
Selamat membaca!
Melihat aku yang masih mengantuk, Mas Denis pun memilih untuk pergi ke kamar mandi karena aku mengingatkannya untuk bekerja di pagi ini. Bahkan setelah selesai mempersiapkan dirinya, Mas Denis langsung berangkat kerja tanpa membangunkan aku yang saat ini sedang pura-pura tidur karena merasa enggan jika mendengar suamiku sampai membahas apa yang kami lakukan tadi malam.
Jujur saja, suasana hatiku sangat buruk hari ini. Membuatku merasa tidak nyaman hingga aku jadi uring-uringan dan seperti ingin meluapkan kemarahan yang sejak semalam sudah aku tahan. Merasa bosan berada di kamar dengan perut yang terasa lapar, aku pun keluar dari kamar dan tiba di lantai bawah.
"Mbak, ini gimana sih? Masa ruang tamu berantakan begini? Apa kerja kamu sampai ruangan ini bisa kotor?" Suaraku terdengar penuh amarah saat langkahku tiba di ruang makan.
Mendengar amarahku, Inah langsung bergegas menghampiriku. Dia sampai terlihat ketakutan melihat wajahku saat ini, terlebih teriakanku tadi sudah membuatnya panik. Setelah tepat berdiri di hadapanku, Inah mulai mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang tamu, jemarinya mulai menyentuh beberapa benda untuk memastikan apa yang aku katakan.
"Maaf, Bu, tetapi tadi pagi-pagi sekali ruang tamu ini sudah saya bersihkan. Semuanya masih tertata rapi, tidak ada yang berantakan. Apa Ibu mau saya memindahkan letaknya supaya lebih enak dilihat dan beda dari sebelumnya?" Dia mengerutkan keningnya karena merasa heran dan coba menawarkan sesuatu yang tidak aku inginkan.
"Itu apa?" Aku langsung menunjuk sehelai tisu yang tergeletak di permukaan lantai.
"Oh ya ampun, sepertinya tisu itu jatuh dari kantong bapak. Tadi waktu mau berangkat kerja bapak ambil tisu buat ngelap sepatu di mobil katanya. Terus tisunya dimasukan ke kantong celana bapak. Mungkin enggak sengaja jatuh, Bu." Dengan logat Jawa yang medok Inah memberikan penjelasan.
"Alasan saja! Cepat ambil tisu itu dan buang ke tempat sampah!" Aku mengacungkan jari telunjuk ke tempat sampah kecil di dekat meja televisi.
Sebenarnya Inah tidak sekadar beralasan. Kebiasaan Mas Denis memang seperti itu. Dia akan mengambil sehelai tisu untuk membersihkan sepatunya begitu masuk mobil.
__ADS_1
Aku pun memulai sarapan pagiku yang sempat tertunda karena rasa kesalku imbas dari mood yang dirusak Mas Denis sejak semalam. Pagi ini Inah menyiapkan nasi liwet buatannya. Masakan Inah memang sangat cocok di lidahku. Nikmatnya tak kalah dengan masakan ibuku. Sambil menikmati makanan yang aku makan, aku pun coba menenangkan suasana hatiku yang sudah berantakan.
Selesai makan, aku duduk di sofa ruang tamu dan menyalakan televisi. Berita artis yang menjadi korban KDRT oleh suaminya membuatku merinding. Tak bisa kubayangkan bagaimana jika aku mendapat suami seperti itu. Beruntungnya aku mendapatkan Mas Denis yang selalu memperlakukanku seperti seorang ratu. Namun, ada satu hal yang aku sesali sampai saat ini, yaitu pemikiran Mas Denis jika wanita baik-baik adalah wanita yang mampu memberikan keperawanannya di malam pertama pada suaminya.
"Aku akan memperlakukan istriku seperti ratu jika dia masih perawan di malam pertama." Begitulah ucapan Mas Denis yang masih aku ingat jelas hingga detik ini.
Dan, faktanya kata-kata itu terbukti benar karena setelah mengetahui aku masih perawan di malam pertama kami, dia memperlakukan aku dengan begitu istimewa layaknya seorang ratu. Bukan hanya menuruti semua keinginanku, tetapi dia juga tidak pernah menyakitiku lewat sikap dan ucapannya. Selain itu, Mas Denis juga sangat menghormati dan menyayangi ibuku seperti orang tuanya sendiri. Begitu juga dengan Almira, Mas Denis menyayanginya seperti adik kandungnya.
