Wanita Pengganti Di Malam Pertama

Wanita Pengganti Di Malam Pertama
Mengamati Penuh Curiga


__ADS_3

Selamat membaca!


"Lissa, kamu kenapa? Kok Ibu malah dicuekin?" Ibu mulai bertanya sambil mengguncangkan tubuhku dengan perlahan karena melihat aku yang hanya mematung dan menatap kosong ke sembarang arah.


"Eh, iya, Bu. Tadi Ibu ngomong apa?" Dengan cepat aku pun kembali melihat ibu sambil tersenyum canggung. Aku coba menepikan sejenak kecurigaan yang sempat membuatku merasa tidak tenang. Walau jujur, kebetulan yang saat ini terjadi benar-benar mengherankan untukku.


"Kamu kenapa, Lissa? Apa kamu sakit?" Ibu bertanya dengan nada cemas. Tangannya langsung menyentuh dahiku yang padahal tidak demam.


"Aku baik-baik saja, Bu. Mungkin aku hanya kecapekan karena semalam aku tidak bisa tidur."


Ibu kembali melihatku penuh selidik. "Tapi kedua mata kamu kok kelihatannya sembab ya? Apa kamu habis menangis semalam? Cerita sama Ibu, Lissa! Apa yang sebenarnya terjadi? Apa kamu ada masalah sama Denis?" Tiba-tiba saja ibu mengatakan hal itu hingga membuat Almira dan Inah langsung menoleh ke arah kami. Aku yakin jika mereka pasti dapat mendengar apa yang baru saja ibu dikatakan.


"Enggak ada masalah apa-apa kok sama Mas Denis, Bu. Ini lho semalam aku tuh nonton drakor, episode terakhirnya itu sedih banget. Aku jadi kebawa suasana sampai enggak bisa berhenti menangis."


"Drakor itu apa?" Raut wajah ibuku benar-benar menampilkan kebingungan. Mungkin ini pertama kalinya dia mendengar kata-kata itu. Selama ini ibu memang tidak tahu apa istilah yang tadi aku sebutkan karena memang tonton ibu di rumah hanya sebatas film sinetron atau FTV saja.


"Drakor itu drama Korea, Bu."

__ADS_1


"Oh, begitu. Tadinya Ibu pikir kamu disakiti sama Denis. Pokoknya kalau kamu ada masalah apa pun, selama Ibu tinggal di sini, kamu jangan sungkan cerita sama Ibu!" Ibu membelai rambutku penuh kasih sayang. Perhatian yang sama dengan yang ibu berikan pada Almira semalam.


"Ternyata aku salah ... ibu juga memperhatikan aku dan tidak membeda-bedakanku dengan Mira. Apa selama ini aku yang selalu sok kuat jika berada di depan Ibu?" batinku tiba-tiba teringat akan masa lalu. Masa di saat aku menjadi wanita simpanan dan diperlakukan oleh pria hidung belang dengan seenaknya. Mereka bukan hanya menyiksa fisikku, tetapi juga sering merendahkan aku lewat perkataannya. Bahkan tak jarang, aku sampai dipaksa untuk melakukan apa yang menurutku sangat menjijikan. Namun, saat itu aku tidak bisa berbuat apa-apa. Demi uang aku rela diperlakukan hina dan direndahkan seperti itu. Bukan demi kepuasanku semata, melainkan karena aku ingin memberikan ibu dan Almira kehidupan yang layak. Lagi pula pengobatan ibu dan biaya kuliah Almira tidaklah sedikit. Jadi, tidak akan cukup jika aku hanya bekerja dengan mengandalkan ijazah SMA-ku yang paling-paling hanya bisa menjadi buruh pabrik atau seorang office girl.


"Kamu kenapa, Lissa? Kok malah nangis?" Ibu kembali bertanya saat kedua mataku sudah digenangi oleh air mata. Raut wajahnya benar-benar tampak cemas saat menatapku.


