Wanita Pengganti Di Malam Pertama

Wanita Pengganti Di Malam Pertama
Menjalani Hukuman


__ADS_3

Selamat membaca!


Pada akhirnya, tinggallah aku sendiri di ruangan ini. Tak ada lagi ibuku yang sudah dibawa oleh beberapa suster dan paramedis ke ruangan yang lain, begitu juga dengan Mas Denis dan Almira.


"Ya Tuhan, semoga ibu baik-baik saja. Maafkan aku ya, Bu. Maaf kalau aku sudah mengecewakanmu." Sambil menangis aku mendoakan ibuku. Berharap agar semua kesalahanku ini tidak sampai membuat kesehatannya jadi memburuk. Tak hanya memikirkan itu, sebenarnya aku juga masih merasa janggal dengan kehamilan Almira yang ternyata adalah anak Delano. Namun, apa artinya semua itu bagiku. Sekarang sudah tak ada lagi harapan untukku bisa mendapatkan maaf dari Mas Denis ataupun ibu. Mereka berdua sudah benar-benar membenciku. Bahkan ibu sampai tidak mau lagi menganggap aku sebagai anaknya, begitu juga Mas Denis yang ingin memenjarakan aku, istrinya sendiri.


"Semua yang aku takutkan sekarang sudah terjadi. Mas Denis sudah tahu semuanya dan aku benar-benar kehilangannya." Dadaku kian terasa sesak, walau aku sudah coba menata hatiku yang begitu terluka.


Saat ini, aku hanya bisa mengusap air mata yang sejak tadi terus menetes membasahi kedua pipiku. Rasa sakitnya pun kian menjadi di saat aku membayangkan kehidupan di balik jeruji besi yang tentu saja tidak ingin aku jalani. Namun, hanya itu hukuman yang pantas untukku. Hukuman yang mungkin saja bisa menjadi tempat untukku menebus semua dosa-dosaku. Tidak peduli anak siapa yang ada dalam kandungan Almira saat itu, tetapi aku dengan sengaja membunuhnya. Melenyapkan janin yang tidak berdosa hanya demi kepentinganku sendiri.


"Maafkan aku, Tuhan. Maafkan aku ...." Tanpa berniat menghentikan derai air mata yang terus menghujani wajahku, aku terus saja menangis. Tetap menundukkan kepala sambil menutupi wajahku, merasakan penyesalan yang sia-sia dan itu tak bisa mengubah apa pun.

__ADS_1


***


Hari demi hari terus berlalu. Berharap waktu jadi obat yang paling mujarab untuk menyembuhkan luka dan kesedihan. Namun, entah kenapa itu seperti tidak berlaku padaku. Sudah 7 hari aku masih saja menangis. Meratapi semua yang telah pergi dari hidupku. Hilang tanpa tersisa sedikit pun. Meninggalkanku sendiri dalam luka yang begitu dalam.


Di tengah tangisanku, tiba-tiba suara pintu ruangan terbuka. Dengan cepat aku menyudahi isak tangisku sambil terus mengusap air mata di kedua pipi. Sampai suara itu terdengar di telingaku. Membuatku langsung menoleh, melihat dua orang pria berseragam datang menjemputku. Ini benar seperti yang dikatakan oleh Mas Denis. Begitu aku sembuh, penjara sudah menantiku dan tak ada lagi tempat untukku bisa lari dari kesalahan yang pernah aku lakukan.


"Ternyata Mas Denis benar-benar melakukannya." Aku pun menghela napas dengan kasar. Menerima semua kenyataan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Inilah takdirku, takdir yang aku rajut sendiri kehancurannya dari kebohongan demi kebohongan yang terus aku ciptakan. Kebohongan yang pada akhirnya menenggelamkanku dalam rasa penyesalan.


"Lissa, sebelumnya tolong tanda tangani dulu surat perceraian ini!" Mas Denis mengeluarkan sebuah kertas dari berkas yang dibawanya. Ya, aku dapat membaca dengan sangat jelas kalau itu adalah berkas yang didapatnya dari pengadilan agama.


"Apa secepat itu, Mas? Secepat itu kamu melupakan aku?" Pertanyaan itu seketika menerobos dari lidahku hingga tak dapat aku tahan. Namun, Mas Denis memilih untuk tak menjawab. Dia hanya diam dan hanya mengulang perintahnya agar aku segera tanda tangan pada selembar kertas itu.

__ADS_1


"Baiklah, Mas. Aku ikhlas, asalkan kamu bisa hidup bahagia. Walaupun sebenarnya aku masih sangat mencintaimu, Mas." Sebenarnya aku ingin meraih punggung tangan Mas Denis dan menciumnya. Meminta maaf atas semua kesalahan bodoh yang pernah aku lakukan, tetapi dia menolak.


"Tidak ada lagi kesempatan untuk kamu, Lissa. Setelah ini aku akan menikahi Mira sebagai tanggung jawabku karena aku telah merenggut kesuciannya."


Pernyataan itu bagaikan petir yang menggelagar di telingaku. Aku sangat terkejut. Mendengar itu seolah membuat hatiku seakan terbelah menjadi dua. Rasanya begitu sakit. Aku benar-benar hancur hingga membuat air mataku seketika lolos tanpa dapat aku tahan.


Aku bukan hanya kehilangan Mas Denis, tetapi juga harus merelakan suamiku menikah dengan adik kembarku sendiri. Semua ini karena kesalahanku. Kesalahan yang seharusnya tidak aku lakukan. Ya Tuhan, seandainya ada cara agar aku bisa kembali dan merubah semuanya, aku bersedia mengorbankan sisa hidupku.


Bersambung ✍️


...Jangan cepat menilai cerita yang memang masih berlanjut. Cerita ini belum tamat dan semua plot twist yang ada akan terbongkar saat Alissa di penjara. Jadi, harap bersabar ya! Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2