
Selamat membaca!
Setelah menjalani pemeriksaan selama berjam-jam di kantor polisi, akhirnya aku dimasukkan ke sebuah sel yang berisi empat orang di dalamnya. Tentu saja aku merasa takut. Ini adalah tempat yang begitu menyeramkan untukku. Dalam bayanganku, di sini hidupku akan berakhir. Tak ada lagi harapan untuk bisa bahagia selain menjalani hidup dengan rasa penyesalan dan kesedihan dalam sel tahanan.
"Ya Tuhan, kenapa hidupku jadi seperti ini?" batinku meratapi hidup kelam yang akan aku jalani mulai hari ini.
Setelah berada di dalam sel, 4 narapidana di dalamnya masih terus menatapku dengan tajam. Mereka seolah-olah sedang mengintimidasiku. Jujur saja, melihat mereka seperti itu nyaliku seketika merasa ciut. Terlebih saat salah seorang di antara mereka yang berbadan paling besar memanggilku setelah petugas polisi yang mengantarku pergi. "Hai, sini lo! Kena kasus apa lo sampai bisa masuk penjara?" Wanita gemuk itu melambaikan tangan, memintaku untuk mendekatinya.
Merasa tak punya pilihan, aku pun mendekati wanita itu dengan rasa takut. Namun, aku berusaha untuk memberanikan diri. Setidaknya aku tidak ingin menunjukkan rasa takut agar mereka tidak menindasku sesuka hatinya. "Kenapa, Mbak? Apa saya harus menjawab pertanyaan itu?"
__ADS_1
"Eh, masih anak baru di sini sudah kurang ajar lo ya! Apa lo enggak tahu siapa gue? Gue pimpinan di sini. Jadi, lo itu harus patuh sama gue! Sekarang jawab yang bener kalau gue tanya jangan malah seenaknya aja lo ngomong!" Wanita berbadan besar yang mengaku pimpinan para napi di ruangan itu tiba-tiba menoyor kepalaku dengan kasar.
Aku yang tidak terima diperlakukan seperti itu pun langsung melancarkan protes padanya, "Terus maumu apa? Seenaknya saja bertanya dan noyor-noyor kepala orang. Kamu pikir, kamu itu siapa!" Kedua mataku membulat sempurna. Menatap wajah wanita itu dengan tajam. Aku berusaha menunjukkan padanya bahwa aku tidak takut dan tidak akan patuh dengan semua perintahnya. Namun, tiba-tiba saja ketiga narapidana lain yang ada di ruangan itu mengepungku. Mereka memegangi kedua tangan dan tubuhku hingga aku merasakan sakit yang luar biasa karena luka yang aku dapat saat aku terjatuh dari tangga memang belum sepenuhnya pulih.
Di saat aku sudah tak berdaya dalam cekalan teman-temannya, wanita itu menghampiriku. Bahkan tanpa mengatakan apa-apa dia tiba-tiba menampar pipi kiri dan kananku sebanyak dua kali.
Aku pun hanya bisa mengaduh. Menahan rasa sakit dan panas di kedua pipiku. Bahkan aku sampai menjerit ketika tamparan ketiga dan keempat terasa lebih menyakitkan dari sebelumnya. "Ya Tuhan, apa kehidupan di dalam penjara seperti ini? Aku benar-benar merasa tidak sanggup menjalaninya, apa sebaiknya aku mati saja daripada menjalani hidup di penjara?" Aku benar-benar putus asa. Tak ada hal lain yang aku pikirkan selain mengakhiri hidup lebih cepat dari takdirku.
"Maaf, Pak. Maaf kita lagi bercanda kok. Biasalah ini kan hanya sekedar sambutan kecil untuk orang baru. Maaf ya, Pak." Wanita berbadan besar itu terus memeluk bahuku dan memberikan penjelasan yang bertolak belakang pada polisi yang memeriksa sel ini karena mendengar keributan kami.
__ADS_1
Aku pun berusaha menyanggah ucapan wanita itu, tetapi belum sempat aku membuka suara, tiba-tiba leherku ditekan dari belakang hingga aku terpaksa diam sampai polisi itu meninggalkan pintu sel tempatku dikurung.
"Ingat ya! Jangan macam-macam di sini kalau lo enggak mau mati!" Mendengar ancaman itu, aku hanya bisa mengangguk sambil perlahan mundur hingga tak ada lagi tempat untukku menjaga jarak.
Aku pun duduk di sudut ruangan sambil memeluk kedua lututku dan menyandarkan kepala pada kedua tangan yang sudah aku silangkan di atasnya. Tanpa aku sadari, air mataku mulai menetes membasahi kedua tanganku. Dalam tangisanku, ingatan saat bersama Mas Denis perlahan datang silih berganti dalam pikiranku. Ingatan indah yang hanya menyisakan kerinduan yang tak mungkin lagi bisa terulang kembali.
"Mas, sekarang kamu pasti sedang bahagia ya bersama Mira? Bahkan karena begitu membenciku, kamu sampai tega memenjarakan aku," batinku membayangkan betapa bahagia kehidupan Almira bersama Mas Denis saat ini, berbanding terbalik dengan kehidupan yang tengah aku jalani di sel tahanan.
Bersambung ✍️
__ADS_1
...Terima kasih atas semua komentar positif kalian yang semakin membuat Author jadi tambah semangat untuk terus update. Kalian luar biasa karena bisa memahami alur cerita ini dan untuk yang merasa kecewa, saya minta maaf karena mungkin kalian belum bisa memahami nilai positif dalam cerita ini....