
Selamat membaca!
Sungguh aku benci situasi seperti ini. Aku benci Almira yang tidak mau menghargai pengorbananku hingga dia bisa mengenyam pendidikan tinggi, bahkan dia sampai membandingkan pengorbanan tang juga telah dilakukannya untukku.
"Hubungan bebas kamu bilang? Hubungan yang kulakukan adalah bentuk pengorbananku menjadi tulang punggung keluarga kita selama ini. Apa kamu pernah merasakan sulitnya mencari uang dengan ijazah SMA? Apa kamu pernah membayangkan bagaimana rasanya mendengar ibu mengeluh tidak punya uang hanya untuk membeli beras? Kamu pikir almarhum ayah kita meninggalkan uang untuk kita? Tidak ada, Almira. Aku banting tulang untuk menghidupi kamu dan ibu. Bisa tidak sih sekali saja kamu mengerti posisiku, kamu hargai pengorbananku selama ini, dan tolong jangan ungkit hal yang kamu lakukan untuk membantuku." Aku menekan kata-kataku sambil mengingat rasa sakit saat aku harus melepas keperawananku sebagai wanita simpanan. Bukan karena cinta, tetapi demi uang.
__ADS_1
Tangisan Almira semakin terisak mendengar semua perkataanku yang terus menerus menyudutkannya. Untung saja ini ruang VIP yang seluruh ruangannya dilapisi oleh peredam suara sehingga suara tangisan Almira yang disertai dengan makian terhadapku tidak terdengar sampai keluar.
"Kamu benar-benar jahat dan enggak punya hati nurani, Kak! Kamu sengaja menekanku seperti ini saat aku tidak berdaya! Kalau aku bisa, aku tidak mungkin mengandalkan uang darimu untuk hidup sehari-hari dan biaya kuliahku. Kalau aku bisa, aku mau hidup mandiri, bekerja sambil kuliah agar aku tidak perlu merepotkanmu. Tetapi kamu tahu, kalau ibu kita sakit-sakitan dan aku tidak bisa bekerja karena harus menjaga ibu!"
"Terus saja menangis dan memakiku. Kamu pikir tangisanmu bisa mengganti masa remajaku yang hilang karena aku harus bekerja? Apa makianmu bisa mengembalikan keperawananku yang hilang hingga tidak bisa aku berikan untuk Mas Denis? Apa kamu pikir pengorbananmu dengan menggantikanku di malam pertama sebanding dengan apa yang aku lakukan untuk keluarga kita?" Aku terus menyerang psikis Almira agar dia sadar jika tidak mudah menjadi aku. Bahkan aku sering menelan pahitnya diperlakukan layaknya wanita murahan oleh para kaum hidung belang yang seperti tidak punya hati dan hanya mementingkan nafsu semata.
__ADS_1
"Aku harap kamu tidak akan pernah menceritakan soal kehamilanmu pada Mas Denis kalau kamu tidak mau aku menghentikan biaya kuliahmu. Satu lagi, kamu juga tidak perlu mengatakan apa pun soal masalah ini pada ibu. Pasti kamu tidak mau kan jika sakit ibu akan semakin parah saat mengetahui semua ini." Ancamku yang terdengar bukan main-main. Aku bahkan bisa semakin berbuat nekat jika Almira terus membahayakan posisiku. Mungkin aku bisa gelap mata menghabisinya seperti aku yang dengan tega sudah membunuh anak dalam kandungannya.
Merasa lelah terus berdiri, aku mulai menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur Almira.
Almira pun kembali menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. "Lalu bagaimana dengan masa depanku? Apa yang harus kukatakan pada pria yang kelak akan menjadi jodohku? Aku benar-benar hancur gara-gara Kakak memperalatku hanya untuk membohongi Mas Denis, Kak." Dia bertanya hingga perlahan demi perlahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya mulai menetes bergantian membasahi kedua pipinya.
__ADS_1
Almira cukup keras kepala juga. Aku harus akui keras kepalanya Almira sama persis denganku. Tentu saja karena kami kembar identik. "Kamu tenang saja, Mira. Aku tidak akan membuatmu menderita jika kamu mau menjaga rahasia ini dari Mas Denis dan juga ibu. Tiga bulan lagi aku akan mengajakmu untuk melakukan operasi selaput darah di luar negeri. Aku akan membiayai operasimu itu. Lagi pula soal keperawanan bukan lagi masalah di zaman sekarang yang penting kamu tidak mengulang kebodohanku dengan berkata masih perawan pada calon suamimu kelak." Aku menasehatinya dengan lembut dan aku dapat melihat sebuah celah untuk menaklukkan kerasnya hati Almira saat ini hanya diam seolah memikirkan semua yang aku katakan padanya.
Bersambung✍️