melihat aku dan Hana sama-sama mengusap air mata yang sempat membasahi kedua pipi kami. Tak dapat dipungkiri, aku benar-benar terharu dengan momen tadi. Terlebih untuk bisa berada di titik saat ini, bukanlah perkara yang mudah untukku. Semuanya butuh perjuangan dan banyak kesedihan yang telah aku alami.


"Sudah ayo kalian pesan makanan dulu!" ucapku sambil membuka mineral water yang sejak tadi masih tertutup rapat.


"Oke deh, aku pesan banyak enggak apa-apa, kan?" Reni menaikkan kedua alisnya. Wajahnya terlihat begitu polos karena tentu saja dia pasti kangen makanan-makanan di luar penjara sama seperti aku saat dulu bebas.


"Lo mah emang rakus Ren dari dulu." Setelah mengatakan itu, aku lihat Hana tertawa begitu renyah.


"Bukannya makan lo juga lebih banyak dari gue, Na?" Reni balik meledek Hana. Tingkah keduanya saat ini langsung mengingatkan aku saat masih di dalam penjara. Ya, begitulah mereka. Saling meledek dan kadang sering berdebat, tetapi keduanya saling peduli satu sama lainnya.

__ADS_1


"Sudah, sudah, jangan ribut! Kalian berdua boleh pesan apa saja, biar aku yang bayarin, oke!" Aku pun langsung memanggil pelayan cafe yang dalam hitungan detik langsung datang menghampiri. Namun, baru saja aku hendak memesan beberapa menu yang sudah aku pilih, notifikasi pesan pada ponselku pun berbunyi.


Setelah menyebutkan menu yang aku pesan, aku mulai membaca pesan masuk yang ternyata dari Delano.


Delano: Jangan lupa nanti malam aku akan menjemputmu di rumah ya.


"Siapa, Lissa?" tanya Reni ingin tahu saat aku baru selesai membaca pesan dari Delano.


"Ini Delano. Nanti malam dia mau jemput di rumah."


"Cie, cie, dinner nih ceritanya. Oh ya, ngomong-ngomong hubungan kalian kan sudah lama ya? Apa Delano enggak pernah bahas-bahas soal pernikahan sama lo?" Tiba-tiba Hana mengatakan itu padaku. Jujur aku terkejut karena beberapa hari ini aku memang sempat memikirkannya juga.


"Enggak pernah sih, Na."


"Terus kalau nanti malam dia ternyata mau ngelamar lo, bagaimana?"


"Ya, pasti diterima, Na. Masa iya ditolak, ya enggak, Lissa?" timpal Reni yang hanya aku tanggapi dengan senyuman. Tentu saja aku sangat berharap semua itu akan terjadi. Menikah dengan Delano bukan hanya sebuah harapan untukku, tetapi jadi hal yang ingin sekali aku wujudkan. Namun, aku merasa takut mengutarakan keinginanku padanya karena tak ingin terkesan terburu-buru. Terlebih Delano masih meniti karirnya di Jakarta setelah memutuskan untuk tidak kembali ke London.


Bersambung ✍️

__ADS_1


...Selamat malam, Bestie. Maaf baru update lagi ya. Terima kasih karena sudah mengikuti ceritanya sampai sejauh ini. Jangan lupa berikan gift kalian ya untuk novel ini. Baca juga novel Author yang lain ya ☺️☺️...


__ADS_2