Wanita Pengganti Di Malam Pertama

Wanita Pengganti Di Malam Pertama
Permintaan Almira


__ADS_3

Selamat membaca!


Aku masih berpikir. Mencerna dengan baik maksud perkataan Mas Denis yang masih sulit aku mengerti. Semuanya seakan di luar logika. Bagaimana mungkin Almira pergi setelah dengan susah payah dia berhasil merebut Mas Denis dari aku?


"Sebenarnya apa yang menyebabkan Mira sampai meninggalkanmu, Mas? Apa kamu melakukan kesalahan? Pokoknya aku enggak terima ya kalau kamu sampai menyakitinya!" Entah kenapa langsung terlintas di pikiranku jika Mas Denis ada hubungan diam-diam dengan wanita lain hingga Almira mengetahui dan memutuskan pergi meninggalkannya.


"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, Lissa. Sebaiknya kamu baca dulu surat ini! Nanti kamu pasti akan paham semuanya." Mas Denis mengeluarkan sebuah surat yang dia ambil dari saku jaketnya. Surat yang tersimpan rapi di dalam sebuah amplop.


"Surat ... apa jangan-jangan Mira sengaja pergi meninggalkan Mas Denis karena tahu aku sudah bebas hari ini?" Dengan cepat aku mengambil surat yang Mas Denis sodorkan, lalu membuka amplop berwarna putih itu dan langsung mengeluarkan selembar kertas dari dalamnya.

__ADS_1


Aku pun mulai membaca isi surat itu, sementara Mas Denis hanya melihatku dengan raut wajahnya yang sendunya. Hingga detik ini, aku masih mengira jika kesedihannya adalah karena kepergian Almira, tetapi semua dugaanku ternyata salah.


"Aku minta maaf sama kamu ya, Lissa."


"Minta maaf untuk apa?" Aku sejenak mengalihkan pandangan mataku. Melihat Mas Denis yang tampak begitu menyesal saat menatapku.


"Minta maaf karena aku sudah membuatmu masuk penjara. Minta maaf karena aku sampai menceraikanmu. Seharusnya dulu aku lebih percaya sama kamu dan memberikan kesempatan untuk kamu menjelaskan semuanya."


"Jangan-jangan dia sudah membongkar rahasianya sendiri pada Mas Denis. Berarti sekarang Mas Denis sudah tahu semua kebohongan Mira, tapi apa alasannya? Kenapa dia sampai melakukan semua itu?" batinku kembali membaca surat yang masih berada dalam genggamanku.

__ADS_1


"Halo, Kak. Kakak apa kabar? Pasti sekarang Kakak sedang bahagia karena sudah bebas dari penjara. Selamat ya, Kak. Selamat atas kebebasan Kakak dan aku harap setelah hari ini Kakak bisa menata kembali hidup Kakak dengan bahagia. Sebelumnya aku juga minta maaf sama Kakak karena aku sudah merampas semua kebahagiaanmu. Aku akui, aku salah. Aku egois karena tidak memikirkan bagaimana keadaanmu di penjara. Tapi beberapa hari setelah sidang putusan itu, aku benar-benar merasa bersalah karena telah membuat Kakak sampai mendekam di dalam penjara, padahal kita itu satu keluarga. Jujur, Kak, aku sulit melupakan kejadian itu. Kejadian di mana aku kehilangan janin dalam kandunganku karena perbuatanmu. Dan sejak itulah, aku terus dihantui rasa bersalah hingga membuatku sampai gelap mata dan berniat merebut Mas Denis dari Kakak. Kalau menurutmu aku sudah menang, itu salah besar, Kak. Mas Denis memang menikahiku, tapi aku sama sekali tidak pernah bisa memiliki hatinya. Aku bisa merasakan jika Mas Denis benar-benar kehilangan Kakak. Bahkan selama menikah denganku, kami jarang sekali berhubungan suami-istri, Kak. Sampai pernah suatu ketika saat Mas Denis pulang dalam keadaan mabuk, dia langsung menyentuhku dan nama yang dia panggil saat kami bercinta bukanlah namaku, tapi nama Kakak. Dari situlah aku tahu bahwa selama ini Mas Denis masih sangat mencintaimu, Kak. Mungkin dia terpaksa menikah denganku hanya karena ingin menebus kesalahannya karena telah merenggut kesucianku, padahal menurutku itu tidak perlu dilakukannya. Dan sekarang, aku sadar bahwa kebahagiaan yang aku rasakan bukanlah milikku, makanya aku memutuskan untuk pergi dan mengembalikan apa yang sudah aku rebut dari Kakak. Tapi, aku tidak bisa membawa Keisha bersamaku. Jadi, aku harap Kakak mau menjaga anakku seperti anak Kakak sendiri dan kembali hidup bersama Mas Denis. Kakak juga enggak perlu mencari aku, mungkin saat Kakak membaca surat ini aku sudah pergi jauh dari Jakarta. Oh ya, satu lagi, aku juga telah mengakui semua kesalahan dan dosa yang telah aku perbuat pada Mas Denis juga ibu. Jadi, Kakak tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi sama mereka. Sudah dulu ya, Kak. Aku harap Kakak mau memaafkan aku."


Selesai membaca surat dari Almira, bulir bening tiba-tiba lolos begitu saja dari kedua mataku yang sejak tadi sudah berkabut. Aku benar-benar menangis. Masih terasa piluh saat mengingat setiap kalimat yang ditulis oleh adik kembarku, padahal bukan hanya dia yang bersalah, tetapi aku juga bersalah dalam hal ini. Bahkan kalau saja aku tidak memulainya duluan, semua kejadian ini tidak akan mungkin terjadi.


"Kita harus mencari Mira, Mas! Aku tidak akan membiarkannya pergi. Kenapa dia bisa berpikir sebodoh itu? Apa dia sama sekali tidak memikirkan bagaimana anak kalian?"


"Aku sudah coba memerintahkan orang untuk mencarinya, tapi hingga detik ini, aku masih belum bisa mendapatkan kabar di mana Mira berada."


Mendengar situasi itu, aku hanya bisa mengembuskan napas dengan kasar sambil mengusap air mata yang masih begitu saja lolos membasahi kedua pipiku. Jujur saja, aku tidak pernah menyangka jika Almira sampai melakukan hal itu. Ini di luar nalarku dan tentu saja aku menolak permintaan Almira untuk kembali bersama Mas Denis. Selain karena di hatiku sudah tak lagi ada cinta untuknya, aku juga tidak ingin merebut kebahagiaan Almira. Bagaimanapun caranya aku harus menemukannya, tak peduli seberapa jauh dia pergi, aku yakin jika waktunya tiba nanti, kami pasti akan dipertemukan kembali.

__ADS_1


Bersambung ✍️


__ADS_2