"Enggak apa-apa, Bu. Aku cuma kangen saja diperhatiin sama Ibu." Aku genggam tangan ibuku. Mencium punggung tangannya dengan begitu haru. "Maafkan Lissa ya, Bu. Maaf kalau selama ini Lissa belum bisa bahagiain, Ibu. Maaf kalau Lissa banyak salah karena enggak pernah punya waktu buat nemenin Ibu di rumah seperti Mira."


"Kamu kenapa tiba-tiba jadi minta maaf? Kamu itu enggak salah. Lagi pula kamu jarang nemenin Ibu di rumah itu kan karena kamu sibuk bekerja untuk membiayai pengobatan Ibu dan juga kuliah Mira. Jadi, Ibu enggak mempersalahkan semua itu. Sekarang melihat kamu sudah bahagia sama Denis, itu sudah cukup untuk membuat Ibu bahagia. Ibu enggak perlu yang lain, Nak!"


Baru selesai mengatakan itu, tiba-tiba suara Almira memecahkan keharuan yang tengah terjadi saat itu. "Nasi goreng ala Mira sudah siap. Ayo silakan di makan!" Mira sambil tersenyum menatapku yang sedang sibuk mengusap air mata di kedua pipiku.


"Iya, sama-sama, Kak. Lagian pagi-pagi kok bahas yang sedih-sedih sih."


"Tahu nih Kakak kamu, Mir. Dia lagi melow, mungkin gara-gara nonton dra ... apa tadi ya, Lissa?"


"Drakor, Bu."

__ADS_1


"Iya itu maksudnya. Maaf ya Ibu lupa. Habis susah banget disebutnya. Lidah Ibu itu enggak biasa menyebut bahasa yang aneh-aneh semacam itu."


Mendengar perkataan dari ibu, bukan hanya aku yang seketika tersenyum, tetapi juga Almira yang kini sudah duduk tepat di seberangku.


"Sudah, ayo makan dulu, Kak! Pokoknya kalau enggak enak, jangan marah ya!" Almira tampak begitu baik menawarkan aku untuk makan nasi goreng yang telah dimasaknya.


Bersamaan dengan itu, Mas Denis pun datang dan langsung duduk menempati kursi kosong yang ada di sebelah Almira. Mungkinkah aku salah memilih tempat karena meja makan di ruangan ini memang hanya tersedia empat kursi saja.


"Selamat pagi semua. Wah nasi gorengnya sudah jadi ya. Aku langsung makan ya, Sayang." Mas Denis melihat ke arahku. Tentu saja dia pasti mengira jika yang telah memasak nasi goreng itu adalah aku. Dia tidak akan tahu hal sebenarnya jika aku tidak memberi tahunya. Namun, baru saja aku ingin mengatakannya, Mas Denis kembali mengatakan sesuatu setelah memakan nasi goreng itu beberapa suap.


"Nasi goreng kamu ini memang sangat enak, Sayang. Pokoknya besok aku mau dibuatkan lagi ya nasi goreng seperti ini."


Mendengar pujian dari Mas Denis, Almira pun tersenyum. Kini aku dapat melihat jelas jika ekor matanya tengah melirikku dengan sinis. Dia seperti sedang merayakan kemenangannya karena telah berhasil mendapatkan pujian atas hasil masakannya.


"Denis, nasi goreng ini yang masak bukan istri kamu, tapi adik ipar kamu lho."


Mas Denis kelihatan terkejut mendengar perkataan ibuku. Tidak ada celah sedikit pun untukku bisa menilai jika Mas Denis dan Almira memang sudah merencanakan hal ini sebelumnya.

__ADS_1


"Jadi, nasi goreng ini hanya suatu kebetulan dan mereka memang tidak merencanakannya. Kalau mereka sengaja mempermainkanku, tidak mungkin wajah Mas Denis bisa sampai sebegitu terkejut saat tahu pujiannya ternyata salah alamat," batinku yang sejak tadi terus mengamati gerak-gerik Almira dan juga Mas Denis secara bergantian.


Bersambung ✍️


__ADS_2