Wanita Pengganti Di Malam Pertama

Wanita Pengganti Di Malam Pertama
Keputusan Terakhir


__ADS_3

Selamat membaca!


Di dalam kamar, aku hanya duduk di tepi ranjang. Membiarkan air mata terus menetes tanpa bisa aku tahan. Aku merasa kehampaan yang sama seperti dulu. Rasa di mana aku hanya sendiri, ditinggalkan oleh Mas Denis, adik, dan juga ibuku. Entah apa yang aku pikirkan, tanpa sadar ternyata aku sudah menggenggam sebuah gunting kuku yang terdapat pisau lipat berukuran kecil. Pisau itu kini sudah menempel erat tepat di pergelangan tanganku. Aku pun tercekat karena tanpa kusadari aku akan melakukan hal mengerikan ini. Mungkinkah ini adalah akhir hidupku, membawa anak dalam kandunganku untuk pergi bersamaku meninggalkan dunia yang banyak memberikan jejak luka di hatiku.

__ADS_1


"Selamat tinggal, No. Terima kasih karena selama ini kamu sudah memberikanku banyak kebahagiaan. Maafin aku karena ternyata aku masih tidak sanggup jujur sama kamu tentang masa laluku. Walaupun kamu tidak pernah bertanya, seharusnya aku cerita sama kamu tentang alasan kenapa aku sudah tidak lagi perawan saat menikah dengan Mas Denis. Sekarang aku akan membawa buah cinta kita pergi bersamaku." Aku semakin terisak. Tanganku terasa gemetar saat akan menggerakkan pisau yang aku genggam untuk menyayat pergelangan tanganku. Setidaknya, dalam pikiranku, ini adalah cara mati yang tidak akan terlalu menyakitkan. Aku hanya akan merasa lemah secara perlahan saat darah keluar dari pergelangan tangan yang akan aku sayat. Mungkin dulu aku sering mengatakan hal bodoh tentang pelaku bunuh diri, tetapi sekarang aku mengerti. Mereka pun sebenarnya tidak ingin melakukannya, tetapi mereka tidak punya pilihan. Hidup yang terasa hancur dan menyakitkan seolah menuntun mereka untuk mengambil jalan pintas ini. Mengakhiri hidup sebelum waktunya agar bisa merasa tenang tanpa memikirkan bagaimana nantinya. Mungkin bagi sebagian orang apa pun alasan ini terbilang bodoh. Namun, pikiranku sudah buntu. Aku benar-benar kehilangan harapan. Tak lagi ada Delano, pria yang sejak dulu selalu jadi semangat hidupku. Bahkan tadi aku dapat melihat kedua matanya begitu enggan menatapku. Dia pasti kecewa dan mungkin sangat malu karena harus menikah dengan seorang wanita yang pernah menjadi simpanan dari seorang pria beristri. Terlebih apa yang aku lakukan ternyata sampai berdampak buruk pada kandungan Meisya hingga membuatnya keguguran.


"Semoga setelah kepergianku, Delano tidak akan lagi merasa malu karena mempunyai istri seperti aku. Aku juga yakin jika laki-laki baik seperti Delano, pasti akan mendapatkan seorang istri yang jauh lebih sempurna dariku." Aku mulai menekan pisau kecil yang menempel erat pada pergelangan tanganku, rasanya begitu menyakitkan sampai menimbulkan goresan pada permukaan kulitku. Namun, aku tetap yakin untuk melakukannya. "Sekali lagi maafin aku ya, No." Aku sengaja mengatakannya berulang kali. Berharap setelah Delano melihat video yang sengaja aku buat untuknya, dia bisa mengerti bahwa aku sungguh menyesal atas semua kesalahanku. Kesalahan yang aku lakukan karena aku tidak berani berkata jujur tentang masa laluku padanya. Padahal dua tahun lalu Delano sempat mengatakan bahwa dia pasti akan menerima masa laluku, tetapi tetap saja, aku takut menceritakan hal yang sehina itu padanya. Menjadi seorang simpanan adalah suatu aib yang begitu kelam dalam hidupku. Bagian yang ingin aku kubur dalam-dalam tanpa diketahui oleh orang-orang terdekatku. Namun, ternyata takdir seolah menuntun Delano untuk mengetahui semuanya. Saat ini, dia pasti sangat terpukul, kecewa, dan membenciku. Mungkin kepergiannya hanya untuk menghindariku atau bahkan saat Delano pulang nanti, bisa saja dia akan menjatuhkan talak dan mengakhiri pernikahan kami.

__ADS_1


"Selamat tinggal, No." Akhirnya aku melakukan hal mengerikan itu. Sambil merasakan sakit, aku melihat pergelangan tanganku perlahan mulai dipenuhi oleh darah kental. Tak ingin menodai sprei di ranjang tidur yang tadi pagi baru saja aku ganti, aku beranjak dari atas ranjang. Lalu, aku pun membaringkan tubuhku di lantai. Tubuh yang perlahan demi perlahan mulai terasa lemah. Bukan hanya merasakan dinginnya lantai yang aku tiduri, tetapi dingin itu kini mulai merasuk hingga ke dalam tubuhku.


Beberapa detik berlalu, aku masih terbaring dan bersiap untuk mati. Namun tiba-tiba, aku mendengar suara pintu kamar terbuka. Suara itu terdengar samar di telingaku dan menghilang bersama dengan kesadaranku hingga aku tak dapat lagi mendengar apa pun.

__ADS_1


Bersambung ✍️


...Halo, Bestie. Author boleh minta tolong ya, bagi yang belum kasih review bintang 5 untuk cerita ini, tolong bantu Author naikkan rating-nya karena banyak orang-orang yang dengan sengaja menurunkan semua novel Author, termasuk novel ini. Terima kasih semuanya ya. Ditunggu review bintang 5-nya....

__ADS_1


__ADS_2