Wanita Pengganti Di Malam Pertama

Wanita Pengganti Di Malam Pertama
Bagaimana Mungkin?


__ADS_3

Selamat membaca!


Saat ini, aku masih menunggu dengan cemas apa yang akan dikatakan oleh Meisya. Jujur saja, aku tidak menduga jika dia akan mengajukan syarat untuk memaafkanku. Hal yang sama sekali tidak terbesit sedikit pun dalam pikiranku, terlebih saat di perjalanan Delano sempat mengatakan padaku jika Meisya sudah memaafkanku, walau memang itu hanya didengarnya dari perkataan Fadhly saja.


"Sayang, untuk apa syarat-syarat segala. Katanya kamu sudah maafin Lissa, terus sekarang, kenapa kamu harus memintanya melakukan sesuatu untuk kamu?"


Aku masih dapat mendengar protes yang dikatakan oleh Fadhly, walau dia sudah berbisik mengatakan itu di depan telinga istrinya.


"Kamu tidak perlu ikut campur. Aku sengaja berbohong agar dia datang ke rumahku. Kalau tidak seperti itu, dia pasti tidak akan datang dan aku tidak akan punya kesempatan untuk bertemu dengannya." Sorot mata Meisya tampak begitu tajam. Dia menatap Fadhly seperti menyimpan kemarahan yang dapat terlihat jelas dari kedua matanya.


Jujur saja aku merasa gelisah saat mendengar Meisya kelihatan sangat membenciku. Namun tiba-tiba, Delano menggenggam tanganku. Aku pun menoleh. Menatap dengan wajah yang masih tanpa ekspresi.


"Jangan takut ya, Sayang, ada aku di sini!" Delano tersenyum. Membuat kedua sudut bibirku ikut tertarik hingga membentuk senyuman yang seketika terulas saat rasa gelisah dalam diriku perlahan mulai pergi. Ya, ucapan Delano bagaikan sihir yang mampu menenangkanku.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan perdebatan singkat dengan Fadhly, Meisya kembali memanggilku. Suaranya masih terdengar lantang sama seperti saat bicara dengan suaminya. Dia begitu tegas dan jauh dari kata ramah sebagai tuan rumah. Mungkinkah keputusanku datang adalah sebuah kesalahan. Walaupun tidak pasti, setidaknya sempat terbesit dalam pikiranku tentang hal itu.


"Jadi, sebelum aku mengatakan apa yang harus kamu lakukan? Aku ingin bertanya lebih dulu sama kamu. Menurut kamu, seberapa pentingnya maaf dariku untuk hidupmu?"


Aku coba bersikap tenang. Masih menggenggam tangan Delano yang juga tengah melihat Meisya sama seperti diriku. "Sangat berarti. Karena dengan maaf itu, aku bisa merasa tenang dan tidak akan lagi dihantui rasa bersalah, apalagi aku tahu karena kesalahanku, kamu sampai kehilangan anak dalam kandunganmu."


Meisya tampak tersenyum. Senyuman sebelah sudut bibirnya itu seperti menyimpan sebuah rencana yang menakutkan. Entah apa itu. Namun, sulit rasanya membaca apa yang dia pikirkan saat ini.


"Cepat katakan saja! Aku pasti akan melakukannya agar kita tidak ada lagi urusan apa pun ke depannya." Aku coba memaksa Meisya agar berhenti mengulur-ngulur waktu dengan berbagai pertanyaan yang menurutku hanya sekadar basa-basi.


"Tenang, Lissa! Jangan buru-buru!" Meisya terlihat berdiri dari posisi duduknya. Lalu, tanpa melihatku lagi, dia pun melangkah menuju dapur yang ada di sisi kanan ruang tamu.


"Sebenarnya apa yang sedang direncanakannya?" gumamku masih dipenuhi tanda tanya.

__ADS_1


"Delano, Lissa, maafin istri saya ya. Kalian tenang saja, saya jamin tidak akan ada hal buruk yang harus Lissa lakukan," ucap Fadhly yang mungkin merasa tidak enak dengan sikap istrinya.


"Iya, Pak. Saya paham bagaimana perasaan Ibu Meisya. Dia pasti sangat sulit memaafkan istri saya setelah apa yang terjadi dalam hidupnya. Hanya saja, mau bagaimanapun juga, semua itu hanyalah masa lalu. Lagi pula menurut saya yang salah dalam hal ini bukan hanya Lissa saja, tetapi Anda juga harus ikut bertanggung jawab atas semuanya. Sekali lagi saya minta maaf kalau sudah lancang mengatakan hal ini."


"Tidak apa-apa, No. Saya juga benar-benar menyesal atas semua yang terjadi di masa lalu. Tapi kamu tenang saja! Saya pasti akan memberi pengertian pada istri saya lagi agar dia bisa memaafkan Lissa."


Setelah beberapa menit pergi, dia pun kembali. Membawa segelas jus alpukat tepat di tangan kanannya. Minuman yang seketika mengingatkanku dengan apa yang dipesan oleh Almira saat aku merencanakan akan membunuh anak dalam kandungannya waktu itu. "Jangan-jangan ...." Aku hanya bisa menerka-nerka dalam hati tanpa berniat memberi tahu Delano tentang apa yang aku pikirkan. Jujur saja karena memikirkan hal itu, aku benar-benar merasa sangat cemas. Bagaimanapun juga, aku harus mendapatkan maaf dari Meisya agar aku tidak lagi dihantui oleh rasa bersalah karena masa laluku. Masa lalu yang sering membuat tidurku jadi tidak tenang.


"Kenapa kamu kelihatan gugup sampai berkeringat seperti itu? Apa pendingin ruangan di rumah ini kurang dingin?" Meisya mulai duduk di tempatnya semula setelah meletakkan segelas jus alpukat itu ke atas meja yang ada di antara kami.


Sementara aku, masih menerka-nerka sambil terus melihat senyum licik di kedua sudut bibirnya. Dia tidak bersikap seperti malaikat yang akan memaafkanku, melainkan seperti iblis yang hanya ingin menuntut balas.


Bersambung ✍️

__ADS_1


__ADS_2