
Selamat membaca!
Hari-hari yang aku lalui berjalan dengan sangat indah setelah malam itu. Malam yang aku lalui dengan air mata dan rasa sakit. Aku bahkan tidak pernah menanyakan pada Almira apa yang terjadi di malam itu karena aku merasa tidak akan sanggup mendengarnya. Jadi lebih baik aku menganggap bagian terkelam dalam hidupku itu tidak pernah terjadi. Walaupun Mas Denis sering membahasnya di hari-hari berikutnya tentang malam pertama yang dilewatinya dengan Almira, tetapi aku selalu memasang wajah malu dan marah sebagai senjata kuat hingga dia tak lagi membahasnya.
Saat ini, tepatnya di pagi yang terasa begitu dingin karena sejak kemarin Mas Denis memang mengajakku liburan di sebuah hotel yang berada di kawasan Puncak. Hotel yang memang sedang viral karena memiliki swafoto balon udara yang nyaris mirip dengan Cappadocia di Turki. Ya, itu adalah destinasi yang menjadi tempat impian yang ingin aku datangi bersama Mas Denis. Sayangnya, urusan bisnis menjadi alasan kenapa aku dan Mas Denis masih belum bisa terbang ke sana untuk melakukan bulan madu, walau sudah kami rencanakan sebelum hari pernikahan.
Pagi itu, rasa kantuk masih bergelayut manja di kedua pelupuk mataku. Membuatku sulit membuka mata, walau aku merasa beberapa kali Mas Denis sudah menggodaku dengan mencium bagian sensitif dadaku. Namun, itu hanya berlangsung singkat karena dia kembali membiarkan aku tertidur di balik selimut.
Hening yang aku rasa, seketika hilang saat suara Mas Denis mulai membangunku dari tidur. Aku pun coba membuka mata dengan perlahan. Melihat ternyata dia sudah duduk di tepi ranjang tepat di sampingku dengan membawa sebuah kue dan sebuket bunga besar yang terdiri dari ratusan bunga mawar yang tampak sangat indah.
"Apa ini, Mas?" Masih setengah sadar aku mengatakan itu.
"Happy anniversary yang ke 1 bulan, Sayang."
Seketika senyuman pun terulas dari kedua sudut bibirku. Senyuman yang dengan cepat merekah dan aku langsung memposisikan tubuhku untuk duduk di atas ranjang. "Terima kasih ya, Mas." Ungkapan itu terdengar begitu haru terucap.
Aku merasa sangat bahagia mendengarnya. Kebahagiaan yang membuatku semakin mudah menghapus kenangan buruk tentang malam pertamaku. Malam terkelam di mana aku hanya melewatinya dengan menangis dan merutuki diriku sendiri. Saat itu, membayangkan apa yang dilakukan oleh Almira dan Mas Denis adalah hal menakutkan yang tak ingin aku lakukan, bahkan hingga detik ini.
__ADS_1
"Ayo, make a wish dulu baru setelah itu kamu tiup lilinnya, Sayang!" pinta Mas Denis.
Aku kembali memejamkan kedua mataku. Berdoa dengan sungguh-sungguh dan berharap Tuhan akan mengabulkannya. Tak banyak yang aku pinta, aku hanya ingin selalu bahagia bersama Mas Denis dan tentu saja yang paling penting adalah agar rahasiaku di malam pertama itu tidak pernah terbongkar selamanya. Aku berharap semua itu benar-benar terkubur dan tak ada celah sedikit pun bagi Mas Denis untuk mengetahuinya.
Setelah selesai berdoa, aku mulai meniup lilin angka satu yang menancap gagah di atas kue red velvet kesukaanku. Mas Denis sepertinya sangat tahu keinginanku. Itu bisa dilihat jelas dari semua yang diberikannya pagi ini. Sebuket besar bunga mawar, ditambah kejutan kue anniversary sungguh kembali mengabulkan list harapanku yang semakin hari semakin tak ada lagi yang tersisa karena sejak bersama Mas Denis setiap impianku selalu bisa diwujudkannya.
"Mas, terima kasih ya." Kata-kata itu meluncur begitu saja terucap dari mulutku. Mas Denis pun langsung mencium keningku, lalu mengatakan sesuatu yang semakin membuatku terbuai dalam cintanya.
