
Selamat membaca!
Setelah menahan rasa kesal sepanjang perjalanan karena Almira tadi sudah memeluk Mas Denis, akhirnya kami pun sudah tiba di rumahku. Tanpa berlama-lama, kami langsung masuk ke dalam rumah setelah Inah membukakan pintu.
"Lissa, di atas itu kan ada dua kamar. Jadi, biar ibu dan Mira bisa punya kamar masing-masing. Inah tolong rapikan kamar itu dulu ya dan setelah itu cepat buatkan teh manis hangat untuk ibu!"
"Baik, Pak." Inah menjawab dengan sigap perintah dari majikannya.
"Sudah, Mas. Biar aku saja yang membuatkan teh manis untuk Ibu." Almira kulihat berdiri dari posisi duduknya. Lalu, melangkah pergi meninggalkan ruang tamu menuju dapur bersamaan dengan Inah yang langsung menuju lantai 2.
"Ini kesempatan aku untuk bertanya pada Mira, apa sebenarnya maksud dia tadi memeluk Mas Denis di depanku? Apa dia sengaja ingin memanas-manasi dan membuat aku cemburu padanya?" Aku terus memperhatikan kepergian Almira yang mulai tak terlihat oleh pandangan mataku.
"Lissa, Denis, Ibu minta maaf lho sama kalian. Ibu sama Mira jadi numpang tinggal di sini. Sebenarnya Ibu tidak enak kalau terus-menerus merepotkan kalian."
__ADS_1
"Tidak perlu sungkan sama aku, Bu. Mau bagaimana juga Ibu itu sudah aku anggap seperti orang tuaku sendiri. Apalagi kan Ibu tahu, sejak aku kehilangan kedua orang tuaku, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi." Mas Denis menjawab dengan ramah sembari membahas luka masa lalunya saat mengingat kematian kedua orang tuanya 5 bulan yang lalu.
"Iya, Denis, tapi tetap saja Ibu merasa tidak enak karena sudah terlalu sering merepotkan kalian berdua."
"Bu, seperti yang dikatakan Mas Denis. Pokoknya Ibu anggap saja rumah ini seperti rumah ibu sendiri. Jadi, Ibu enggak perlu sungkan-sungkan! Aku tinggal dulu ya, Bu, aku mau ke kamar mandi. Mas, sebentar ya." Aku pun langsung bangkit dari posisi dudukku saat melihat senyuman dari kedua sudut bibir ibuku disertai dengan anggukkan kepala. Begitu pun Mas Denis, kulihat dia juga tersenyum singkat, walau ia tak menjawab perkataanku. Sejujurnya aku merasa sangat sedih atas sikapnya yang sejak tadi berubah dari biasanya, tetapi saat ini bukan itu yang mengusik pikiranku. Melainkan tentang alasan Almira kenapa dia dengan berani memeluk Mas Denis di depanku. Ya, walau aku tahu perasaannya sedang hancur dan sedih karena rumah kami sudah habis terbakar, tetapi apa harus dia sampai memeluk kakak iparnya sendiri seolah tidak menghargaiku.
Setelah menyusul langkah Almira dengan setengah berlari, aku pun menarik lengan adik kembarku ketika baru saja tiba di belakangnya.
"Mira, kenapa kamu tadi memeluk Mas Denis?" tanyaku dengan nada yang tertahan karena tidak ingin Mas Denis dan ibuku sampai mendengar apa yang aku katakan.
"Kamu benar-benar keterlaluan ya! Jadi, kamu sengaja memeluk Mas Denis untuk membuatku cemburu? Jawab, Mira!" Dengan tegas aku mengatakan itu. Kini amarah dalam diriku kian membuncah hingga membuat kedua mataku begitu tajam membalas sorot matanya.
"Jangan punya pikiran buruk tentang aku, Kak! Aku itu hanya sedih karena kehilangan rumah yang sejak kecil aku tempati!"
__ADS_1
"Kamu jangan bohong, Mira!" kecamku menuntut jawaban darinya. Aku tahu dia berbohong. Makanya, aku memaksanya untuk menjawab pertanyaanku dengan sejujur-jujurnya.
"Aku tidak berbohong, Kak! Lagi pula untuk apa aku harus berbohong sama Kakak, apalagi aku enggak punya apa-apa saat ini. Apa Kakak enggak puas selama ini sudah menyiksaku? Tolong, Kak! Jangan terlalu jahat padamu dengan menuduhku seakan-akan aku ini seperti musuh. Aku ini adikmu, Kak. Tolong sedikit saja kasihani aku! Jangan terus mendesakku dan selalu membuatku seperti ini!"
Mendengar perkataan Almira yang penuh penekanan, hatiku mulai tersentuh hingga sulit mengatakan apa-apa selain hanya menatap bulir bening yang kini tampak di kedua matanya.
"Kalau aku pikir-pikir, benar apa yang Mira katakan. Mungkin selama ini aku terlalu jahat padanya," batinku yang mulai berpikir untuk bersikap baik pada adikku. Terlebih aku tahu jika kehilangan tempat tinggal pasti jadi duka mendalam untuknya.
"Maafin, Kakak ya. Maaf kalau Kakak sudah menuduh kamu yang enggak-enggak." Sambil mengatakan itu, aku pun memeluk tubuh adikku. Berharap tangisannya akan mereda saat aku mendekapnya.
"Aku juga minta maaf ya, Kak. Maaf kalau aku sudah sengaja membakar rumah kita."
Perkataan Almira seketika membuatku sangat terkejut. Dengan cepat aku langsung mengurai pelukanku dan melihat wajahnya yang saat ini tengah menatapku dengan sinis. Seringai tipis yang terulas dari kedua sudut bibirnya pun sungguh membuatku seperti tak mengenali sosok adikku yang tampak berbeda. Dia terlihat jahat dan seolah-olah memiliki sebuah rencana untuk membalas apa yang pernah aku lakukan padanya.
__ADS_1
Bersambung ✍️