Wanita Pengganti Di Malam Pertama

Wanita Pengganti Di Malam Pertama
Ketakutan


__ADS_3

Selamat membaca!


"No, perutku sakit banget. Aku enggak kuat, No." Delano langsung duduk tepat di sebelahku. Raut wajahnya benar-benar terlihat cemas saat ini.


"Kamu harus kuat, Lissa! Demi aku, demi anak kita."


"Maafin aku, No. Aku sepertinya enggak kuat. Ini sakit banget."


"Kamu harus bertahan ya! Aku akan membawa kamu ke rumah sakit." Delano langsung merengkuh tubuhku yang sudah tak bertenaga di atas sofa. Namun, gerakannya terhenti saat aku menahannya untuk berdiri.


"No, maafin aku ya. Maaf karena aku harus pergi. Aku benar-benar enggak kuat, No." Delano masih menatap wajahku yang kini tampak begitu pucat dengan keringat pada keningku.


"Lissa." Delano tiba-tiba berteriak keras. Membuatku yang masih menunggu reaksi dari jus yang baru aku minum jadi tertegun dengan rasa heran. Kenapa dia memanggilku dengan begitu keras, padahal aku ada di sebelahnya?

__ADS_1


"Kamu kenapa, No?" tanyaku sambil mengguncangkan tubuh Delano yang sejak tadi hanya bergeming tanpa bergerak sedikit pun.


"Lissa ...." Delano mulai menatapku, dia seperti baru saja tersadar dari lamunannya. Mungkinkah tadi dia sempat membayangkan sesuatu yang mengerikan hingga membuatnya jadi berteriak memanggil namaku.


"Kamu kenapa, No?" Tentu saja aku mengkhawatirkan kondisi Delano. Terlebih saat ini, raut wajahnya tampak begitu pucat dan berkeringat.


"Apa kamu baik-baik saja, Lissa? Bagaimana perutmu? Bagaimana kondisi anak kita?" Dari nada suaranya, Delano benar-benar mencemaskanku. Kini pandangannya mulai menatapku setelah sempat terlihat kosong beberapa detik lalu.


"Aku baik-baik saja, No. Entah kenapa aku tidak merasakan sakit apa-apa."


"Sepertinya itu hanya bayangan dari ketakutanmu saja karena sebenarnya aku tidak kenapa-kenapa, No. Kamu lihat sendiri, kan? Saat ini, aku baik-baik saja." Aku coba meyakinkan Delano yang masih tak percaya dengan apa yang telah dilihatnya.


"Syukurlah ... aku pikir aku akan kehilanganmu, Lissa." Dia menarik tubuhku ke dalam dekapannya. Lalu, memelukku dengan begitu eratnya.

__ADS_1


"Sekarang aku sudah tahu kesungguhanmu, Lissa. Maaf ya karena aku sempat bersandiwara di depanmu. Sebenarnya aku hanya ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri seberapa besar perubahanmu."


"Jadi, maksudnya apa? Apa tidak ada obat penggugur kandungan di dalam jus itu?" Fadhly yang sejak tadi hanya diam akhirnya bertanya pada Meisya. Sepertinya dia sendiri juga tidak tahu akan rencana istrinya yang ternyata telah berhasil mengelabuinya.


"Iya, di dalam jus itu tidak ada apa-apa. Bagaimana rasanya, Lissa? Apa jus buatanku enak?"


Jujur saja, ini benar-benar membingungkan untukku. Aku sama sekali tidak menyangka jika yang tadi aku minum hanyalah jus alpukat sungguhan tanpa ada obat penggugur kandungan di dalamnya. "Jadi, apa sebenarnya kamu sudah memaafkanku?"


"Tentu saja, apalagi setelah melihat keberanianmu saat meminum jus alpukat itu. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak memaafkanmu." Meisya mulai tersenyum. Dia lalu bangkit dari posisi duduknya dan melangkah dengan perlahan menuju ke arahku.


"Terima kasih, Meisya. Terima kasih karena kamu sudah mau maafin aku." Setelah Delano mengurai pelukannya, aku pun mulai bangkit dari posisi dudukku. Menyambut kedatangan Meisya yang seketika langsung memelukku sesaat setelah aku berdiri di hadapannya.


"Kamu tidak perlu berterima kasih karena aku hanya melakukan hal yang semestinya aku lakukan. Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan dan siapa pun berhak dapat satu kesempatan untuk memperbaikinya. Kalau Tuhan saja bisa berulang kali memaafkan kesalahan kita, kenapa aku tidak bisa memaafkanmu sekali ini saja."

__ADS_1


Perkataan Meisya benar-benar bijaksana. Membuat air mata seketika lolos begitu saja membasahi kedua pipiku. Hatiku bergetar karena merasa haru. Dia memang wanita istimewa karena bisa memaafkan kesalahanku yang pernah menjadi simpanan suaminya, apalagi karena kejadian itu dia jadi kehilangan anak yang dikandungnya.


Bersambung ✍️


__ADS_2