
Selamat membaca!
Di tengah rasa cemas yang kian mengusik ketenanganku, tiba-tiba seorang wanita paruh baya seusia ibu datang menghampiri. Sepertinya dia adalah tetangga sebelah rumah ibuku yang mendengar suaraku memanggil-manggil ibu di depan rumah.
"Kamu Lissa ya? Pasti kamu cari Bu Jihan, kan? Ibumu tadi naik ojek katanya mau beli obat di apotek. Obatnya habis dan nomor telepon Almira enggak bisa dihubungi. Ke mana sih adikmu itu? Sudah tahu ibunya masih sakit, eh dia malah pergi enggak pulang-pulang sudah dua hari," ucap seorang tetangga yang aku lupa namanya tengah memberi tahu ke mana ibu pergi.
Aku mengucapkan terima kasih atas informasi yang telah disampaikan dan untung saja taksi online yang tadi mengantarku masih belum pergi. Jadi aku bisa memintanya agar mengantarku ke apotek untuk menemui ibu.
"Mira kok bisa-bisanya ceroboh sih! Masa dia tidak memperhatikan ketersediaan obat untuk ibu. Sekarang ibu malah repot jadinya sampai beli obat sendiri ke apotek!" gumamku yang begitu kesal pada Almira yang sampai saat ini masih dirawat di rumah sakit.
__ADS_1
Sesampainya di Apotek Griya Farma, aku langsung menemukan ibuku yang sedang duduk seperti menunggu pesanan obat disiapkan. Aku pun segera menghampirinya dan duduk di sebelahnya, menempati salah satu kursi yang kosong tepat di samping ibuku.
"Ibu! Kok ibu pergi ke apotek enggak ngabarin aku sih? Untung Ibu enggak kenapa-napa ke sini sendirian, naik ojek pula!" Rengekku yang sempat mencemaskan keselamatan Ibu, lalu aku meraih tangan kanannya dan mencium punggung tangan ibu dalam-dalam.
Ibu tersenyum menatapku. Sebagai perempuan yang melahirkan anaknya tentu saja dengan mudah ibu bisa membedakan antara aku dan Almira.
"Apa Mira enggak pernah memeriksa persediaan obat Ibu? Kok bisa sampai kehabisan gini sih, sampai ibu harus repot-repot beli sendirian?" gerutuku yang masih kesal pada Almira. Untung hari ini aku datang ke rumah. Jadi aku dapat menemukan kesalahan Almira yang bisa dikatakan fatal karena ini menyangkut masalah kesehatan Ibu. Coba kalau aku tidak datang, mungkin aku tidak tahu ada kejadian seperti ini.
"Ibu Jihan!"
__ADS_1
Aku segera bangkit dari kursi tunggu saat nama ibuku dipanggil oleh apoteker. Aku pun segera menuju kasir sembari mengeluarkan dompet dari dalam tas. Lalu, mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar obat ibuku. Setelah itu aku mengajak ibu untuk pulang dengan menggandeng tangannya saat keluar dari apotek. Dengan taksi online yang sama, kami kembali ke rumah ibu. Ya, aku memang meminta pada sang pengemudi untuk menunggu dengan mengimingi-iminginya ongkos lebih yang nanti akan aku berikan di akhir perjalanan.
Dalam perjalanan pulang, barulah aku memberi tahu ibu tentang Almira yang jatuh sakit saat tengah kuliah karena penyakit gerd-nya kambuh hingga harus dirawat di rumah sakit.
"Mira itu sudah tahu punya penyakit maag, tetapi masih saja sering telat makan. Akhir-akhir ini dia memang sering melamun dan sampai lupa makan. Maaf ya, Lissa. Ibu dan Mira jadi banyak merepotkanmu. Ibu jadi enggak enak banget sama suamimu karena gara-gara Ibu sakit, kamu sering meninggalkannya demi menjenguk Ibu!" Setelah selesai mengatakannya, ibu pun mengusap bahuku dan menampilkan sorot mata dengan perasaan tidak enak.
Aku tersenyum bahagia karena ibuku tampak menghargai segala jerih payahku untuk menopang ekonomi keluarga, biaya pengobatan ibu, dan termasuk biaya kuliah Almira yang sudah aku tanggung sejak lulus SMA.
Bersambung ✍️
__ADS_1