
Selamat membaca!
Setelah hanya diam dan terus memikirkan semua yang aku katakan. Pada akhirnya, amarah adik kembarku kini mulai mereda. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini, tetapi dari senyumannya aku dapat pastikan bahwa dia tak lagi sama seperti sebelumnya yang keras kepala.
"Baiklah, aku akan menuruti perkataanmu, tetapi bagaimana dengan ibu? Dia pasti akan mencariku dan siapa yang akan menjaganya selama aku dirawat di sini?" Almira mulai melunakkan suaranya. Tak lagi berteriak dan memakiku dengan nada tinggi.
Aku pun tersenyum lega mendengar jawabannya. "Kamu tenang saja! Untuk hal itu aku yang akan ke rumah dan mengatakan pada ibu bahwa kamu sedang sakit saat kuliah dan langsung dibawa ke rumah sakit. Jadi kamu tidak sempat pulang dulu. Bukannya kamu punya penyakit maag akut? Sakitmu itu bisa memicu GERD. Jadi, nanti aku akan mengatakan itu sama ibu dan aku juga akan mencarikan orang untuk menjaganya selama kamu tidak ada. Jadi, kamu tidak perlu khawatir!"
Almira tiba-tiba tertawa hingga suaranya terdengar memenuhi seisi ruangan. "Ternyata kamu memang sangat licik ya, Kak. Bisa-bisanya kamu berpikir seperti itu untuk menutupi kebohonganmu yang lain. Mencari alasan dalam hitungan detik. Sungguh, aku seperti tidak kenal sisi lain kakakku sendiri. Kamu bagaikan sosok penyihir yang begitu jahat seperti yang ada di film-film."
Ada rasa sakit yang seketika menelusup ke dalam hatiku saat Almira menyebutku sebagai penyihir jahat. Andai dia tahu jika aku tidak seperti ini, mungkin aku tidak bisa hidup sampai saat ini di tengah dunia malam yang liar dan begitu kejam.
"Apa kira-kira tindakan Mas Denis jika tahu kejahatan istrinya selama ini ya? Bahkan istrinya ini telah tega membunuh calon anaknya yang kukandung!" Almira seketika memasang wajah penasaran sambil berpikir dan itu sungguh membuatku kembali merasa kesal padanya.
__ADS_1
"Cukup, Mira! Jangan memancing kemarahanku lagi. Kamu cukup bilang pada Mas Denis yang sebentar lagi akan menjemputku bahwa kamu sakit GERD hingga harus dirawat di rumah sakit!" Kesabaranku mulai habis hingga membentak Almira dengan suara lantang.
Dengan tenang Almira menyilangkan kedua lengan di dadanya. "Kalau aku tidak mau?" Kedua mata Almira menentangku.
"Saat ini juga aku akan mencabut biaya perawatanmu biar kamu dikeluarkan secara paksa dari rumah sakit dalam kondisi rahim yang masih terluka. Jangan lupa seluruh biaya hidup, biaya pengobatan ibu, dan biaya kuliahmu akan aku hentikan juga. Aku tidak main-main, Mira! Satu kalimat saja kamu berani mengadu pada Mas Denis, selesai semuanya!"
Almira berdecak kesal mendengar ancamanku. Berkali-kali aku dengar jelas jika dia menghela napas panjang. Kedua tangannya kini terlihat meremas selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.
"Kak, apakah tidak pernah terlintas rasa penyesalan di hatimu? Apa kamu tidak takut dengan dosa dan karma yang bisa kapan saja menimpamu? Enggak semua masalah bisa diselesaikan dengan uang, Kak. Kebahagiaan juga tidak selalu berwujud materi dan kekayaan." Almira menatapku dengan pandangan mata yang sayu. Dia mencoba menyadarkanku dari semua kesalahan yang sudah kulakukan padanya. Namun, justru hatiku sama sekali tidak tersentuh.
"Selamat sore semuanya." Mas Denis masuk ke ruangan tanpa mengetuk pintu dan itu benar-benar membuatku terlonjak kaget karena tidak menyadari kedatangannya.
"Semoga saja Mas Denis tidak mendengar perdebatanku dengan Mira sejak awal tadi." Aku berharap dalam hati dan perlahan-lahan mulai bangkit dari posisi dudukku.
__ADS_1
Aku coba mengatur ekspresi wajahku agar tidak terlihat panik. Dengan ekor mata kulihat Almira mencebik dan diam-diam menertawakan kepanikanku.
Aku berdiri dan langsung menghampiri Mas Denis. Seperti biasa, Mas Denis memeluk tubuhku, mencium kening, dan juga kedua pipiku.
"Kamu enggak apa-apa, Sayang? Kamu pasti capek ya ngurusin Mira di rumah sakit."
"Enggak kok, Sayang. Terima kasih ya kamu sudah mau jemput aku." Mas Denis tersenyum saat mendengar keadaanku yang baik-baik saja.
Perhatian Mas Denis membuat Almira seketika memalingkan wajahnya. Entah karena apa, tetapi mungkinkah dia merasa cemburu saat melihat aku bermesraan dengan Mas Denis.
Bersambung ✍️
Halo, Bestie. Yuk baca juga novel Author yang lain, judulnya, Istri Satu Miliar. Seorang wanita yang harus terjebak dalam sebuah kontrak yang telah disepakati dengan atasannya. Hingga akhir, kesuciannya harus terenggut dan terjebak dalam perasaan antara benci juga cinta.
__ADS_1