Wanita Pengganti Di Malam Pertama

Wanita Pengganti Di Malam Pertama
Sebuah Map Cokelat


__ADS_3

Selamat membaca!


Kedua kakiku sebenarnya terasa begitu lemah, terlebih saat mendengar suara ******* dari seorang wanita di saat aku baru saja tiba tepat di depan pintu kamar. "Ya Tuhan, apa mereka berdua sedang melakukan itu?" Walaupun dengan tangan gemetar aku menggenggam kenop pada pintu, lalu mulai membukanya dengan perlahan.


Napasku semakin sesak saat suara itu terdengar semakin jelas di telingaku, suara di mana aku semakin yakin jika di dalam sana terdapat dua orang yang sedang berhubungan. Hal yang seketika membuat air mataku menetes karena tidak sanggup membayangkan jika suamiku tengah bermain api di belakangku dengan Almira. Namun, di saat aku sudah semakin yakin atas apa yang aku dengar, ternyata semua yang aku lihat jauh berbeda dari apa yang aku takutkan.


"Mas ...."


"Lissa, kamu belum tidur?" Mas Denis langsung menoleh. Melihatku dengan raut heran karena wajahku saat ini sudah dipenuhi air mata.


"Mas, untuk apa kamu menonton film seperti itu?"


"Lho memangnya salah? Aku memang sering menonton film seperti ini kalau aku sedang bosan bekerja. Lagi pula aku hanya menonton film di Netflix dan bukan film yang benar-benar hanya ada adegan dewasa saja."


"Aku pikir kamu ...."


"Memangnya apa yang kamu pikirkan?" tanya Mas Denis sambil menautkan kedua alisnya setelah duduk di tepi ranjang.


Tanpa menjawab pertanyaan Mas Denis, aku langsung bersimpuh pada kedua kakinya. Menangis tersedu sambil mendekap tubuhnya dengan erat.


"Kamu sebenarnya kenapa?" tanya Mas Denis kembali saat melihat sikapku yang mungkin cukup aneh dilihatnya.

__ADS_1


"Aku minta maaf, Mas. Aku ingin mengakui sesuatu yang mungkin saja bisa membuatmu marah padaku, tapi aku rasa aku harus mengatakannya."


Mendengar jawabanku, Mas Denis seketika mengurai kedua tanganku yang masih melingkar pada tubuhnya. Dia menatapku penuh selidik. Seolah-olah sudah mengetahui apa yang hendak aku katakan padanya.


"Mas, maafkan aku ... maaf karena aku sudah melakukan hal itu dan aku tahu, kamu pasti akan sangat marah jika mengetahuinya."


"Memangnya apa yang sudah kamu lakukan, Lissa?" Mas Denis bertanya dengan suaranya yang lantang.


"Aku ...."


"Katakan, Lissa!" Mas Denis yang sudah tidak sabar terus mendesakku agar melanjutkan perkataanku yang sempat aku hentikan.


Tanpa mengatakan apa-apa Mas Denis bangkit dari posisi duduknya sambil mendorong tubuhku yang seketika terhempas jatuh ke lantai. Aku pun menangis dengan terisak. Ada rasa takut yang saat ini kian melemahkanku. Takut akan kehilangan Mas Denis yang pastinya sulit memaafkan kesalahanku, tetapi aku tidak mau menyerah hingga suamiku memaafkan semua kesalahanku itu.


"Mas, aku minta maaf. Aku hanya takut kehilangan kamu, Mas. Tolong maafkan aku, Mas! Aku itu benar-benar mencintai kamu, Mas. Makanya, aku sampai memaksa Mira dan mengancamnya agar mau menuruti semua rencanaku." Aku yang sempat terjerembab di lantai kini kembali bangkit, lalu meraih kedua kaki Mas Denis. Aku bahkan sampai hendak mencium kedua kaki suamiku sambil mengiba maaf darinya berulang kali.


"Jangan kamu pikir aku akan memaafkanmu, Lissa! Aku tidak sudi punya istri seperti kamu!" Suara itu terdengar keras dan begitu tegas seolah tak ada kompromi atas kesalahan yang baru saja aku akui.


"Aku tahu aku salah, Mas. Makanya, aku memberanikan diri untuk mengakui semuanya sama kamu. Aku berharap kamu mau maafin aku, Mas. Aku mohon maafin aku, Mas!"


Aku terus mengharap belas kasihan Mas Denis sambil mendekap kedua kakinya hingga tubuhku kembali dihempaskan untuk kedua kalinya. Aku pun terjatuh lagi. Kali ini kepalaku sampai membentur kerasnya lantai. Namun, aku tidak peduli, walau sebenarnya kepalaku terasa sakit akibat benturan itu. Tidak mau menyerah begitu saja, aku pun kembali bangkit dan langsung meraih kedua kaki Mas Denis sambil mengulang permintaan maafku. Entah sudah berapa banyak air mata yang menetes sampai membuat suaraku terdengar begitu serak.

__ADS_1


"Walaupun kamu meminta maaf berulang kali pun aku tidak akan pernah mau memaafkanmu. Aku benar-benar akan menceraikanmu dan tidak akan memberikan hartaku padamu, walau hanya sedikit saja!"


Tangisanku semakin pecah, terlebih saat Mas Denis melangkah pergi dari kamar tanpa melihat ke arahku. Sepertinya dia benar-benar membenciku hingga enggan melihat wajahku sekalipun aku sudah bersimpuh berulang kali di kedua kakinya.


"Mas Denis, jangan pergi! Mas, aku mohon maafin aku. Mas, maafin aku. Jangan ceraikan aku, Mas!"


Tiba-tiba aku terbangun dan langsung duduk di atas ranjang dengan keringat yang tampak begitu membasahi keningku.


"Ya Tuhan, ternyata semua itu hanya mimpi. Tapi, kenapa semuanya terasa nyata?" Aku pun coba mengatur ritme napas yang terdengar masih tak beraturan hingga aku teringat Mas Denis.


"Mas Denis." Seketika aku langsung bangkit dari posisi dudukku, lalu melangkah cepat keluar dari kamar. Tentu saja tujuanku hanya satu, memastikan apa mimpi yang baru saja aku lihat itu benar-benar terjadi atau hanya bunga tidur yang tidak perlu aku takutkan.


Masih dengan kening yang lembab oleh keringat, aku pun sudah tiba di dalam ruang kerja Mas Denis. Rasanya aku benar-benar merasa tenang saat menemukan suamiku ternyata sudah tertidur di sebuah sofa yang memang tersedia di sana.


"Ternyata yang tadi itu hanya mimpi, tapi kenapa Mas Denis tidak tidur di kamar?" Kedua mataku pun kini mulai beralih melihat ke atas meja kerja Mas Denis yang dipenuhi beberapa berkas-berkas. Seketika aku jadi teringat akan perkataan Mas Denis tentang kesibukannya malam ini. "Ternyata dia benar-benar sibuk bekerja." Namun, tiba-tiba pandanganku terhenti di satu titik. Sebuah map berwarna cokelat langsung menarik perhatianku. Aku merasa seperti pernah melihat map itu, walau saat ini aku masih sulit mengingatnya.


Bersambung ✍️


...Halo, Bestie. Yuk baca juga novel Author yang lain, judulnya, Istri Satu Miliar. Seorang wanita yang harus terjebak dalam sebuah kontrak yang telah disepakati dengan atasannya. Hingga akhir, kesuciannya harus terenggut dan terjebak dalam perasaan antara benci juga cinta....


__ADS_1


__ADS_2