
Selamat membaca!
Setelah menempuh perjalanan selama 20 menit lamanya, mobil yang dikendarai Mas Denis pun sudah berhenti tepat di lobi rumah sakit.
"Delano, tolong parkiran mobil ini ya!" Tanpa menunggu Delano menjawab, aku melihat Mas Denis langsung keluar dari mobil dengan terburu-buru.
"Lissa, kamu masuk saja duluan! Nanti aku akan menyusul setelah memarkirkan mobil ini."
"Tapi ...."
"Sudah enggak apa-apa. Lagi pula aku enggak akan lama." Sambil mengusap pucuk kepalaku, Delano mengatakan itu dengan tersenyum. Tanpa bisa menolak, aku pun mengangguk patuh.
"Ya sudah aku duluan ya." Setelah keluar dari mobil, aku mulai mempercepat langkah kakiku agar dapat menyusul Mas Denis yang sudah lebih dulu masuk ke lobi.
Sampai akhirnya, pandanganku dapat menemukan sosok Mas Denis tengah berdiri di depan lift bersama seorang pria yang aku pikir dia adalah orang suruhannya. Tak ingin ketinggalan, aku berlari menghampirinya dan tepat di saat pintu lift terbuka aku masih sempat masuk menyusul Mas Denis.
"Mas, bagaimana kondisi Mira saat ini?" tanyaku bersamaan dengan pintu lift yang menutup, lalu mulai bergerak naik.
__ADS_1
"Mira sudah dipindahkan ke ruang rawat dan kata dokter yang menanganinya, dia menderita penyakit ...." Mas Denis menggantung perkataannya. Membuatku semakin penasaran dan seketika rasa cemas kian menguasai diriku.
"Mas, katakan Mira kenapa?" Aku menanyakan itu dengan cemas. Untungnya di dalam lift hanya ada kami bertiga tanpa ada pengunjung lainnya.
"Mira ternyata menderita glioblastoma."
"Penyakit apa itu, Mas?" Jujur aku baru pertama kali ini mendengar nama penyakit itu. Nama yang terdengar asing hingga aku sulit mengerti sebenarnya penyakit apa yang diderita oleh adik kembarku.
"Kanker otak ...." Seketika kedua kakiku terasa lemah seperti tak bertenaga. Kabar yang tentu saja sangat mengejutkan. Bagiku ini layaknya sebuah dejavu, mengingatkanku pada almarhum ayah yang juga pernah mengalami hal sama seperti Almira.
"Ya Tuhan ... apa Mira masih bisa sembuhkan, Mas?" Pertanyaan bodoh itu terlontar begitu saja dari mulutku, padahal aku tahu betul jika penyakit itu memang tidak dapat disembuhkan dan sampai merenggut nyawa ayahku.
Tak pelak kabar dari Mas Denis membuatku semakin lemah. Bahkan kedua kakiku seperti tidak bertulang saat ini dan sangat berat menopang ragaku sendiri. Aku pun perlahan melangkah mundur ke belakang. Menyandarkan tubuhku yang sudah tak bertenaga sambil menangis dengan terisak.
"Lissa, kamu sabar ya! Setidaknya satu hal yang bisa kita lakukan saat ini, yaitu memberi kebahagiaan pada Mira di sisa hidupnya."
"Tapi dengan cara apa, Mas? Bukankah itu tidak ada artinya jika dia tetap harus mati?" Dengan tegas aku mengatakan itu sambil menatap Mas Denis yang seperti menyimpan maksud tertentu.
__ADS_1
"Bukankah dia punya permintaan terakhir dalam surat yang ditulis untukmu? Jadi, harusnya kamu mengabulkan permintaannya sekalipun itu berat untuk kamu lakukan." Mas Denis malah balik bertanya. Pertanyaan yang seketika membuatku jadi teringat akan permintaan Almira yang sudah aku tolak saat di depannya.
"Maksud Mas Denis, aku harus kembali menjadi istrimu dan menggantikan peran Mira sebagai ibu dari Keisha?" Setidaknya, saat ini aku mulai mengerti maksud dari perkataan Mas Deni.
"Iya, tapi itu pun kalau kamu memang ingin membuat Mira bahagia di akhir hidupnya. Kalau kamu tetap menolak, Mira pasti akan sangat kecewa."
Sekarang aku jadi mengerti dengan niat Mas Denis. Dia benar-benar sedang menyudutkanku untuk kembali padanya dan menurutku ini adalah saat yang tidak tepat di tengah kabar buruk tentang Almira.
"Sebelumnya aku ingin bertanya sama kamu, Mas. Sebenarnya apa alasanmu ingin aku kembali sama kamu?" Tanpa memedulikan keberadaan anak buahnya aku pun bertanya. Namun, sampai pintu lift terbuka, Mas Denis masih diam tanpa menjawabnya. Bahkan sampai kami keluar dari lift, dia tetap tak menjawab pertanyaanku dan hanya terus melangkah mengikuti anak buahnya menuju ruangan tempat di mana Mira dirawat.
"Di sini ruangannya, Pak."
"Ya sudah, sekarang kamu boleh pergi!"
"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu." Pria itu pun pergi. Meninggalkan aku dan Mas Denis hanya berdua di depan ruangan. Namun, di saat aku hendak membuka pintu, dia menahan pergelangan tanganku.
"Apa kamu mau tahu jawabannya?" Mas Denis bertanya di waktu yang menurutku tidak tepat. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan pemikirannya. Di saat istrinya sedang terbaring lemah di atas ranjang, dia malah mendesakku untuk kembali padanya. Apa memang dia benar-benar tidak pernah mencintai Almira seperti yang tertulis dalam surat itu?
__ADS_1
Bersambung ✍️