"Sama-sama, Sayang. Ini adalah awal perjalanan kita. Semoga seterusnya kita akan selalu bersama, tidak peduli seberapa banyak ujian di depan sana. Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Mas."
Setidaknya satu jam lamanya, aku dan Mas Denis saling bergelut di atas ranjang. Kini aku memutuskan untuk langsung beranjak menuju kamar mandi. Membersihkan tubuhku dari keringat yang sudah menempel pada kulitku. Keringat yang membasahi seluruh tubuhku karena permainan Mas Denis pagi ini sungguh benar-benar panas. Namun, baru beberapa langkah aku pergi, dering ponselku berbunyi.
"Siapa yang pagi-pagi begini menghubungiku ya?" tanyaku heran. Merasa penasaran aku pun mengambil ponselku yang tergeletak di atas nakas. Melihat layar pada ponsel dengan kedua alis yang saling bertaut. "Almira."
Tiba-tiba saat melihat nama adikku, jantungku menjadi berdetak tak beraturan. Ini sungguh berbeda dari perasaanku sebelumnya yang begitu tenang. Aku merasa seperti ada suatu hal buruk yang akan aku dengar jika aku menjawab teleponnya.
__ADS_1
"Sebaiknya aku tidak perlu menjawabnya." Aku mengabaikan panggilan itu. Kembali melanjutkan langkah kakiku dengan membawa ponsel ini ke dalam kamar mandi. Tentu saja aku tidak ingin meninggalkan benda pipih milikku di dekat Mas Denis yang bisa saja membangunkan tidurnya.
Di saat langkahku baru saja memasuki kamar mandi yang ada di sudut ruangan, sebuah pesan terkirim. Aku langsung membukanya. Melihat sebuah gambar yang seketika membuat kedua lututku melemah. Aku merasa tidak sanggup berdiri dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca. Menahan tangisan di dada yang semakin menyesakkan. "Ya Tuhan ... ini tidak mungkin." Saking lemahnya, aku pun sampai terduduk di lantai tepat di depan pintu masuk kamar mandi.
Saat ini, aku benar-benar tidak menyangka jika kebahagiaan yang telah berlangsung selama satu bulan antara aku dan Mas Denis terancam akan berakhir dengan adanya kabar yang disampaikan oleh adikku. Kabar yang tentu saja begitu mengejutkan karena aku sendiri benar-benar tidak menyangka jika pertukaran malam itu sampai membuat Almira hamil dan itu adalah anak suamiku.
"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Aku masih tak mampu berdiri. Beruntung Mas Denis tengah terlelap hingga dia tidak mengetahui jika aku sedang menangis terisak di dalam kamar mandi. Sulit rasanya bersikap baik-baik saja, tapi nyatanya aku harus berpura-pura seperti tidak apa-apa jika di depan Mas Denis.
Almira: Temui aku malam ini atau aku akan memberitahu suamimu tentang kehamilanku ini, Kak.
Ancaman itu seketika membuat amarahku kian meledak. Ingin rasanya aku langsung berpindah dari tempatku saat ini hingga dapat mengatakan secara langsung pada Almira bahwa dia sama sekali tidak boleh merenggut kebahagiaanku. Kebahagiaan yang membuatku begitu istimewa dalam satu bulan ini.
Di tengah kebimbangan dan tidak tau harus melakukan apa, lagi-lagi sebuah ide gila terbesit dalam pikiranku. Ide yang dengan cepat langsung aku tepis sejauh-jauhnya. Aku sungguh tidak ingin jika apa yang aku lakukan akan semakin menenggelamkanku hingga ke dasar dan itu bisa membuatku tersiksa dalam rasa bersalah yang berkepanjangan.
"Tidak akan, aku tidak akan pernah meminta Almira untuk menggugurkan kandungannya. Aku tidak boleh egois, lagi pula bayi itu tidak bersalah sama sekali," batinku sambil mengusap air mata di kedua pipi dan tetap berpikir tenang. Mencari solusi dari permasalahan yang sungguh terasa berat untukku.
Bersambung ✍️
__ADS_1
Baca juga novel, Aku Bukan Istri Mandul (Sudah Tamat). Kisah perjuangan seorang wanita melawan perselingkuhan dalam rumah tangganya. Sampai akhirnya, dia memutuskan untuk bercerai dan ternyata, kebahagiaannya di mulai setelah itu.