Wanita Pengganti Di Malam Pertama

Wanita Pengganti Di Malam Pertama
Menjalankan Rencana


__ADS_3

Selamat membaca!


Keesokan harinya aku meminta izin pada Mas Denis lagi untuk menemui Almira. Aku beralasan ingin tahu bagaimana orang yang dipilih Almira untuk membantunya merawat ibu. Namun, kali ini Mas Denis tidak mengizinkan aku naik taksi online. Dia meminta salah seorang sopir di kantornya untuk mengantarku menggunakan mobil perusahaan. Sejak beberapa menit yang lalu mobil dan sopirnya sudah datang.


Setelah masuk ke mobil, aku pun langsung mengatakan ke mana tujuanku.


"Tapi tadi kata bapak saya disuruh mengantar Ibu ke rumah mertuanya. Kok sekarang malah ke restoran, Bu? Nanti kalau bapak tanya bagaimana? Saya harus bilang apa?"


Rupanya Mas Denis hendak mengawasiku dengan mengirimkan sopir ini untuk mengantarku pergi. "Saya mau bertemu adik saya di sana. Kebetulan hari ini adik saya bilang dia ada kuliah. Jadi ketemunya minta di sana karena dekat kampusnya." Aku memberikan alasan yang masuk akal agar dia mempercayaiku.


Sopir paruh baya itu pun menganggukan kepala. Entah dia percaya atahu tidak dengan alasanku. Kini mobil pun mulai melaju keluar dari pelataran rumahku.


Saat tiba di lobi restoran, kebetulan Almira baru saja datang dan melintas tepat di depan mobil yang aku tumpangi.


"Nah, itu adik saya, Pak. Jadi Bapak bisa mengatakan pada suami saya jika saya memang bertemu dengan adik saya di sini." Aku menunjuk ke arah Almira yang ternyata melihat keberadaanku di dalam mobil. Memang aku sengaja membuka kaca mobil saat dia melintas di dekat mobil ini agar dia bisa melihatku.


"Wah mirip banget sama Ibu. Kembar ya, Bu?" Sopir itu terlihat membagi pandangannya antara melihatku dan juga Almira. Aku jelas melihat jika dia seperti terkejut dan mungkin ini pertama kalinya dia melihat dua orang kembar secara langsung.


 


"Iya, Pak. Kami memang kembar." Tanpa menunggu sang sopir membuka pintu mobil, aku lebih dulu membukanya dan tak lupa aku mengucapkan terima kasih padanya. Aku pun bergegas pergi. Menghampiri Almira yang sudah menungguku di depan pintu restoran, lalu merangkulnya ketika aku sudah berada tepat disampingnya. Kami pun memasuki restoran dengan begitu akrabnya. Terlihat dari pandangan orang, tapi sebenarnya itu hanya akting semata agar sopir yang diperintahkan suamiku untuk mematai-mataiku melaporkan hal yang baik padanya.

__ADS_1


"Tumben merangkul aku, Kak?" Almira memicingkan sudut matanya menatapku sinis.


Aku pun terkekeh singkat sambil memperhatikan mobil sopir itu yang sudah tak lagi terlihat oleh pandangan mataku. "Enggak apa-apa. Memangnya enggak boleh kakak-adik itu jalan saling merangkul."


"Enggak aneh, tetapi tumben." Almira hanya tersenyum tipis menanggapi jawabanku.


Setibanya di dalam restoran aku langsung melepaskan tanganku dari bahu Almira. Kami hanya berjalan beriringan menuju sudut favorit tiap kali kami ke sini. Belum lagi sampai ke tempat duduk yang aku incar, seseorang memanggil Almira. Rupanya itu adalah teman kuliahnya. 


"Kamu mau pesan apa? Biar aku pesankan dulu," tanyaku sebelum dia menemui temannya. 


"Jus alpukat saja seperti biasa." Almira menemui temannya terlebih dulu di meja lain. Sementara aku, kini sudah menempati satu kursi dan memilih duduk dengan membelakangi Almira. Tanpa membuang waktu, aku langsung memanggil seorang pelayan dan memesan dua minuman yang sama untuk memuluskan rencanaku.


"Kamu mau pesan apa lagi?" tanyaku begitu dia duduk disebrangku.


