Wanita Pengganti Di Malam Pertama

Wanita Pengganti Di Malam Pertama
Kekesalan Malam Ini


__ADS_3

Selamat membaca!


Malam ini ada yang aneh dari Mas Denis, selain memberikan aku lingerie yang sama dengan yang pernah diberikannya pada malam pertama, Mas Denis pun menolak tawaranku untuk makan malam. Dia beralasan sudah makan di luar bersama kliennya. Aku tak ambil pusing, memilih untuk tak bertanya banyak dan hanya mengikuti langkahnya yang langsung tertuju pada kamar kami di lantai dua.


Saat memasuki kamar, Mas Denis langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, lalu mengganti pakaian kerjanya dengan piyama tidur. Sementara aku, seperti biasa, merapikan ranjang yang sedikit berantakan dan menyalakan lampu tidur agar lebih nyaman. Ya, aku memang tidak suka jika tidur dengan lampu yang terang karena itu bisa membuatku tidak nyenyak.


Setelah 10 menit, Mas Denis kembali dan sudah mengenakan piyama tidur yang sudah aku sediakan untuknya. Dia pun langsung naik ke atas ranjang dan mendekatiku.


"Sayang, kamu ganti dulu ya sama lingerie yang tadi aku kasih!" Mas Denis memberi perintah yang tentu saja sulit aku bantah. Aku pun melangkah dari atas ranjang, berjalan mendekati lingerie yang tadi aku letakkan di atas nakas.


"Sebenarnya aku malas mengenakannya, kenapa sih harus malam pertama terus yang ingin diulang Mas Denis akhir-akhir ini?" gerutuku sambil melepas pakaian yang aku kenakan dan mulai menggantinya dengan lingerie seksi yang sudah aku genggam.

__ADS_1


Entah bagaimana ceritanya Almira bisa memakai pakaian seperti ini. Sungguh tidak tahu malu. Aku bahkan sama sekali tidak pernah menduga jika Almira yang lugu bisa mengenakan pakaian kekurangan bahan semacam ini.


Baru saja aku selesai mengenakan lingerie yang sebenarnya tidak ingin aku kenakan, tiba-tiba dari belakang Mas Denis datang dan mengejutkanku. Dia langsung merengkuh tubuhku. Menggendongnya dan mengantarku sampai ke atas ranjang.


"Aku ingin seperti malam itu, Sayang."


Mas Denis kembali mengatakan sesuatu yang benar-benar membuatku merasa kesal. Lagi dan lagi, malam pertama yang tidak ada habisnya ingin diulang dan terus dibahasnya. "Ya Tuhan, bagaimana caranya agar Mas Denis bisa lupa dengan malam pertama itu? Apa kepalanya harus terbentur sesuatu agar dia amnesia?" gumamku mulai meracau dan bicara sembarangan karena saking kesalnya mendengar pembahasan Mas Denis tentang malam pertama.


Baru saja membaringkan tubuhku di atas ranjang, dia langsung menyerangku dengan tidak sabar. Dia menciumi seluruh bagian tubuhku mulai dari bagian leher, lalu dia berlama-lama bermain di dadaku. Dia juga meremas dan menghisap hingga aku mulai mengeluarkan suara ******* kecil yang sulit untuk aku tahan. Ya Tuhan, nikmat sekali permainan yang Mas Denis berikan hingga membuatku semakin terbuai dalam gairah. Namun, selagi aku merasakan kenikmatan di area dadaku, tiba-tiba saja Mas Denis sudah meluncur turun ke bawah. Dia membuka lebar kedua pangkal pahaku, lalu berdiam sesaat di antara kedua pahaku dan kulihat dia seperti menatap bagian intimku dengan sorot matanya yang tajam.


Aku segera mencengkram bahu Mas Denis dan menariknya agar meninggalkan area intimku. Saat ini, aku dapat melihat jelas wajahnya yang berubah muram. Dia seketika seperti kehilangan gairah dan seolah-olah sedang memikirkan sesuatu yang aku tidak tahu apa itu. Bahkan dia mengabaikan ciumanku dengan menahan wajahku agar tak mendekati wajahnya, lalu mengatakan hal yang sungguh mengejutkanku.

__ADS_1


"Kamu sudah merusak mood-ku di malam ini. Bukannya waktu malam pertama itu kamu sendiri yang selalu minta agar aku berlama-lama bermain di bawah sana? Apa kamu lupa? Atau jangan-jangan kamu ini ... ah ... entahlah.  Aku seperti tidak mengenalmu malam ini. Aku tidak mengenalmu sebaik ketika kamu melakukan itu denganku di malam pertama. Secepat itu kamu berubah, Lissa? Kenapa kamu tidak membiarkan aku melakukan apa yang aku suka seperti malam itu? Apa kamu tidak mau melayaniku lagi? Padahal saat malam pertama itu kamu selalu menuruti aku dan mau memenuhi semua keinginanku. Kita benar-benar menikmatinya, walau kamu sempat menangis sebelum memulai permainan malam itu." Setelah mengatakannya, Mas Denis pun beranjak pergi meninggalkanku. Dia kemudian melangkah cepat keluar dari kamar tanpa melihat ke arahku kembali. Bahkan pintu yang ditutupnya dengan keras semakin membuatku merasa frustasi akan situasi malam ini. Malam yang semakin melengkapi daftar burukku hari ini.


"Apa-apaan sih Mas Denis? Kenapa dia harus marah karena aku melarangnya main di bagian intimku? Kenapa sih semua jadi begini?" protesku di dalam hati, menahan rasa kesal yang kini sudah menguasai diriku setelah sebelumnya hanya ada gairah dan nafsu yang aku rasakan.


Sudah hampir satu jam Mas Denis meninggalkanku sendirian di kamar. Sampai akhirnya, aku memutuskan keluar dari kamar untuk mencarinya. Dari depan pintu kamar, tampak ruang kerjanya yang ada di seberang kamarku terlihat menyala.


"Sebaiknya aku biarkan saja Mas Denis malam ini. Lagi pula aku malas jika dia selalu membahas malam pertama itu seperti tidak ada habis-habisnya dibahasnya," batinku memilih untuk kembali ke kamar dan mengabaikan Mas Denis yang tengah menyendiri di ruang kerjanya.


Aku mulai membaringkan tubuhku di atas ranjang, lalu menutup tubuhku dengan selimut sebelum tidur. Saat mataku sulit untuk terpejam, aku sempat berpikir tentang apa yang tadi dilakukan oleh asistennya Mas Denis di cafe dan bertemu dengan Fadhly? Pria dari masa laluku yang tentu saja tidak ingin aku temui lagi.


"Ah sudahlah! Kepalaku sudah pusing memikirkan banyak masalah akhir-akhir ini. Aku tidak mau tambah pusing memikirkan urusan mereka!"

__ADS_1


Aku pun memutuskan untuk memejamkan kedua mataku dan memaksanya agar terlelap lebih cepat.


Bersambung ✍️


__ADS_2