
Selamat membaca!
Setelah dibuai dengan jawaban Delano yang membuat hatiku berbunga-bunga, kami pun tiba di sebuah restoran mewah yang berada di pusat kota Jakarta. Delano terlihat memberikan kunci mobilnya pada petugas valet agar memarkirkan kendaraannya. Setelah itu dia langsung mengajakku masuk sambil menggenggam tanganku dengan erat.
Baru saja langkah kami tiba di lobi, seorang pelayan wanita sudah langsung menyambut kedatangan kami dengan sangat ramah.
"Tuan, Nona, mari saya antar."
"Terima kasih, Mbak." Delano menjawab sambil tersenyum. Ia lalu mengalihkan pandangan matanya dan mulai menatapku yang ada di sebelahnya. "Apa kamu suka tempat ini?"
"Apa itu sebuah pertanyaan, No?" Bukannya menjawab aku malah balik bertanya. Tentu saja aku meragukannya, bagaimana bisa Delano menanyakan hal itu sementara tempat yang aku datangi saat ini tampak begitu mewah dan elegan.
"Aku takut kamu enggak suka sama tempat yang aku pilih."
"Kamu bercanda, No. Enggak mungkin juga kalau aku enggak suka. Tempat ini mewah banget, No." Kedua mataku masih menatap wajah Delano yang terus menuntun langkahku semakin masuk ke dalam restoran.
"Syukurlah kalau kamu memang menyukainya."
"Terima kasih ya, No. Terima kasih karena kamu sudah repot-repot mencari tempat sebagus ini untuk kita dinner. Padahal aku tahu lho kalau kamu itu sedang sibuk-sibuknya dengan tanggung jawab baru sebagai CEO di perusahaan tempatmu bekerja sekarang, tapi kamu masih menyempatkan waktu untuk mencari tempat ini."
__ADS_1
Delano pun tersenyum. Mengangkat tanganku, lalu menuntunnya hingga dia mencium punggung tanganku dengan lembut. Membuat hatiku seketika berbunga-bunga, walau sebenarnya aku juga merasa malu karena Delano melakukannya di tempat umum seperti ini. Tempat di mana bukan hanya kami yang ada di sini, tetapi juga beberapa pasangan lain yang sudah lebih dulu tiba dan sedang menikmati dinner romantis mereka.
"Silakan duduk, Tuan, Nona!"
Rasa kagumku pun semakin bertambah tatkala melihat tempat yang sudah disiapkan oleh Delano begitu indah di mataku. Dari tempat ini, aku juga bisa melihat kilau lampu malam kota Jakarta yang sangat indah dan penuh warna.
"Bagaimana, Lissa? Apa kamu suka tempatnya?" Delano kembali bertanya di saat aku baru saja duduk menempati salah satu kursi di sampingnya.
"Semua ini kamu sendiri yang menyiapkannya?" tanyaku sambil menatapnya penuh decak kagum.
"Iya, Lissa. Aku sudah menyiapkan dari dua Minggu yang lalu. Ya sudah kita pesan makanan dan minuman dulu ya!"
"Ini hanya menu pembuka. Makanan utama dan minumannya sengaja aku belum pesan karena aku ingin kamu sendiri yang memesannya."
Akhirnya, aku dan Delano pun mulai mengatakan pesanan kami pada seorang pelayan yang sudah menunggu sejak tadi setelah kami selesai melihat-lihat berbagai menu yang tersedia di restoran ini. Restoran yang aku anggap sangatlah mewah. Bahkan menurutku, ini jauh lebih mewah dari saat Mas Denis menyiapkan dinner untukku. Namun, versi yang berbeda karena dia menyiapkan candle light dinner sebagai tema dinner kami waktu itu.
"Lissa, sebenarnya malam ini ada yang ingin aku sampaikan sama kamu, tapi aku bingung harus mengatakannya dari mana."
__ADS_1
"Kenapa, No?" tanyaku seketika menatapnya dengan cemas saat melihat raut wajah Delano kelihatan ragu mengatakannya.
"Jadi, begini ...." Delano sejenak menjeda perkataannya. Kulihat dia menarik napas dalam-dalam, lalu mulai mengembuskannya dengan perlahan. Entah apa yang ingin dia katakan, tetapi itu benar-benar membuatku mulai merasa takut bahwa apa yang akan dikatakannya malah akan menyakitkanku. Bahkan bukan tidak mungkin kebahagiaan yang baru aku rasakan saat ini bisa hilang dalam sekejap.
"Cepat katakan saja, No! Jangan membuatku takut. Kamu itu seperti ingin mengatakan--"
Belum selesai aku mengatakan itu, seorang pelayan tiba di meja kami dan langsung meletakkan pesanan kami. Satu gelas greentea dan fresh milk brown sugar jadi minuman favorit yang kami pesan malam ini.
"Sebenarnya aku ...." Entah kenapa Delano kembali menggantung perkataannya hingga membuatku merasa haus. Namun, di saat aku sedang meminum minumanku tiba-tiba aku menemukan sesuatu di dalam gelasnya.
"No, ini kok di dalam minumanku seperti ada sesuatunya, tapi apa ya?" Karena merasa heran, akhirnya aku pun mulai mengambilnya dengan sebuah sendok yang sudah aku masukkan ke dalam gelas.
Sampai akhirnya, aku dibuat terkejut saat benda itu terlihat oleh mataku. Sebuah cincin emas putih bermahkotakan berlian masih terlihat berkilau, walau ternoda air hijau dari minuman greentea.
"Cincin apa ini, No?"
"Sebenarnya aku ingin melamar kamu, apa kamu mau menikah denganku Lissa?"
Baru selesai Delano mengatakan itu, seorang wanita datang secara tiba-tiba dan berdiri di antara aku dan Delano. Wanita cantik yang baru pertama kali ini aku lihat. Namun, aku dapat mengetahui dari sorot mata Delano bahwa dia sepertinya sudah mengenal wanita itu.
__ADS_1
"Kamu tidak bisa melamarnya."
Bersambung ✍️