Dengan rasa tak percaya Almira menatapku dengan kening berkerut. "Aku kok jadi curiga ya, kenapa Kakak jadi bersikap baik padaku seperti ini. Jangan-jangan ada hal buruk yang ingin Kakak lakukan padaku ya?" Almira menatap ke arah minuman yang ada di depannya sambil membagi pandangannya dengan melihatku. Tatapan mata yang penuh kecurigaan kini tertuju padaku.


Meski merasa kesal dengan tuduhannya, aku tetap menampilkan senyum terbaik untuk menepis kecurigaan Almira. Walaupun sebenarnya tuduhan itu benar, tapi aku memang sudah menyiapkan semuanya dengan matang agar Almira tidak bisa mengetahuinya.


"Ah, kamu terlalu berpikir buruk. Selama ini juga aku baik sama kamu, kan? Jadi apanya yang aneh?" Aku coba lebih meyakinkannya dan yang aku lakukan adalah menukar jus alpukat kami, lalu tanpa keraguan langsung meminumnya. "Lihat, aku baik-baik saja! Tidak ada apa pun yang terjadi padaku, kan?"


Setelah berhasil meyakinkannya, aku mulai menulis pesananku di sehelai kertas yang disediakan oleh pelayan restoran. Begitu juga dengan Almira yang kini sudah menentukan apa yang ingin dipesannya.

__ADS_1


"Pelayan." Tak lama kemudian seorang pelayan datang setelah mendengar panggilanku dan dia mengambil pesanan yang sudah selesai ditulis oleh Almira. Setelah menyebutkan ulang semua pesanannya, dia pun pergi dengan senyum ramahnya.


Sambil menunggu pesanan kami datang, Almira dengan tidak sabar bertanya, "Bagaimana, Kak? Sudah disampaikan pada Mas Denis soal kehamilanku?" Dia menyatukan kedua tangannya bertumpuk di atas meja. Menatapku dengan sedikit tajam dan aku tahu dia ingin aku berkata jujur padanya.


Masih dengan topeng manis di wajahku, aku menggelengkan kepala. "Masih belum. Aku masih belum menemukan waktu yang pas untuk membicarakan soal kehamilanmu dengan Mas Denis. Dia sangat sibuk akhir-akhir ini."


Almira menatapku dengan sorot mata yang lebih tajam dari sebelumnya. "Omong kosong. Aku tahu memang Kakak saja yang tidak ingin memberi tahu Mas Denis. Sesibuk apa pun, dia selalu menyempatkan waktu untuk bicara dengan Kakak saat malam menjelang tidur, kan? Jadi bukankah terlalu mengada-ada jika Kakak menjadikan kesibukan Mas Denis sebagai alasan?"


Sebenarnya aku tahu jika dia tidak akan mudah percaya dengan apa yang aku katakan. Ya, setidaknya aku sangat hafal karakter adik kembarku hingga membuatku tahu harus bersikap apa di depannya saat ini. Namun, aku sedikit terkejut saat Almira tahu kebiasaan yang sering dilakukan oleh suamiku menjelang tidur. 


"Meskipun hanya semalam aku tidur dengan Mas Denis, tapi aku tahu apa saja kebiasaannya saat menjelang tidur. Betul begitu kan, Nyonya Denis?" sambung Almira mencebikkan bibirnya seolah mengejekku.


Aku pun tertawa untuk menepis kemarahanku. Kurang ajar sekali Almira bisa menyebutkan dengan tepat kebiasaan Mas Denis menjelang tidur.  


Sebelum aku menyanggah ucapannya, seorang pelayan datang mengantarkan pesanan kami. Pelayan itu pun langsung meletakkan zuppa soup dan sepiring potongan buah di hadapan Almira juga macaroni schoteel di depanku. 


Dalam diam kami pun menikmati sarapan pagi yang terlambat. Aku baru saja makan beberapa sendok macaroni schootel dan tak lama kemudian, aku mulai mendengar suara Almira mengerang kesakitan sambil memegangi bagian perutnya beberapa saat setelah menyeruput jus alpukat yang sudah aku tukarkan tadi. Wajahnya kini mulai memucat dan itu sedikit membuatku merasa iba.


"Efek obatnya sudah mulai bereaksi. Ya Tuhan, ternyata aku benar-benar bisa berbuat sejahat ini? Maafkan aku, Al. Seandainya kamu tidak keras kepala, mungkin hal ini tidak perlu terjadi," batinku yang sebenarnya merasa sedih saat melihat Almira kesakitan.


Bersambung ✍️

__ADS_1


__ADS_2