
Selamat membaca!
Mendengar ibuku berteriak dengan begitu histeris dan terus meluapkan amarahnya padaku, Mas Denis kini coba menenangkannya. Aku benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi karena untuk membela diri pun itu percuma aku lakukan.
"Sudah, Bu. Sebaiknya kita pulang saja! Urusan ini biar aku dan Mira saja yang akan menyelesaikannya."
Ibu masih menatapku tajam, walau Mas Denis sudah berulang kali menenangkannya. Dia terlihat sangat membenciku dan itu jelas terbaca dari sorot matanya.
"Mulai detik ini, Ibu tidak akan menganggapmu sebagai anak Ibu lagi. Ibu benar-benar malu, Lissa! Malu sama Denis karena sudah memiliki anak sejahat kamu." Dengan berderai air mata, ibu mengatakannya. Membuat hatiku tergores begitu dalam. Jujur aku tidak sanggup menahannya. Rasa sakit ini kian menyesakkan hingga aku seakan tak lagi punya ruang untuk bernapas. Aku benar-benar lemah. Duniaku yang tadinya utuh perlahan mulai hancur. Menjadi kepingan penyesalan yang tak bisa lagi aku susun seperti semula. Inilah bagian terkelam dalam hidupku. Sendiri ditinggal tanpa suami, tanpa ibu, dan dibenci oleh orang yang aku cintai.
"Bu, maafkan aku ... maaf karena aku sudah mengecewakanmu." Berulang kali aku mengucapkan kalimat itu ketika Mas Denis akan membawa ibu pergi dari ruangan ini. Namun, ibu yang masih begitu membenciku tampak bersikeras terus melampiaskan amarahnya padaku.
__ADS_1
"Ibu enggak akan pernah maafin kamu, Lissa. Ibu benar-benar menyesal melahirkan kamu! Ibu kecewa ...." Suara ibu mulai terdengar lemah hingga kedua kakinya tak lagi mampu menopang raganya sendiri. Ibu pun tak sadarkan diri tepat dalam dekapan Mas Denis yang sejak tadi berada di dekatnya.
"Ibu ...." Aku masih terus menangis. Coba bangkit dari posisiku setelah melepas selang infus yang sejak tadi terpasang pada pergelangan tanganku. Namun, gerakanku terhenti ketika rasa sakit membuatku sulit beranjak dari atas ranjang. Aku hanya bisa menatap ibu dan Mas Denis dengan penuh air mata. "Mas, maafkan aku. Tolong dengarkan dulu penjelasanku!" ucapku coba meluluhkan hati suamiku, walau sepertinya akan sia-sia karena dia saat ini sudah sangat membenciku.
"Aku tidak mau mendengar apa-apa lagi dari kamu, Lissa! Aku akan segera mengurus perceraian kita dan setelah dokter mengizinkan kamu keluar dari rumah sakit, kamu harus mempertanggungjawabkan semua yang telah kamu lakukan karena aku akan memenjarakanmu." Bersamaan dengan itu, aku melihat Almira masuk ke dalam ruangan. Wajahnya langsung panik saat melihat kondisi ibu yang sudah tak sadarkan diri dalam dekapan Mas Denis.
"Mas, Ibu kenapa?"
"Kamu enggak perlu cemas. Ibu cuma pingsan saja. Mungkin dia syok karena mengetahui semua ini. Harusnya tadi aku tidak mengatakan apa-apa dulu saat masuk. Aku benar-benar lupa kalau ibu ada di ruangan ini." Mas Denis mulai merebahkan tubuh ibu di atas sofa setelah sempat kewalahan memeganginya sejak ibu tak sadarkan diri.
"Kamu jagain ibu dulu ya! Aku akan memanggil dokter untuk memeriksa ibu ke sini."
__ADS_1
Aku melihat Mas Denis bergegas pergi dari ruangan dengan terburu-buru. Sementara Almira, kini kembali berdiri setelah sempat duduk di samping tubuh ibuku yang sampai saat ini masih tak sadarkan diri. Dia mulai melihatku. Menatap dengan sorot matanya yang tajam, lalu seringai liciknya pun mulai terbentuk tipis di sebelah sudut bibirnya.
"Puas kamu sampai membuat aku jadi dibenci oleh ibu dan suamiku sendiri!" Aku melampiaskan semua amarah dan rasa sakit hatiku dengan berteriak, walau suaraku terdengar serak karena sudah terlalu banyak menangis sejak tadi.
"Tentu saja aku puas, apalagi saat melihat Mas Denis sudah benar-benar membencimu. Tadinya aku pikir, aku masih ingin membuatmu menderita dengan pertukaran peran kita, tapi ternyata kedatangan Delano merusak rencanaku. Jadi, aku memutuskan untuk membongkar rahasiamu lebih dulu sebelum kamu memberi tahu Mas Denis kalau anak yang aku kandung bukanlah anaknya."
Raut wajahku masih sulit menepis rasa keterkejutanku. Adik yang selama ini aku anggap polos kini seperti memiliki dua wajah hingga sulit aku bedakan.
"Aku benar-benar enggak nyangka ya, Mira. Ternyata kamu bisa jadi sejahat ini!"
Almira terus mendekatiku. Sorot matanya semakin menajam hingga tak berkedip menatapku. "Aku bisa seperti ini karena kamu, Kak! Kamu yang sudah memaksaku untuk menggantikan peranmu di malam pertama itu! Kalau saja semua itu tidak terjadi, aku pasti tidak akan sampai hati melakukan semua ini padamu."
__ADS_1
Seketika aku mulai berpikir bahwa apa yang dikatakan Almira memang benar. Semua ini adalah kesalahanku. Kesalahan yang tidak seharusnya aku lakukan saat itu. Mengorbankan adikku demi menutupi ketidaksempurnaanku adalah sesuatu hal yang amat kejam.
Bersambung ✍️