
Selamat membaca!
Hari yang selalu aku nantikan akhirnya tiba. Hari di mana aku benar-benar akan menjadi seorang ibu. Ya, tepat hari ini, aku mulai merasakan kontraksi secara teratur sejak semalam. Mulai dari setengah jam sekali hingga semakin lama, kontraksi yang aku rasakan mulai terjadi 15 menit sekali. Namun, aku tidak sendiri, Delano selalu menemaniku. Dia turut membantuku dalam mengurangi rasa sakit yang aku rasakan dengan mengusap bagian belakang perutku dan tetap terjaga menemaniku sepanjang malam.
"No, kamu ngantuk enggak?" tanyaku menatap wajah Delano dengan kantong mata yang terlihat menghitam.
"Ngantuk sih sebenarnya, tapi enggak mungkin juga aku tidur di saat kamu sedang kesakitan. Lagi pula sebentar lagi pagi, nanti kita langsung ke rumah sakit ya."
Begitulah Delano, dia benar-benar sangat peduli padaku. Perhatiannya bisa membuatku jadi merasa kuat menuju persalinan pertamaku. Menahan rasa sakit kontraksi yang sangat menyakitkan hingga terasa hampir di seluruh bagian tubuhku. Bukan hanya melilit dan kadang-kadang terasa kram, tetapi bagian belakang perutku juga terasa begitu panas hingga sulit aku jabarkan apa yang kini aku rasakan. Rasanya seperti nano-nano. Jadi, beginikah perjuangan ibuku saat melahirkan aku dan Almira? Oh Tuhan, aku sungguh menyesal karena sempat beberapa kali mengecewakan ibu di saat masih sekolah.
__ADS_1
"Kamu yang kuat ya, Sayang. Aku pasti akan selalu menemanimu sampai anak kita lahir." Delano merengkuh tubuhku. Menyandarkan kepalaku pada bagian dadanya sambil mengusap lembut pucuk kepalaku bermaksud membuat aku sejenak tertidur. Dia tahu aku tidak bisa terpejam sejak jam 11 malam. Sementara kini waktu sudah menunjukkan pukul 4 pagi.
Waktu berlalu dengan begitu lambat bagiku. Sampai akhirnya, persalinan yang menjadi puncak dari kontraksi yang aku rasakan sejak semalam kini akan berlangsung dalam beberapa menit ke depan. Ya, saat ini, aku sudah berada di ruang persalinan di mana para suster dan dokter sedang bersiap melakukan tindakan.
"Kamu yang kuat ya, Sayang." Delano sudah kembali menemaniku setelah sempat pergi mengurus administrasi yang aku butuhkan. Selain disemangati oleh Delano, ucapan Keisya sebelum aku pergi ke rumah sakit sewaktu di rumah juga menjadi kekuatan tersendiri bagiku. Aku harus kuat. Aku harus bisa melahirkan anak ini dengan selamat dan mewujudkan harapan Keisya.
"Siap ya, Bu." Seorang dokter wanita kini sudah berdiri tepat di depan kedua kakiku yang sudah terbuka lebar atas perintahnya.
"Ayo, Lissa, sedikit lagi." Kata-kata itu yang terdengar dari mulut Delano saat aku seperti ada di antara rasa sakit dan hampir menyerah. Entah kenapa aku seperti kehilangan tenaga. Namun, kecupan Delano tepat di keningku membuat aku seperti mendapatkan suntikan tenaga hingga aku kembali kuat untuk mengejan setelah sempat terhenti, padahal dokter sempat mengatakan bahwa aku tidak boleh berhenti karena kepala anakku sudah terlihat.
__ADS_1
Selang beberapa detik aku mengerahkan sisa tenagaku dengan keringat yang hampir membasahi wajahku, suara tangisan bayi mulai terdengar keras. Ya, aku berhasil, walau harus susah payah melewatinya.
"No, anak kita ...." Sambil meletakkan kepala yang sempat terangkat, aku pun terbaring lemah dengan kedua kaki yang masih tetap pada posisinya semula.
"Iya, Sayang. Anak kita sudah lahir. Anak kita laki-laki, Sayang."
Kebahagiaan itu seketika menutupi rasa sakit yang masih aku rasakan di area intimku. Aku pun tersenyum, menatap Delano dengan kedua mataku yang sayu. Rasanya lelah sekali hingga membuat aku ingin tertidur. Namun, Delano tetap membuatku terjaga. Ya, melihat apa yang dia lakukan sejak semalam, aku benar-benar yakin bahwa Delano memang suami terbaik yang aku miliki. Laki-laki paling istimewa yang Tuhan berikan sebagai pendamping hidupku. Bukan hanya menerima masa laluku, dia juga tidak menjadikan masa laluku sebagai alasan untuk menyakitiku karena dia selalu memperlakukan aku layaknya seorang ratu.
"Terima kasih, Tuhan. Terima kasih atas anugerah ini. Kebahagiaanku sekarang akan semakin sempurna dengan kehadiran anak pertamaku," batinku merasa sangat bersyukur dengan apa yang terjadi dalam hidupku saat ini.
__ADS_1
Lanjut ke bonus chapter 2
...Jangan lupa, Bestie. Baca juga, One Night Destiny ya. Terima kasih....