Wanita Pengganti Di Malam Pertama

Wanita Pengganti Di Malam Pertama
Akting Yang Sempurna


__ADS_3

Selamat membaca!


Setibanya di rumah, aku pun segera meminum obat pereda nyeri di ruang makan dan meletakkan sejenak plastik yang berisi obat penggugur kandungan untuk Almira di atas meja saat tanganku berganti menggenggam segelas air. Setelah itu, aku pergi menuju kamar. Melupakan obat yang seharusnya tidak boleh aku tinggalkan di meja makan.


Setelah berada di dalam kamar, aku langsung merebahkan tubuhku di atas sofa, lalu menyalakan televisi untuk mengusir rasa bosanku. 


Di saat aku hampir ketiduran di atas sofa, kedua mataku kembali terbuka saat mendengar suara Mas Denis melangkah masuk ke dalam kamar dengan tergesa-gesa. 


"Mas, kok tumben jam segini sudah pulang?" tanyaku bingung, lalu kutegakkan tubuhku untuk duduk di sofa. 


"Aku cuma pulang sebentar untuk mengambil berkas yang ketinggalan. Lanjutkan saja tidurnya, Sayang. Maaf ya kalau aku mengganggu waktu istirahatmu!" ucap Mas Denis, lalu mengecup keningku. 


"Kenapa kamu enggak hubungi aku saja, Mas? Kalau aku tahu, aku pasti akan mengantarkan berkasnya ke kantor kamu," tanyaku menatapnya dengan mata sayu. Melihat Mas Denis yang sudah melangkah menuju meja kerjanya di ujung sana.


"Aku enggak mau merepotkan kamu, Sayang. Lagi pula siang ini aku ada meeting di Hotel Aston sama klien dan karena searah dengan rumah, makanya aku putusin untuk mengambilnya sendiri. Kalau jauh, pasti aku akan minta tolong sama kamu. Sudah ya, kamu lanjut lagi tidurnya karena aku juga mau jalan lagi!" ucap Mas Denis kelihatan terburu-buru dan masih sibuk mencari berkas-berkas yang ingin diambilnya.

__ADS_1


"Ya sudah, aku antar kamu keluar ya, Mas!" Saat aku baru saja berdiri. Tiba-tiba Inah datang menghampiriku.


"Bu, ini obat apa ya? Warnanya pink, tadi enggak sengaja saya temui di meja makan?" tanyanya sembari menyodorkan plastik yang berisi obat penggugur kandungan untuk Almira yang tidak sengaja aku tinggalkan di ruang makan. 


 


Aku benar-benar terkejut dengan pertanyaan Inah yang tidak tepat pada waktunya karena Mas Denis ada di sini.  "Gawat! Mas Denis enggak boleh melihat obat itu!" batinku sambil melirik Mas Denis dengan rasa takut yang mulai membuatku gugup. 


Tak ingin Mas Denis sampai melihat obat yang aku beli untuk Almira, aku pun langsung merebut plastik obat dari tangan Inah dan segera memasukkannya ke dalam tas yang aku letakkan di atas meja. Aku dapat melihat raut penuh keterkejutan di wajah Inah. Namun, melihat sorot mataku yang menajam, asisten rumah tanggaku itu tak berani bertanya dan lebih memilih untuk pergi dari kamarku.


Aku pun mulai berakting, mengedipkan mata seolah kelilipan untuk mengulur waktu menjawab pertanyaan Mas Denis. Dalam hati aku merutuki kecerobohanku yang tadi buru-buru kembali ke kamar saat minum obat pereda rasa nyeri hingga obat untuk Almira lupa aku bawa setelah aku letakkan di atas meja.


Melihatku masih mengusap mata berkali-kali, Mas Denis malah semakin khawatir. "Apa matamu juga sakit, Sayang? Coba sini aku lihat!" Mas Denis mendekat dan memeriksa mataku.


Aku pun pasrah saat dia menangkup wajahku untuk melihat mataku dari dekat. "Agak merah begini mata kamu. Aku antar ke dokter ya!" Mas Denis mulai meraba dahiku dengan raut wajahnya yang semakin mencemaskanku. "Ini dahimu juga panas."

__ADS_1


"Enggak apa-apa kok, Mas. Tadi memang kepalaku sakit sekali, tetapi aku sudah beli obat di apotek yang ada di ujung komplek perumahan. Sehabis minum obat aku tiduran. Mungkin tadi obatnya lupa aku bawa." Dengan tersenyum, aku mengatakan itu sambil menggenggam tangan Mas Denis agar dia yakin dengan apa yang aku katakan.


Rencanaku berhasil, Mas Denis benar-benar percaya dan langsung membelai pucuk kepalaku dengan lembut. "Nanti kalau masih sakit telepon aku ya! Biar nanti aku antar ke dokter. Ya sudah sekarang kamu istirahat lagi! Aku pergi dulu ya." Mas Denis mengecup pipiku, lalu melangkah pergi dengan membawa beberapa berkas yang sudah diambilnya. Sementara aku, hanya diam tanpa beranjak pergi karena Mas Denis memintaku untuk istirahat.


Aku kembali merebahkan tubuhku di atas sofa. Lalu, aku ambil ponsel milikku untuk mengirim pesan singkat pada Almira.


Alissa : Besok kita bertemu di tempat biasanya ya! Jam sembilan pagi. Ingat, jangan telat! Soalnya besok aku enggak punya banyak waktu.


Tanpa ragu, aku mengirim pesan itu dan tak butuh waktu lama Almira membalas pesanku dengan sebuah pertanyaannya.


Almira : Apa Kakak sudah mengatakan pada Mas Denis tentang kehamilanku?


Aku mulai membaca balasan pesan dari Almira dengan geram. Pertanyaannya malah membuat kepalaku semakin bertambah pening. Mungkinkah dia bodoh? Berapa kali pun dia bertanya, jawabanku tetap sama. Aku tidak akan memberi tahu Mas Denis. Bahkan demi mempertahankan kebahagiaanku, aku rela menjadi seorang pembunuh. Hal yang tentu saja gila karena sebelumnya aku sempat bertekad untuk tidak mengorbankan anak yang tak berdosa dalam kandungan Almira. Tapi sayangnya, dia menolak tawaranku dan itu membuatku jengkel hingga harus menempuh jalan yang sebenarnya tidak pernah kuinginkan.


Alissa : Enggak usah bawel. Datang aja besok kalau mau tahu jawabannya!

__ADS_1


Pesan itu pun terkirim dan Almira sudah tak lagi membalasnya. "Seandainya kamu mau menerima tawaranku, mungkin aku tidak harus melakukan ini, Mira." Aku benar-benar menyesali keputusan adik kembarku. Keputusan yang pada akhirnya membuatku Samali nekat melakukan sesuatu yang sebenarnya kejam untuk kulakukan.


__ADS_2