
Selamat membaca!
Di saat ingatanku mulai mengingat sesuatu, aku pun semakin mempercepat gerakan tanganku untuk membuka map cokelat tersebut. "Jangan-jangan map ini yang diberikan oleh Fadhly kepada asisten Mas Denis." Namun, di saat aku hampir mengeluarkan sesuatu dari dalam map itu, suara dehaman seketika menghentikan gerakan tanganku. Aku pun menoleh, lalu mendapati Mas Denis ternyata sudah duduk di sofa sambil menatapku dengan tajam.
"Apa yang kamu lakukan? Letakkan kembali map itu!" titah Mas Denis yang tak bisa aku bantah. Walaupun sebenarnya aku penasaran, tetapi apa daya, aku tidak bisa melanjutkan keingintahuanku dan memutuskan untuk menuruti perintahnya. Tentu saja aku tidak ingin membuat Mas Denis semakin marah. Pikirku, mungkin aku bisa melihatnya lain kali di saat Mas Denis sedang tidak ada di ruang kerja.
"Iya, Mas. Maaf ya tadi aku cuma penasaran saja. Soalnya dari semua tumpukan berkas-berkas yang lain, hanya map cokelat ini yang berbeda." Aku sengaja beralasan seperti itu agar Mas Denis tidak menaruh curiga padaku.
"Sekarang kamu keluar, aku mau tidur lagi!"
__ADS_1
"Mas, kenapa enggak tidur di kamar?" tanyaku yang sebenarnya terkejut atas pengusiran Mas Denis dengan nada ketus.
"Aku akan tidur di sini malam ini."
"Kenapa, Mas?" tanyaku coba mencari tahu apa alasan Mas Denis sampai bisa semarah ini.
"Kamu pikir sendiri saja! Sudah sana, aku mau tidur lagi!" Kali ini suara Mas Denis terdengar lebih lantang. Membuat hatiku seketika merasa sakit atas perubahan sikap suamiku. Mungkinkah sosok yang lembut dan perhatian itu akan berubah selamanya seperti ini? Apakah aku tidak bisa merasakan lagi segala perhatian dan keromantisan Mas Denis yang selalu bisa membuatku bahagia? Ya Tuhan, ini seperti mimpi buruk. Aku ingin cepat terbangun agar Mas Denis bisa kembali seperti sebelumnya.
"Aku akan mengunci pintunya." Mas Denis mulai mendorong pintu ruangan itu agar tertutup, walau aku belum sepenuhnya keluar dari ruang kerja.
__ADS_1
"Mas ...." Aku terus menatap kedua matanya yang seperti enggan menatapku. Membuat hatiku semakin sakit hingga tanpa sadar, tubuhku menolak keluar dan langsung mendorong pintu yang sempat ingin ditutupnya hingga Mas Denis beringsut mundur beberapa langkah setelah melepas genggaman tangannya dari kenop pintu.
Sebelum Mas Denis mengusir atau memarahiku, aku langsung mendekap tubuhnya dengan erat. "Mas, maafkan aku. Maaf jika aku ada salah sama kamu, tapi semua itu aku lakukan karena aku tidak ingin kehilangan kamu, Mas. Aku mencintaimu, Mas. Aku sangat mencintaimu." Suaraku terdengar begitu lirih. Air mata pun sulit aku tahan dan kini kubiarkan menetes membasahi kedua pipiku. Dalam isak tangis yang semakin piluh, aku semakin erat memeluk Mas Denis hingga kedua tangan kekarnya tiba-tiba mengurai pelukanku.
"Pergilah! Aku butuh waktu untuk berpikir." Tanpa mengatakan apa-apa tentang kesalahanku, Mas Denis memintaku pergi dengan suaranya yang terdengar lebih lemah dari sebelumnya. Mungkinkah dia juga terluka setelah mengetahui rahasiaku. Sebenarnya dari sekian banyak rahasia yang aku sembunyikan darinya, apa yang sudah dia tahu hingga bisa bersikap seperti ini padaku. Apa dia sudah tahu jika aku bertukar peran dengan Almira di malam pertama kami? Atau dia hanya tahu masa laluku yang dulunya pernah menjadi simpanan dari pria beristri, salah satunya adalah Fadhly. Pria yang aku lihat sedang bersama asisten pribadi Mas Denis di sebuah cafe.
Merasa tidak berdaya, akhirnya aku keluar dari ruangan dengan air mata yang masih terus membasahi kedua pipiku. Mas Denis pun langsung menutup pintu, lalu menguncinya. Membiarkan aku yang masih sulit meredam kesedihanku di depan ruang kerjanya.
"Ya Tuhan, kenapa rumah tanggaku jadi seperti ini? Apa sebentar lagi Mas Denis akan menceraikanku? Apa dongeng kebahagiaanku bersama Mas Denis akan segera berakhir?" batinku sambil menghela napas berkali-kali, lalu mulai berjalan lunglai menuju kamarku.
__ADS_1
Bersambung ✍️