Mengingat Almira, aku segera beranjak dari sofa untuk menjemputnya pulang dari rumah sakit sesuai janjiku terakhir kali bertemu dengannya. Tanpa membuang waktu, aku pun segera mengganti pakaianku dengan setelan casual yang simple karena memang mood-ku sedang tidak baik jika menggunakan pakaian yang terlalu ribet. Dan saat ini, pilihanku jatuh pada sepatu flat shoes berwarna senada dengan pakaianku yang bernuansa monochrome.
Tak lama kemudian, pintu kamarku terdengar diketuk sesaat aku selesai berpakaian. "Bu, pesanan taksi online-nya sudah datang." Inah bicara dari depan pintu untuk memberi tahuku dengan sopan. Tentu saja dia sangat hati-hati dalam bicara agar tidak lagi kena omelanku seperti beberapa menit yang lalu.
"Baik, Bu." Aku mendengar langkah Inah menjauh dari kamarku dan bersamaan dengan itu aku mengambil tas kecil, lalu menyimpan dompet dan ponselku di dalamnya.
Kurang dari semenit, aku keluar dari kamar. Melangkah dengan santai menyusuri koridor lantai dua rumahku menuju anak tangga.
"Inah, hati-hati di rumah ya. Saya jalan dulu!" Aku mengatakan itu sesaat setelah selesai menuruni anak tangga dan sudah tiba di lantai 1. Inah pun menjawab dengan ramah dan menemaniku hingga ke teras rumah.
Setelah membuka pintu depan, aku dapat melihat seorang pengemudi taksi sudah menungguku dengan berdiri di depan mobilnya. Aku pun langsung masuk diikuti oleh sang pengemudi setelah membuka dan menutup pintu untukku.
__ADS_1
Perjalanan pagi ini tidak diiringi drama kemacetan. Hanya dalam dua puluh menit aku sudah sampai di rumah sakit. Aku meminta sopir taksi online untuk menyelesaikan orderanku. Lalu aku menawarkannya untuk menunggu dan mematikan aplikasi karena aku akan menyewanya untuk mengantarkanku ke rumah ibu. Aku menjanjikan akan memberi dia bayaran yang lebih tinggi dari harga di aplikasi. Setelah deal, aku pun melangkah keluar dari taksi dan memasuki lobi rumah sakit.
Sebelum masuk ke ruang rawat Almira, aku menuju ruang administrasi untuk mengurus kepulangannya. Perawat di sana mengatakan bahwa dokter meminta Almira untuk melakukan kontrol jika ada keluhan pasca keguguran. Beberapa jenis obat diberikan padaku untuk Almira konsumsi saat di rumah.
Setelah segala urusan administrasi selesai, aku masuk ke ruangan Almira. Dia tampak sudah rapi mengenakan baby doll yang dibelikan oleh Mas Denis dan bersiap untuk pulang.
"Senangnya yang pake baju baru." Aku menyindir Almira karena merasa tidak rela jika dia harus menggunakan pakaian yang sudah dibelikan oleh suamiku. Mungkin kejadian pagi tadi telah merusak pikiranku hingga aku pun langsung menyeletuk kasar, padahal baru saja tiba di sana.
Mendengar perkataanku, Almira seketika menoleh ke arahku dan mulai melihatku. "Andai ada baju lain, aku juga malas mengenakan pakaian ini sebenarnya." Aku pun melihat Almira sedang melipat baju kotornya, lalu memasukkannya ke dalam sebuah paper bag berukuran sedang.
"Bukannya kamu senang pakai baju yang dibelikan oleh suamiku?" Aku duduk di sofa sambil terus melihat apa yang dilakukan oleh Almira.
"Maksudmu apa sih, Kak? Enggak usah cari gara-gara deh. Aku sudah menuruti kemauanmu, loh. Aku enggak bilang Mas Denis, apalagi sama ibu soal kehamilanku." Almira terlihat kesal hingga dia bisa berkata demikian. Nada suaranya hampir naik satu oktaf.
Aku pun hanya geleng-geleng kepala melihatnya yang semakin berani menentang ucapanku.
"Bagaimana rasanya diperawanin oleh Mas Denis?" tanyaku dengan cetus. Pertanyaan inilah yang sejak di rumah ingin aku tanyakan langsung pada Almira setelah mengetahui dari Mas Denis tentang malam pertama yang mereka lakukan.
Bersambung ✍️
__ADS_1